Konten dari Pengguna

Ogoh-Ogoh: Patung Raksasa Khas Bali yang Penuh Makna

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ogoh-Ogoh. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ogoh-Ogoh. Foto: Unsplash.

Bali memiliki tradisi unik yang selalu menarik perhatian, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu yang paling mencolok adalah keberadaan ogoh-ogoh, yaitu patung raksasa yang dibuat menjelang perayaan Nyepi.

Ogoh-ogoh bukan sekadar karya seni biasa. Patung ini memiliki filosofi mendalam dalam kepercayaan Hindu Bali dan menjadi bagian penting dari ritual keagamaan masyarakat setempat.

Pengertian dan Sejarah Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Bali

Berdasarkan Christal Augustine & Eko Ribawati dalam artikel Tradisi Ogoh-Ogoh Masyarakat Bali sebagai Media Edukasi Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi, Tradisi ogoh-ogoh merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Bali yang dilaksanakan pada malam Pangrupukan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh diwujudkan dalam bentuk patung berukuran besar yang melambangkan Bhuta Kala, simbol energi atau sifat negatif dalam diri manusia maupun alam semesta. Setelah diarak mengelilingi desa dengan iringan musik gamelan, ogoh-ogoh kemudian dibakar sebagai simbol penghancuran dan pengembalian energi negatif ke asalnya sebelum umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Selain memiliki makna spiritual dan religius, tradisi ini juga menjadi media edukasi yang menanamkan nilai-nilai budaya, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.

Nilai Kearifan Lokal dan Pelestarian Tradisi Ogoh-Ogoh

Tradisi ogoh-ogoh mengandung berbagai nilai kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Bali hingga saat ini. Melalui konsep Rwa Bhineda, masyarakat diajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara unsur positif dan negatif dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam proses pembuatan ogoh-ogoh yang dilakukan secara kolektif oleh masyarakat lintas usia dan agama dengan memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan seperti bambu, rotan, dan kertas. Tradisi ini juga menjadi sarana pembelajaran budaya dan spiritual, bahkan telah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di Pasraman Widya Dharma. Di era digital, pelestarian ogoh-ogoh semakin diperkuat melalui partisipasi generasi muda yang memanfaatkan media sosial, seperti Instagram dan TikTok, untuk memperkenalkan sejarah, makna, dan nilai budaya ogoh-ogoh kepada masyarakat yang lebih luas.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia