Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Bata, Namun Sebuah Jiwa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Brigita Andita Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apresiasi Film Pendek Kita Usahakan Rumah Itu Karya Yandy Laurens oleh Brigita Andita Putri Mahasiswi Universitas Sanata Dharma Prodi Sastra Indonesia

Sumber : Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Foto Pribadi

“Rumah” yang indah bukan sekadar bangunan yang memiliki bentuk artistik, futuristik, dan unik. “Rumah” juga bukan sekadar tempat yang digunakan untuk beristirahat dari penatnya kegiatan yang telah dilakukan. Bagi mereka, “rumah” dapat menjadi tempat yang spesial untuk berkeluh kesah, untuk membangun memori dan kenangan indah bersama, dan tempat untuk membangun dan mewujudkan mimpi indah yang didambakan. Kita Usahakan Rumah Itu (2025) yang disutradarai oleh Yandy Laurens merupakan film yang menceritakan sebuah “rumah” bagi mereka yang memaknai rumah bukanlah sekadar bangunan.

Film pendek tersebut yang berdurasi sekitar delapan menit merupakan sebuah film pendek yang ditulis oleh Yandy Laurens dan diproduksi oleh Cerita Film yang bekerja sama dengan OCBC dan diproduseri oleh Suryana Paramita. Film tersebut yang dapat disaksikan pada Youtube mendapatkan respon positif dari para penontonnya dan mendapatkan jumlah penonton sekitar dua juta penonton. Disamping jumlah penonton yang banyak dan respon positif yang didapatkan, film pendek tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Film yang dimainkan oleh Chicco Kurniawan bersama lawan mainnya Amanda Rawles, menceritakan sepasang kekasih yang ingin mengusahakan atau mewujudkan “rumah” sebagaimana yang mereka impikan bersama.

Ruangan yang Berubah, Kenangan yang Tertinggal

Cerita dimulai saat Amel yang diperankan oleh Amanda Rawles ditemani oleh pacarnya bernama Iko yang diperankan oleh Chicco Kurniawan, mengunjungi rumah masa kecilnya Amel yang telah berubah fungsinya menjadi sebuah tempat jahit. Pada awalnya, Amel yang pernah tinggal pada tempat tersebut sampai berumur 13 tahun dan akhirnya pindah ke Jakarta, meminta izin pada salah satu karyawan yang bekerja pada tempat jahit tersebut untuk dapat melihat-lihat tempat yang dulu pernah menjadi rumahnya. Namun sayangnya, karyawan tersebut pada awalnya tidak mengizinkan Amel untuk mengelilingi tempat tersebut karena ia tidak dapat memutuskan sebab pemilik tempat jahit tersebut sedang berada di luar kota.

Pada bagian ini, berdasarkan konsep dasar yang dikemukakan oleh John Dewey (1934) pada Art as Experience, penonton dapat merasakan sebuah pengalaman estetik dari film yang ditonton. Pengalaman tersebut dapat dirasakan saat karyawan tersebut tidak dapat memberikan izin pada Amel, dan raut wajah Amel berubah menjadi sedih dan kecewa karena tidak mendapatkan izin untuk melihat-lihat tempat yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya. Pengalaman tersebut berdasarkan konsep dasar yang dikemukakan oleh John Dewey, masuk ke dalam dimensi persepsi dan dimensi emosi. Bagian dimensi persepsi ada pada saat kamera mengambil gambar wajah Amel dengan raut wajah yang menunjukkan perasaannya. Lalu bagian dimensi emosi ada pada narasi yang diutarakan antara Amel dan karyawan tersebut.

Ketukan Sendu dan Usaha Merawat Ingatan

Namun setelah mengetahui bahwa Amel tidak mendapatkan izin untuk melihat-lihat rumah lamanya, Iko yang merupakan pacar Amel mencoba berbicara kepada karyawan tempat jahit itu agar mendapat izin. Dan pada akhirnya, Iko memberitahu Amel bahwa ia diizinkan untuk melihat-lihat tempat tersebut. Amel yang mendengar pemberitahuan Iko merasa sangat senang dan bahagia karena akhirnya ia dapat bernostalgia dengan rumah lamanya.

Iko yang merupakan pacar Amel, turut merasakan perasaan senang yang dirasakan Amel karena dapat melihat-lihat tempat yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya hingga berumur 13 tahun. Perasaan haru dan sedih kembali hadir saat Amel mengenang setiap kepingan kenangan yang tersimpan pada setiap sudut dan setiap tempat yang ada pada bangunan tersebut. Tentang bagaimana ia pernah bersenang-senang bersama ayahnya saat kecil, sebuah tempat yang dulunya terdapat meja makan yang digunakan untuk menampung satu keluarga saat makan bersama, sebuah lemari kaca yang dibuat sendiri oleh ayah Amel namun sekarang sudah tidak ada, dan sebuah meja yang dulunya tempat meja tersebut merupakan tempat sofa yang digunakan saat kumpul ramai-ramai. Semuanya tergambar dengan sangat rapi dalam memori Amel. Diiringi dengan lagu miliki Sal Priadi yang memiliki judul yang sama dengan film pendek tersebut, menambah kesan yang sendu dan mellow pada perasaan yang dirasakan oleh penonton.

Menurut Monroe Beardsley, intensitas (intesity) mengandung kekuatan ekspresi artistis yang membuat penonton merasakan sesuatu dengan kuat dan mendalam. Dalam film pendek Kita Usahakan Rumah Itu, penonton merasakan dengan baik bagaimana perasaan haru, sedih, dan bahagia yang dirasakan oleh Amel dan Iko. Hal tersebut dirasakan karena ekspresi wajah yang ditampilkan aktor dan iringan lagu yang bernuansa sendu. Dengan hal tersebut, film pendek Kita Usahakan Rumah Itu berhasil membuat perasaan penontonnya turut merasakan perasaan sendu, haru, dan bahagia dalam satu momen yang singkat.

Mencicil Memori: Rumah sebagai Masa Depan

“Aku mau kita punya rumah sendiri, kecil juga gapapa. Nanti kita cicil memorinya pelan-pelan. Kita isi memori-memori baru, kenangan-kenangan baru, yang isinya kamu, aku, sama anak-anak kita.” Kalimat tersebut merupakan potongan dialog yang ada pada film pendek Kita Usahakan Rumah Itu. Iko yang diceritakan sebagai pacar Amel, mengungkapkan ajakannya pada Amel untuk menempuh jenjang yang lebih serius bersama sang kekasih. Iko memiliki keinginan untuk membangun sebuah “rumah” bersama pujaan hatinya. Rumah tersebut bukan sekadar bangunan semata, namun secara tersirat merupakan sebuah tempat dimana mereka dapat merajut dan membangun memori-memori dan kenangan-kenangan indah yang berisikan keluarga kecil mereka. Bagian tersebut menjadi puncak dalam film pendek Kita Usahakan rumah Itu.

Menemukan Hakikat "Rumah" dalam Kesederhanaan Sinema

Film pendek Kita Usahakan Rumah Itu memiliki kesan tersendiri bagi para penontonnya. Sebab, dalam waktu yang singkat, perasaan penonton dibuat berubah-ubah secara cepat. Film pendek tersebut tak hanya membuat perasaan penonton menjadi campur aduk. Namun, film pendek tersebut memiliki pesan yang mendalam bagi penonton yang pernah atau sedang mengalami hal yang sama seperti yang dilalui oleh Amel dan Iko. Meskipun tak memiliki adegan yang spektakuler dibandingkan film-film pendek lainnya, film pendek tersebut sukses bertengger pada hati setiap penikmatnya.

Yandy Laurens sebagai sutradara dan penulis skenario film pendek tersebut, sukses “meracuni” penikmat film pendek tersebut dengan hasil karyanya. Sebab melalui film pendek tersebut, ia dapat mengemas sebuah momen sederhana yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat yang mengalaminya dengan sangat apik dan elok sehingga dapat menyentuh benak penikmatnya.

“Rumah” bukanlah sekadar bangunan biasa yang memiliki berbagai bentuk. Sebuah “rumah” apabila dimaknai lebih dalam, merupakan sebuah tempat dimana di dalamnya dapat membangun sebuah memori dan kenangan indah bersama orang tersayang. “Rumah” haruslah mampu membuat penghuni dapat tinggal dengan nyaman, damai, tenang, dan dipenuhi dengan kerukunan di dalamnya.