Konten dari Pengguna

Self-sabotage: Jangan-jangan Kita yang Membuat Diri Kita Ngga Sukses

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jefa Febria Mahendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustari orang lelah (sumber: pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustari orang lelah (sumber: pixabay.com)

Sebagai manusia pastinya kita sering sekali merasa ingin melakukan sebuah aktivitas tetapi ada saja alasan dibaliknya yang membuat kita tidak jadi melakukan kegiatan tersebut, entah itu karena malas atau karena alasan-alasan negatif lainnya. Hal tersebutlah yang membuat kita sering merasa malas untuk melakukan aktivitas ataupun menunda-nunda pekerjaan kita.

Taukah kalian kalau kebiasaan menunda-nunda pekerjaan dan mengalami kesulitan mengatur waktu itu ternyata termasuk ke dalam perilaku self sabotaging dan bisa berdampak buruk bagi kehidupan, loh. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor dan ada kaitannya dengan pola pengasuhan di masa kecil.

Lantas, apa arti dari istilah self-sabotage tersebut? Apa dampaknya dan bagaimana cara untuk mengatasinya? Mari kita tahui lebih lanjut terkait self-sabotage dan cara mengatasinya dengan tepat.

Lebih Mengenal Self-sabotage

ilustrasi orang berfikir (sumber: pixabay.com)

Self-sabotage adalah perilaku atau tindakan yang seseorang lakukan untuk menghambat atau merugikan dirinya sendiri. Ini bisa berbentuk kebiasaan, pola pikir, atau tindakan yang dapat menghalangi pencapaian tujuan atau kebahagiaan pribadi. Perilaku ini dapat menghambat kemajuan seseorang dan menghalangi dirinya untuk mencapai kesuksesan. Self-sabotage juga dapat dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar.

Beberapa bentuk self-sabotage melibatkan perilaku destruktif seperti menunda-nunda, meremehkan diri sendiri, menghindari tanggung jawab, atau bahkan berbuat buruk pada diri sendiri melalui kebiasaan yang sebenarnya buruk bagi dirinya sendiri ataupun bukanlah jalan keluar terbaik untuk dilakukan. Pola-pola ini dapat menciptakan lingkaran setan di mana individu terus-menerus merusak peluang mereka untuk berkembang dan mencapai potensi mereka, serta dapat mempengaruhi kesehatan fisik hingga mental individu tersebut.

Self-sabotage bukanlah hal yang harus diwajarkan, melainkan self-sabotage ini harus sangat diperhatikan dan ditinjau lebih lanjut untuk mengurangi hal-hal yang akan disesali kedepannya. Mengenali pola self-sabotage adalah langkah awal yang penting untuk mengubahnya. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri.

Penyebab Self-sabotage

ilustrasi orang malas (pixabay.com)

Perilaku self-sabotage sendiri bisa disebabkan oleh hal yang sangat bervariasi dan kompleks, dan setiap individu mungkin memiliki kombinasi faktor yang berbeda. Beberapa penyebab umum dari self-sabotage melibatkan aspek psikologis, emosional, dan bahkan neurobiologis. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan self sabotage:

1. Ketidakpercayaan Diri

Orang yang memiliki kepercayaan diri atau harga diri yang rendah sangat rentan terhadap self-sabotage. Mereka rentan merasa tidak panas untuk sukses atau bahagia. Ini dapat menghasilkan perilaku self -sabotage sebagai cara untuk mengonfirmasi keyakinan negatif tentang diri sendiri.

2. Takut akan Kegagalan

Beberapa orang yang merasa takut gagal dalam berbagai hal, secara tidak langsung dapat memunculkan self-sabotage untuk menghindari kegagalan tersebut. Mereka cukup khawatir bahwa jika mereka mencoba sesuatu yang baru, mereka berfikir bahwa mereka akan gagal, dan rasa takut itulah yang dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan seseorang secara signifikan.

3. Trauma Masa Lalu

Pengalaman traumatis di masa lalu dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan masa depan. Perilaku self-sabotage dapat menjadi coping mechanism atau reaksi tidak sadar terhadap rasa takut atau rasa sakit emosional yang belum terselesaikan.

4. Kurangnya Dukungan Emosional

Seseorang dapat merasa tidak dihargai atau tidak penting dalam lingkungan yang tidak memberikan dukungan emosional yang cukup, seperti kurangnya perhatian, dukungan, atau pengakuan. Hal ini dapat memicu self-sabotage sebagai cara untuk menanggapi perasaan tidak aman atau rendah diri.

Bahaya Self-sabotage

ilustrasi orang stress (pixabay.com)

Membiarkan diri terjebak dalam self sabotaging, nantinya akan berdampak buruk bagi kualitas hidup. Self-sabotage dapat memiliki konsekuensi yang serius dan berbahaya terhdapa kesejahteraan pribadi, baik secara emosional, mental, maupun fisik. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kehilangan Peluang

Dengan menghambat diri sendiri dan menunda-nunda pekerjaan, seseorang dapat melewatkan peluang yang berharga dalam kehidupan. Kegagalan dan ketidakberanian untuk mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan karir menjadi lebih positif.

2. Kegagalan Pencapaian Tujuan

Self-sabotage dapat menghalangi kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan pribadi dan professional. Orang yang terus-menerus menghambat diri mereka sendiri mungkin akan mengalami kegagalan dalam meraih impian atau mencapai potensi penuh mereka.

3. Kesehatan

Self-sabotage dengan menunda pekerjaan dapat berbahaya bagi kesehatan. Ini terbukti ketika seseorang melakukan hal lain yang kurang penting daripada yang seharusnya mereka lakukan. Waktu yang terus berlalu tanpa terasa dan deadline untuk tugas sudah mepet. Akibatnya, orang harus begadang sepanjang malam untuk menyelesaikan tugas tersebut. Hal ini pasti dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Tips Mengatasi Self-sabotage

ilustrasi menyambung puzzle (pixabay.com)

Self-sabotage juga bisa membawa ke perilaku negatif lainnya seperti minum minuman keras, memakai obat-obatan, melakukan perjudian, hingga melukai diri sendiri. Menurut psychologytoday.com, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan utuk mengatasi self-sabotage.

1. Ketahui Diri Sendiri

Untuk memutus siklus self sabotage, sangat penting untuk mengenali pemicu dan pola-pola yang merugikan diri sendiri.

2. Lebih Nyaman dengan Kegagalan

Self-sabotage bisa berasal dari rasa takut akan kegagalan atau penolakan, yang dapat membuat seseorang menghindar untuk mencoba hal-hal yang sulit. Jika orang tersebut tidak mencoba, maka ia tidak akan gagal. Dalam hal ini, secara tidak sadar orang tersebut menyabotase diri sendiri.

3. Berlatih Untuk Menerima

Seseorang dapat mencba melatih penerimaan dengan mengatakan hal-hal seperti “Apa yang terjadi di masa lalu tidak dapat diubah. Saya dapat bereaksi secara berbeda sekarang”.

4. Mindfulness

Ketika seseorang memfokuskan kesadaran dengan cara yang tidak menghakimi pada beberapa pemicu atau perilaku yang mengarah pada self-sabotage, maka ia tidak hanya dapat belajar lebih banyak tentang dirinya sendiri, tetapi juga menghasilkan lebih banyak pemahaman diri.