Historiografi Tradisional: Karakteristik dan Relevansinya
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Historiografi tradisional menjadi bagian penting dari khazanah penulisan sejarah Nusantara sebelum pengaruh Barat masuk. Metode penulisan ini memiliki ciri khas tersendiri yang mencerminkan cara pandang masyarakat masa lalu dalam merekam peristiwa. Berbeda dengan historiografi modern yang mengedepankan objektifitas dan kritik sumber, historiografi tradisional lebih menekankan fungsi sosial dan budaya dalam masyarakatnya. Memahami karakteristik dan relevansinya dapat membuka perspektif baru dalam kajian sejarah Indonesia yang lebih komprehensif.
Pengertian dan Karakteristik Historiografi Tradisional di Nusantara
Menurut artikel Historiografi Tradisional di Nusantara: Karakteristik, Perkembangan, dan Relevansinya dalam Kajian Sejarah Indonesia oleh Nisfi Rahmadhani dan Etmi Hardi, Historiografi tradisional merupakan tradisi penulisan sejarah yang berkembang di Nusantara sebelum pengaruh Barat masuk. Penulisan ini mencerminkan sistem nilai, pandangan dunia, dan budaya masyarakat pada masanya serta menjadi bagian dari warisan intelektual lokal.
Karakteristik Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional memiliki sejumlah karakteristik khas, seperti bersifat istanasentris, religio-magis, etnosentris, longgar dalam kronologi, serta kaya akan unsur mitos dan legenda yang mencerminkan sistem nilai masyarakat pada zamannya.
- Istanasentris
Salah satu ciri utama historiografi tradisional adalah sifatnya yang istanasentris, yaitu berfokus pada kehidupan raja, keluarga kerajaan, dan legitimasi kekuasaan, sementara rakyat biasa jarang menjadi pusat perhatian.
- Unsur Mitologis dan Religius
Historiografi tradisional memadukan unsur religius, mitos, dan legenda dengan peristiwa sejarah sehingga mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat pada masa itu.
Kritik Sumber
Historiografi tradisional tidak disusun berdasarkan standar verifikasi sejarah modern karena penulisnya tidak memisahkan secara tegas antara fakta sejarah, mitos, legenda, dan kepercayaan lokal.
Bentuk Historiografi Tradisional
Bentuk historiografi tradisional di Nusantara beragam, antara lain babad di Jawa, hikayat di dunia Melayu, tambo di Minangkabau, kakawin pada tradisi Jawa Kuno, serta prasasti sebagai sumber tertulis tertua di Indonesia.
Relevansi Historiografi Tradisional dalam Studi Sejarah Indonesia Modern
Relevansi sebagai Sumber Sejarah
Historiografi tradisional masih sangat relevan karena menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah Indonesia sebelum kedatangan bangsa Eropa sekaligus menghadirkan perspektif masyarakat Nusantara sendiri.
Melengkapi Sumber Kolonial
Historiografi tradisional melengkapi sumber kolonial dengan menghadirkan perspektif masyarakat Nusantara sendiri sehingga membantu menghasilkan rekonstruksi sejarah yang lebih seimbang.
Rekonstruksi Sejarah Lokal
Babad, hikayat, dan tambo menjadi sumber penting untuk merekonstruksi sejarah Indonesia karena menyimpan banyak informasi mengenai kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Nusantara sebelum masa kolonial.
Pendekatan Kritis
Dalam penelitian sejarah modern, historiografi tradisional perlu dianalisis melalui kritik sumber, hermeneutika, dan analisis tekstual agar informasi historis dapat dibedakan dari unsur-unsur mitologis yang menyertainya.
Tantangan dan Peluang
Tantangan utama dalam memanfaatkan historiografi tradisional adalah membedakan informasi yang memiliki dasar historis dengan unsur-unsur mitologis melalui penerapan kritik sumber dan analisis tekstual yang cermat.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia