Konten dari Pengguna

Tidak Semua Tekanan Bisa Disebut Proses Pendewasaan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenny Salsa Billa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Organisasi di Kampus. (sumber: shutterstock.com).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Organisasi di Kampus. (sumber: shutterstock.com).

Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan sering dianggap sebagai bagian penting dari proses pendewasaan. Seseorang yang menghadapi tuntutan tinggi dinilai sedang belajar menjadi lebih kuat, sedangkan mereka yang mengeluh terkadang dianggap kurang tangguh. Pandangan ini banyak ditemukan dalam lingkungan pendidikan, pekerjaan, hingga organisasi mahasiswa. Padahal, tidak semua tekanan memberikan dampak positif. Ada keadaan yang memang membantu seseorang berkembang, tetapi ada pula perlakuan yang justru menimbulkan rasa takut, merendahkan kepercayaan diri, dan menghambat proses belajar.

Dalam organisasi, misalnya, anggota sering dihadapkan pada berbagai tanggung jawab, tenggat waktu, dan tuntutan untuk bekerja sama. Hal tersebut merupakan bagian wajar dari sebuah kegiatan kelompok. Namun, masalah muncul ketika tekanan diberikan tanpa mempertimbangkan kemampuan anggota, disertai kata-kata yang merendahkan, atau menggunakan ancaman sebagai cara untuk menegakkan kedisiplinan. Situasi seperti ini terkadang dibenarkan dengan alasan bahwa setiap orang harus memiliki mental kuat sebelum menghadapi dunia luar.

Menurut saya, pola pikir tersebut perlu dipertanyakan karena kekuatan mental tidak seharusnya dibentuk melalui perlakuan yang menghilangkan rasa aman dan harga diri seseorang. Seseorang memang perlu belajar menerima kritik, menghadapi kegagalan, dan menyelesaikan tanggung jawabnya. Akan tetapi, proses itu akan lebih bermanfaat jika dilakukan melalui arahan yang jelas, komunikasi yang sehat, serta evaluasi yang berfokus pada perbaikan. Merendahkan seseorang bukanlah cara yang tepat untuk mengajarinya menjadi lebih baik.

Kebiasaan menyamakan tekanan dengan pendewasaan juga dapat membuat seseorang kesulitan mengenali batas yang wajar. Ketika terus-menerus menerima perlakuan tidak menyenangkan, ia mungkin mulai menganggap bahwa dirinya memang harus selalu mengalah atau tidak boleh menyampaikan keberatan. Bahkan, orang yang berani mempertanyakan keadaan bisa dicap lemah, tidak loyal, atau terlalu sensitif. Akibatnya, perilaku yang seharusnya diperbaiki justru terus dipertahankan karena dianggap sebagai tradisi.

Padahal, kedewasaan bukan hanya tentang kemampuan menahan kesulitan. Sikap tersebut juga terlihat dari cara seseorang mengelola emosi, menerima perbedaan pendapat, mengakui kesalahan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Seseorang yang mampu memberikan kritik tanpa mempermalukan orang lain menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab sosial. Begitu pula dengan pemimpin yang mampu menetapkan aturan secara tegas tanpa menggunakan kekuasaan untuk menekan anggota.

Hal ini bukan berarti setiap ketidaknyamanan harus dihindari. Dalam proses belajar, seseorang tetap perlu menghadapi tantangan, menerima masukan, dan memperbaiki kekurangan. Namun, penting untuk membedakan tantangan yang mendorong perkembangan dengan perlakuan yang merugikan. Kritik yang membangun memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, sedangkan penghinaan cenderung membuat seseorang merasa tidak mampu. Keduanya mungkin sama-sama terasa tidak menyenangkan, tetapi tujuan dan dampaknya berbeda.

Lingkungan yang sehat tidak harus selalu bebas dari konflik. Perbedaan pendapat tetap dapat terjadi, target yang sulit tetap perlu diselesaikan, dan setiap anggota tetap harus bertanggung jawab atas tindakannya. Hal yang membedakan adalah bagaimana masalah tersebut dihadapi. Komunikasi terbuka, pembagian tugas yang adil, dan kesediaan mengevaluasi aturan dapat menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan tanpa mengabaikan kesejahteraan anggotanya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menggunakan alasan pendewasaan untuk membenarkan semua bentuk tekanan. Pengalaman sulit memang dapat memberikan pelajaran, tetapi bukan berarti setiap perlakuan buruk harus diterima tanpa pertanyaan. Proses menjadi lebih dewasa seharusnya membantu seseorang memahami dirinya, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Kekuatan tidak hanya terlihat dari seberapa banyak tekanan yang mampu ditahan, tetapi juga dari keberanian membedakan tantangan yang membangun dan perlakuan yang perlu dihentikan.

Jenny Salsa Billa Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.