Pria Kansas Meninggal Ditembak Polisi Akibat Hoax yang Dibuat Pemain Call of Duty
Tulisan dari Jejak Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Call of Duty (Foto : Call of Duty)
Pertengkaran antara dua pemain Call of Duty yang berdebat setelah taruhan pertandingan seharga 1,5 dolar, berakibat meninggalnya pria Kansas yang ditembak oleh polisi setelah panggilan palsu kepada SWAT sebabkan sekelompok kecil polisi mendatangi rumah pria malang tersebut.
Kabar ini pertama kali diangkat oleh media lokal The Wichita Eagle, yang mengutip beberapa kicauan yang telah dihapus di mana para pemain Call of Duty bertanggungjawab karena berpartisipasi atau sekadar mengamati keisengan ini.
Seorang pemain diduga memberikan alamat palsu ke pemain lain, yang kemudian menyebabkan si pria Kansas terlibat dalam perselisihan ini, seperti dikicaukan oleh jurnalis Brian Krebs yang dikutip Verge (29/12).
Perbuatan yang dikenal sebagai ‘swatting’ ini melibatkan warganet yang gusar melaporkan sebuah ancaman kekerasan bohong, biasanya pembunuhan atau situasi penyanderaan yang dikarang si pelapor, dan melakukannya secara anonim berkat perangkat lunak yang sembunyikan identitas dan lokasi pelapor.
Keisengan ini akan menyulut turunnya kepolisian, yang tidak punya informasi tambahan lainnya dan menyikapi laporan seperti ini dengan kekuatan personel yang luar biasa.
Tidak jelas apakah perbuatan swatting ini pernah menyebabkan kematian sebelumnya, namun beberapa orang di masa lalu sempat terluka parah dalam situasi yang mirip yang seringkali tidak melibatkan si korban dalam bentuk apa pun.
Tim SWAT juga punya sejarah kelam karena membunuh orang tak bersalah di rumahnya sendiri, tak peduli dari mana sumber ancaman datang.
Terduga pelaku serangan swatting yang beralias ‘SWauTistic’ di Twitter sebelum mengganti nama samarannya bahkan hapus akunnya, dilaporkan pernah membuat laporan palsu berisi ancaman bom kepada Federal Communications Commission saat berlangsung kegaduhan netralitas internet, menurut Krebs.
Dalam kasus ini, warga Wichita bernama Andrew Finch yang menurut pengakuan keluarganya tidak bermain video games dan merupakan ayah dari dua orang putra, membuka pintunya untuk sambut tim SWAT.
Diduga, salah seorang petugas segera menembak Finch yang kemudian meninggal di rumah sakit. Tidak jelas mengapa Finch yang tidak memegang senjata api ditembak oleh polisi. Wichita Eagle beritakan bahwa pihak kepolisian sedang investigasi kasus yang terjadi Kamis malam tersebut.

