Konten dari Pengguna

Organisasi Katanya Tempat Bertumbuh, Mengapa Justru Menjadi Tempat Terluka?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Organisasi di Kampus. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Organisasi di Kampus. (sumber: shutterstock.com).

Organisasi sering dianggap sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan, memperluas relasi, dan belajar bekerja sama dengan orang lain. Bagi mahasiswa, mengikuti organisasi menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman di luar ruang kelas. Ada harapan untuk bertemu orang-orang baru, belajar bertanggung jawab, serta membentuk karakter yang lebih dewasa. Namun, tidak semua lingkungan organisasi memberikan pengalaman sesuai dengan harapan tersebut. Ada kalanya tempat yang seharusnya mendukung perkembangan justru menghadirkan tekanan, konflik, dan rasa tidak nyaman.

Lingkungan organisasi yang tidak sehat dapat terlihat melalui berbagai perilaku, mulai dari senioritas berlebihan, komunikasi yang merendahkan, pembagian tugas yang tidak adil, hingga kebiasaan menyalahkan anggota ketika terjadi kesalahan. Hal-hal tersebut terkadang dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran. Anggota baru diminta untuk selalu patuh, tidak boleh membantah, dan harus menerima perlakuan tertentu dengan alasan menghormati senior. Padahal, rasa hormat seharusnya dibangun melalui sikap saling menghargai, bukan karena seseorang memiliki jabatan atau masa keanggotaan yang lebih lama.

Menurut saya, salah satu persoalan dalam organisasi adalah ketika tekanan mulai dianggap sebagai ukuran kesungguhan seseorang. Anggota yang berani menyampaikan keberatan bisa dicap tidak loyal, sedangkan mereka yang memilih diam dianggap lebih mampu beradaptasi. Pola pikir seperti ini dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika mencoba membela dirinya sendiri. Padahal, keberanian menyampaikan pendapat dan menetapkan batasan merupakan bagian penting dari proses pendewasaan. Tidak semua perlakuan yang menyakitkan harus diterima hanya karena dibungkus dengan alasan membentuk mental.

Situasi tersebut juga dapat memengaruhi tujuan awal seseorang bergabung. Mahasiswa yang semula ingin belajar dan berkontribusi mungkin mulai merasa takut melakukan kesalahan, enggan menyampaikan ide, atau kehilangan semangat untuk mengikuti kegiatan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan kemampuan justru habis untuk menghindari konflik dan memikirkan penilaian orang lain. Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi tidak lagi menjadi ruang untuk bertumbuh, melainkan lingkungan yang membuat anggotanya kesulitan menikmati proses belajar.

Sayangnya, budaya tidak sehat sering bertahan karena dianggap sebagai tradisi yang sudah berlangsung lama. Kalimat seperti “dulu kami juga diperlakukan begitu” kerap digunakan untuk membenarkan perilaku yang sama kepada anggota berikutnya. Padahal, pengalaman buruk yang pernah dialami seseorang tidak seharusnya diwariskan kepada orang lain. Tradisi perlu dievaluasi apabila bertentangan dengan rasa saling menghormati. Organisasi yang baik semestinya mampu mempertahankan kedisiplinan tanpa merendahkan anggotanya, serta menegakkan tanggung jawab tanpa menjadikan rasa takut sebagai alat untuk mengendalikan orang lain.

Hal ini bukan berarti setiap konflik atau kritik dalam organisasi merupakan tanda lingkungan yang toxic. Perbedaan pendapat, tuntutan tanggung jawab, dan evaluasi memang diperlukan agar sebuah kelompok dapat berkembang. Namun, perlu ada batas yang jelas antara kritik yang membangun dan perlakuan yang merendahkan. Kritik seharusnya berfokus pada tindakan atau hasil pekerjaan, bukan menyerang harga diri seseorang. Begitu pula dengan kedisiplinan, yang semestinya diterapkan secara adil dan disertai penjelasan, bukan melalui ancaman atau tekanan yang berlebihan.

Mahasiswa juga perlu memahami bahwa bertahan dalam sebuah organisasi bukan satu-satunya bukti kedewasaan. Ada pengalaman yang memang mengajarkan kesabaran, tetapi ada pula situasi yang perlu diperbaiki atau ditinggalkan apabila terus merugikan diri sendiri. Memilih menyampaikan masalah kepada pihak yang bertanggung jawab, mencari dukungan dari orang tepercaya, atau mempertimbangkan untuk mengundurkan diri bukan berarti seseorang tidak mampu menghadapi tantangan. Keputusan tersebut dapat menjadi bentuk kesadaran bahwa waktu, tenaga, dan kesejahteraan diri juga layak dijaga.

Organisasi seharusnya menjadi tempat bagi setiap anggota untuk belajar dari kesalahan, menyampaikan gagasan, dan berkembang bersama. Jabatan bukan alasan untuk memperlakukan orang lain sesuka hati, sedangkan loyalitas tidak semestinya diukur dari seberapa banyak seseorang mampu menahan tekanan. Pengalaman berorganisasi akan lebih bermakna ketika anggota merasa aman untuk bertanya, mendapatkan kesempatan yang adil, dan dihargai sebagai manusia, bukan sekadar tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan.

Pada akhirnya, tujuan mengikuti organisasi bukan hanya mengumpulkan sertifikat atau menambah pengalaman dalam riwayat kegiatan. Lebih dari itu, mahasiswa seharusnya memperoleh pelajaran yang berguna untuk kehidupan, termasuk cara bekerja sama, menghargai perbedaan, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Organisasi yang benar-benar menjadi tempat bertumbuh tidak harus selalu bebas dari masalah, tetapi harus bersedia mengevaluasi diri dan memperbaiki budaya yang merugikan anggotanya. Sebab, proses pendewasaan seharusnya membantu seseorang berkembang menjadi lebih baik, bukan membuatnya merasa bahwa terluka merupakan harga yang wajib dibayar untuk sebuah pengalaman.

Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.