Konten dari Pengguna

Tradisi Pasola: Ritual Perang Berkuda dari Sumba

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Masyarakat Sumba. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Masyarakat Sumba. Foto: Unsplash.

Masyarakat Sumba memiliki tradisi unik yang menggabungkan keberanian, spiritualitas, dan kearifan lokal dalam satu ritual. Namanya Pasola, sebuah ritual perang berkuda yang dilaksanakan setiap tahun di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Berbeda dengan permainan biasa, Pasola merupakan bagian dari kepercayaan Marapu yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat setempat. Ritual ini bukan sekadar atraksi budaya, melainkan sarana untuk menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah pertanian yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

Apa Itu Tradisi Pasola dan Filosofi di Baliknya

Pengertian Pasola

Pasola merupakan tradisi ritual masyarakat Sumba yang dilakukan dengan saling melempar lembing sambil menunggang kuda antara dua kelompok peserta. Tradisi ini biasanya diselenggarakan setiap tahun pada bulan Februari hingga Maret sebagai bagian dari rangkaian upacara adat menjelang musim tanam.

Filosofi Pasola

Menurut artikel Pasola Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Sumba: Kajian Antropologi Budaya dalam Tradisi Ritual dan Sosial oleh Dian Ayu Sejati dan Eko Ribawati, Pasola bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ritual sakral yang mengandung nilai religius, sosial, dan kearifan lokal. Pelaksanaannya menjadi bentuk penghormatan kepada arwah leluhur dalam kepercayaan Marapu sekaligus permohonan agar masyarakat memperoleh hasil panen yang melimpah.

Makna Darah dalam Pasola

Salah satu filosofi utama Pasola adalah keyakinan bahwa darah yang tertumpah selama ritual menjadi simbol persembahan bagi bumi. Masyarakat Sumba meyakini bahwa pengorbanan tersebut akan membawa kesuburan tanah serta keberhasilan panen pada musim berikutnya.

Pasola sebagai Pemersatu

Di samping memiliki makna spiritual, Pasola juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat. Tradisi ini memperkuat persatuan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjadi ruang silaturahmi antarwilayah di Pulau Sumba.

Hubungan dengan Marapu

Tradisi Pasola tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan Marapu, yaitu sistem kepercayaan leluhur yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Sumba. Dalam tradisi ini, penghormatan kepada arwah leluhur menjadi bagian penting dari setiap rangkaian upacara yang dilaksanakan.

Kesakralan Pasola

Keseluruhan rangkaian Pasola memiliki nilai sakral yang tidak hanya tercermin dalam prosesi ritualnya, tetapi juga pada aturan adat, penggunaan lembing, serta penghormatan terhadap leluhur. Oleh karena itu, Pasola dipandang sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sumba.

Rangkaian Prosesi dan Nilai Kearifan Lokal dalam Pasola

Ritual Nyale

Rangkaian Pasola diawali dengan tradisi Nyale, yaitu ritual mencari cacing laut yang dipimpin oleh Rato atau ketua adat di pesisir pantai. Kemunculan Nyale menjadi pertanda dimulainya musim Pasola sekaligus penanda datangnya musim tanam.

Makna Nyale

Jumlah dan kondisi cacing Nyale dipercaya menjadi pertanda keberhasilan panen pada tahun tersebut. Nyale yang melimpah dan berkualitas baik diyakini membawa keberkahan, sedangkan hasil tangkapan yang sedikit dianggap sebagai pertanda kurang baik bagi musim tanam.

Peran Rato

Setelah ritual Nyale, para Rato sebagai pemimpin adat memimpin berbagai upacara dan doa sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Mereka juga berperan menentukan waktu pelaksanaan, mengawasi jalannya ritual, serta memastikan seluruh prosesi berlangsung sesuai aturan adat.

Aturan Adat Pasola

Tradisi Pasola dijalankan berdasarkan aturan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Berbagai larangan dan ketentuan harus dipatuhi oleh seluruh peserta agar kesakralan upacara tetap terjaga dan pelaksanaannya berlangsung dengan tertib.

Pelaksanaan Pasola

Puncak Pasola mempertemukan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu di arena terbuka. Meskipun berlangsung penuh semangat, seluruh peserta tetap mematuhi aturan adat, seperti tidak menyerang peserta yang telah terjatuh dan tidak mengarahkan lembing ke arah penonton.

Konsep Pemenang

Walaupun berlangsung seperti sebuah pertempuran, Pasola bukanlah ajang untuk memelihara permusuhan. Perselisihan hanya berlangsung selama ritual di arena, sedangkan setelah prosesi selesai seluruh peserta kembali hidup berdampingan sebagai bagian dari masyarakat yang sama.

Nilai Kearifan Lokal

Tradisi Pasola mengandung beragam nilai kearifan lokal, antara lain nilai religius, gotong royong, kepemimpinan, estetika, toleransi, dan ekonomi. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman masyarakat Sumba dalam menjaga hubungan dengan leluhur, sesama manusia, dan lingkungan sekitar.

Pelestarian Pasola

Saat ini Pasola tidak hanya dipertahankan sebagai tradisi adat, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya di Sumba. Kehadirannya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sumba kepada wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

Tantangan Pelestarian

Pelestarian Pasola memerlukan dukungan seluruh lapisan masyarakat agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga. Sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Sumba, tradisi ini diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia