Konten dari Pengguna

Ludruk: Sejarah Kesenian Rakyat Jawa Timur

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ludruk. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ludruk. Foto: Pixabay.

Ludruk merupakan salah satu kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Timur. Kesenian rakyat ini memiliki sejarah panjang dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial budaya masyarakat sejak puluhan tahun lalu.

Mengenal asal-usul ludruk dapat membantu kita memahami kekayaan budaya Nusantara yang perlu dilestarikan. Dengan mengetahui sejarah dan perkembangannya, generasi muda bisa lebih menghargai warisan budaya yang telah diwariskan nenek moyang.

Asal-Usul dan Perkembangan Awal Ludruk

Ludruk merupakan kesenian teater tradisional khas Jawa Timur yang telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sejak sebelum kemerdekaan. Pertunjukan ludruk umumnya mengangkat kisah kehidupan sehari-hari, perjuangan rakyat, serta diselingi lawakan yang diiringi musik gamelan. Sebagai teater rakyat, ludruk memadukan unsur gerak, tari, musik, cerita, kidungan, dan ngremo sehingga memiliki ciri khas yang tetap dipertahankan hingga kini.

Ludruk Mojokerto dan Perkembangannya Sebagai Karya Budaya

Menurut artikel Sejarah Kesenian Ludruk Karya Budaya Mojokerto Tahun 1969–2009 oleh Ismawati, Ludruk Karya Budaya didirikan pada 29 Mei 1969 di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto oleh Cak Bantu. Grup ini lahir setelah masyarakat merindukan kembali pertunjukan ludruk yang sempat vakum pasca peristiwa G30S/PKI. Dalam perkembangannya, Ludruk Karya Budaya mengalami pasang surut, berkembang pesat pada akhir 1970-an hingga mampu tampil di luar Mojokerto, kemudian menghadapi tantangan akibat perubahan selera hiburan masyarakat pada era modern. Selain sebagai hiburan, ludruk juga berfungsi sebagai media pendidikan, pembangunan, komunikasi, dan kritik sosial sehingga tetap memiliki nilai budaya yang penting bagi masyarakat Jawa Timur.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia