Konten dari Pengguna

Dampak TikTok Live Mati bagi UMKM: Setengah Nafas di Era Digital

istykomah wahyu ningseh

istykomah wahyu ningseh

mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari istykomah wahyu ningseh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penghentian TikTok Live 2025 berdampak langsung pada UMKM di Indonesia. Banyak pelaku usaha kecil mengeluhkan omzet anjlok, arus kas tersendat, hingga biaya promosi meningkat tajam. Tanpa fitur ini, UMKM seakan kehilangan mesin penjualan digital mereka.

TikTok Live selama ini bukan hanya sekadar hiburan atau tempat interaksi. Fitur ini telah menjadi “etalase digital” bagi ribuan UMKM di Indonesia. Melalui live streaming, pelaku usaha kecil dapat memamerkan produknya, menjawab pertanyaan konsumen secara real-time, bahkan memberikan diskon khusus yang mendorong keputusan pembelian impulsif. Dari sisi akuntansi, aktivitas ini berkontribusi pada revenue stream baru, yang bukan hanya mempercepat arus kas (cash inflow), tapi juga memperkuat margin penjualan.

Dampak Finansial Saat TikTok Live Terhenti

Ketika TikTok Live dihentikan pada Agustus 2025, banyak UMKM langsung merasakan gejolak keuangan. Berdasarkan data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia, rata-rata omzet UMKM yang bergantung pada live streaming turun 40–60% hanya dalam sepekan. Sektor yang paling terpukul adalah fashion, makanan, dan produk kecantikan, di mana transaksi live biasanya menjadi sumber penjualan utama.

Penurunan omzet ini bukan sekadar angka. Dalam laporan laba rugi, revenue UMKM anjlok sehingga profitabilitas menurun. Sementara dalam neraca, modal kerja semakin ketat karena arus kas masuk jauh berkurang.

Dari Kacamata Akuntansi, Ada Tiga Konsekuensi Utama yang Dialami UMKM:

  1. Penurunan Pendapatan (Revenue Decline). Hilangnya kanal live commerce membuat omzet menurun signifikan. Hal ini akan terlihat jelas dalam laporan laba rugi, di mana total revenue anjlok, sehingga menekan profitabilitas.

  2. Arus Kas Tertahan (Cash Flow Constraint). Live commerce mendorong transaksi impulsif yang sifatnya harian. Tanpa fitur ini, transaksi berkurang dan arus kas masuk menjadi lebih lambat. Padahal, biaya operasional seperti gaji karyawan, ongkos produksi, hingga biaya sewa tetap berjalan.

  3. Beban Pemasaran Bertambah (Rising Marketing Costs). UMKM harus mencari alternatif strategi pemasaran, misalnya melalui iklan berbayar, kolaborasi dengan influencer, atau promosi lintas platform. Semua langkah ini tentu menambah marketing expenses yang akan tercatat sebagai beban tambahan di laporan keuangan.

Skala yang Terpengaruh

Untuk memahami skala dampaknya, mari kita lihat data transaksi TikTok Shop. Secara global, nilai transaksi TikTok Shop mencapai Rp528,6 triliun pada 2024, dengan Indonesia sebagai penyumbang terbesar kedua sekitar Rp100 triliun. Dari angka tersebut, sebagian besar dipicu oleh aktivitas live streaming. Artinya, penghentian fitur TikTok Live berpotensi memengaruhi perputaran uang dalam jumlah besar, bukan hanya bagi pelaku UMKM individu, tetapi juga ekosistem e-commerce nasional.

Tidak heran jika banyak pelaku UMKM merasa seakan “kehilangan nyawa digital” saat fitur live terhenti. Bagi mereka, TikTok Live bukan hanya sekadar platform, tetapi mesin penjualan utama yang menopang kelangsungan bisnis sehari-hari.

Momentum Evaluasi Strategi

Namun, dari sisi lain, penghentian TikTok Live bisa juga dibaca sebagai momentum evaluasi. Mahasiswa akuntansi seperti saya melihat situasi ini sebagai pengingat penting: ketergantungan pada satu kanal penjualan sangat berisiko. Prinsip diversifikasi, yang biasanya kita kenal dalam manajemen investasi, sebenarnya juga berlaku dalam dunia usaha.

UMKM perlu mendiversifikasi strategi pemasaran dan penjualan mereka. Misalnya, selain mengandalkan TikTok, mereka bisa aktif di marketplace lain, mengoptimalkan Instagram Shop, atau kembali memperkuat jaringan penjualan offline. Diversifikasi ini penting untuk menjaga prinsip going concern, yaitu keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Data juga menunjukkan bukti positif dari strategi diversifikasi. Program kolaborasi “Beli Lokal” antara Tokopedia dan TikTok Shop, misalnya, berhasil meningkatkan penjualan UMKM hingga 118% pada kuartal I 2025. Artinya, meski fitur live sempat dihentikan, peluang pemulihan tetap terbuka lebar bagi mereka yang cepat beradaptasi.

Pelajaran untuk UMKM dan Dunia Usaha

Kasus TikTok Live ini memberikan pelajaran penting bagi UMKM. Dalam dunia akuntansi, bisnis tidak hanya berbicara soal mencatat angka-angka keuangan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah usaha mampu bertahan menghadapi perubahan. Laporan keuangan yang sehat bukan hanya hasil dari penjualan yang besar, tetapi juga dari strategi manajemen risiko yang tepat.

Jika UMKM hanya mengandalkan satu platform digital, maka mereka menaruh semua telur dalam satu keranjang. Saat keranjang itu jatuh—dalam hal ini, ketika TikTok Live dihentikan—seluruh telur pun pecah. Oleh karena itu, strategi jangka panjang harus mencakup diversifikasi kanal penjualan, inovasi produk, serta pengelolaan keuangan yang lebih hati-hati.

Pada akhirnya, penghentian TikTok Live pada Agustus 2025 bisa kita maknai sebagai ujian ketahanan UMKM. Apakah mereka cukup adaptif untuk mencari alternatif lain, atau justru akan tumbang karena terlalu bergantung pada satu fitur? Jawabannya akan menentukan seberapa kuat fondasi ekonomi digital kita ke depan.

Strategi UMKM Bertahan Setelah TikTok Live Mati