Pendiri Kerajaan Demak dan Jejak Awal Islam di Jawa
Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesultanan Demak menjadi penanda penting dalam sejarah Islam di tanah Jawa. Keberadaannya tidak hanya mengubah peta kekuasaan Nusantara, tetapi juga membuka babak baru dalam penyebaran agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa.
Memahami siapa pendiri kerajaan Demak dan bagaimana proses berdirinya kesultanan ini dapat memberikan gambaran tentang dinamika politik dan keagamaan pada abad ke-15. Raden Fatah, sosok yang dikenal sebagai pendiri, memiliki peran strategis dalam membangun fondasi kerajaan Islam pertama di Jawa.
Raden Fatah sebagai Pendiri Kerajaan Demak
Menurut Zuliani Putri & Hudaidah dalam artikel Sejarah Kesultanan Demak: Dari Raden Fatah Sampai Arya Penangsang, Raden Fatah dikenal sebagai pendiri Kesultanan Demak, kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa. Ia merupakan putra Raja Brawijaya V dari Majapahit dengan seorang putri dari Campa dan mendirikan Kesultanan Demak pada tahun 1478 M.
Latar Belakang Keturunan Raden Fatah
Raden Fatah merupakan putra Raja Brawijaya V dari Majapahit dan putri Dwarawati dari Campa. Setelah belajar kepada Sunan Ampel, ia mendapat tugas untuk berdakwah di Gelagahwangi sebelum mendirikan Kesultanan Demak.
Berdirinya Kesultanan Demak
Kesultanan Demak didirikan pada tahun 1478 dan berkembang pesat karena memiliki wilayah pesisir yang didukung pelabuhan, jalur perdagangan, serta kondisi geografis yang strategis.
Dukungan Wali Songo
Dalam proses berdirinya Kesultanan Demak, Raden Fatah mendapat bimbingan Sunan Ampel dan dukungan para wali yang berperan dalam dakwah Islam serta penobatannya sebagai Sultan Demak.
Strategi Maritim dan Perdagangan
Di bawah kepemimpinan Raden Fatah, Demak berkembang menjadi kerajaan maritim yang memiliki pelabuhan besar dan berperan sebagai penghubung jalur perdagangan rempah-rempah antara wilayah barat dan timur Nusantara.
Wilayah Kekuasaan Demak
Pada masa Raden Fatah, wilayah pengaruh Demak meluas hingga berbagai daerah di Jawa maupun luar Jawa, didukung oleh perkembangan perdagangan, pelabuhan, dan dukungan masyarakat serta para wali.
Perkembangan Kesultanan Demak Setelah Raden Fatah
Pergantian Kepemimpinan
Setelah Raden Fatah wafat pada tahun 1518, pemerintahan Demak dilanjutkan oleh Pati Unus. Sepeninggal Pati Unus pada 1521, tahta kemudian diteruskan oleh Sultan Trenggono.
Masa Sultan Trenggana
Pada masa Sultan Trenggono, Kesultanan Demak melakukan berbagai ekspansi militer untuk menguasai wilayah-wilayah bekas kekuasaan Majapahit serta memperluas pengaruhnya di Pulau Jawa.
Konflik Arya Penangsang
Setelah Sultan Trenggono wafat pada 1546, terjadi konflik perebutan takhta yang melibatkan Arya Penangsang dan keturunan Kesultanan Demak. Konflik tersebut berujung pada perang saudara yang mempercepat kemunduran kesultanan.
Kemunduran Kesultanan Demak
Perebutan kekuasaan di lingkungan keluarga Kesultanan Demak memicu konflik berkepanjangan yang berakhir pada kehancuran kesultanan.
Warisan Kesultanan Demak
Kesultanan Demak dikenang sebagai kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa yang berperan penting dalam penyebaran Islam dan perkembangan perdagangan di Nusantara.
Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.
Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia