Harga Jual UMKM: Mengapa Menentukan Harga Tidak Cukup Ikut Pesaing?

mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari istykomah wahyu ningseh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Harga jual UMKM menjadi salah satu keputusan penting yang perlu diperhatikan ketika seseorang mulai menjalankan bisnis. Banyak pelaku usaha menentukan harga produk dengan melihat harga yang ditawarkan oleh pesaing. Cara tersebut memang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar, tetapi belum tentu sesuai dengan biaya dan kemampuan usaha masing-masing. Menurut saya, menentukan harga jual tidak seharusnya hanya mengikuti pesaing, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya produksi, target keuntungan, dan daya beli konsumen.
Saat ini, memulai usaha semakin mudah dilakukan melalui media sosial dan marketplace. Seseorang dapat menjual makanan, pakaian, aksesori, hingga produk buatan sendiri tanpa harus memiliki toko fisik. Namun, kemudahan tersebut juga membuat persaingan semakin terasa. Konsumen dapat membandingkan harga dari berbagai penjual hanya melalui ponsel. Kondisi ini membuat sebagian pelaku UMKM merasa perlu menawarkan harga yang lebih murah agar produknya tetap diminati.
Dalam menjalankan usaha, harga yang murah sering dianggap sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian konsumen. Misalnya, seorang penjual makanan melihat produk serupa dijual dengan harga Rp20.000, kemudian memutuskan menawarkan produknya seharga Rp18.000 agar lebih menarik pembeli. Namun, keputusan tersebut dapat menjadi masalah apabila biaya yang dikeluarkan ternyata cukup tinggi.
Sebagai contoh, seorang pelaku usaha menjual makanan dengan biaya bahan baku sebesar Rp10.000 per porsi. Jika ditambah biaya kemasan, tenaga kerja, dan operasional sebesar Rp6.000, total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp16.000 per porsi. Apabila produk tersebut dijual seharga Rp18.000, selisihnya hanya Rp2.000 sebelum memperhitungkan kemungkinan biaya lainnya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa harga jual yang terlihat kompetitif belum tentu memberikan keuntungan yang memadai. Menurut saya, pelaku usaha perlu memahami seluruh biaya yang berkaitan dengan produk sebelum menetapkan harga. Dengan begitu, keputusan menentukan harga tidak hanya didasarkan pada keinginan mendapatkan banyak pembeli, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan bisnis.
Memahami Biaya Sebelum Menentukan Harga
Salah satu hal yang dapat dilakukan pelaku UMKM adalah menghitung biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP). Perhitungan ini membantu pemilik usaha mengetahui biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk. Untuk usaha dagang, pelaku usaha juga perlu memperhatikan harga pokok barang yang dijual dan biaya operasional lainnya.
Misalnya, seorang penjual kerajinan tangan perlu menghitung biaya bahan baku, perlengkapan, kemasan, dan biaya lain yang berkaitan dengan proses pembuatan. Setelah mengetahui total biaya, pemilik usaha dapat mempertimbangkan harga jual yang sesuai dengan target keuntungan dan kondisi pasar.
Menurut saya, pemahaman dasar akuntansi dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan tersebut. Pencatatan biaya yang teratur juga memudahkan pemilik bisnis mengevaluasi pengeluaran apabila terjadi kenaikan harga bahan baku atau perubahan biaya operasional.
Menyesuaikan Harga dengan Daya Beli Konsumen
Selain memperhatikan biaya, menentukan harga jual UMKM juga perlu mempertimbangkan karakteristik konsumen. Produk yang memiliki kualitas dan manfaat tertentu belum tentu dapat dijual dengan harga tinggi apabila target pasarnya memiliki keterbatasan daya beli.
Sebagai contoh, pelaku usaha yang menjual makanan ringan kepada pelajar mungkin perlu mempertimbangkan harga yang sesuai dengan uang saku konsumennya. Sementara itu, produk yang menyasar konsumen dengan kebutuhan khusus dapat memiliki pendekatan harga yang berbeda, selama harga tersebut sebanding dengan kualitas dan manfaat yang ditawarkan.
Menurut saya, memahami konsumen merupakan bagian penting dari strategi kewirausahaan. Pelaku usaha dapat memanfaatkan tanggapan pembeli, hasil penjualan, dan evaluasi produk untuk mengetahui apakah harga yang ditetapkan sudah sesuai. Dengan demikian, penetapan harga tidak hanya berdasarkan perkiraan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pasar.
Persaingan Bukan Berarti Harus Selalu Lebih Murah
Persaingan bisnis memang tidak dapat dihindari, terutama ketika banyak penjual menawarkan produk yang serupa. Namun, menurut saya, pelaku UMKM tidak harus selalu menurunkan harga untuk menarik perhatian konsumen. Kualitas produk, pelayanan, kemasan, dan pengalaman berbelanja juga dapat menjadi pertimbangan pembeli.
Sebagai contoh, dua penjual makanan mungkin menawarkan produk dengan jenis yang sama, tetapi memiliki perbedaan dari segi rasa, kebersihan, kemasan, dan pelayanan. Konsumen dapat memiliki pertimbangan tersendiri ketika memilih produk yang akan dibeli. Hal ini menunjukkan bahwa harga bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan pembelian.
Pelaku usaha dapat mencari nilai tambah yang sesuai dengan kemampuan bisnisnya. Misalnya, menjaga kualitas produk, memberikan informasi yang jelas, atau meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Strategi tersebut dapat menjadi alternatif selain terus memberikan potongan harga yang berpotensi mengurangi keuntungan.
Peran Pencatatan Akuntansi dalam Menentukan Harga
Penentuan harga jual juga berkaitan dengan pencatatan akuntansi. Melalui pencatatan yang teratur, pemilik usaha dapat mengetahui biaya produksi, pengeluaran operasional, omzet, dan keuntungan yang diperoleh. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan strategi harga berikutnya.
Sayangnya, sebagian pelaku usaha kecil masih mengandalkan perkiraan dalam menentukan harga produk. Ketika harga bahan baku berubah, mereka mungkin tidak langsung menghitung kembali biaya yang dikeluarkan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, keuntungan usaha dapat berkurang tanpa disadari.
Menurut saya, pembukuan sederhana dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pelaku UMKM tidak harus langsung menggunakan sistem akuntansi yang kompleks. Mereka dapat mulai mencatat biaya dan transaksi secara rutin agar memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bisnis.
Menentukan Harga untuk Keberlanjutan Usaha
Pada akhirnya, menentukan harga jual UMKM bukan hanya tentang menawarkan produk dengan harga yang menarik, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara biaya, keuntungan, dan kebutuhan konsumen. Harga yang ditetapkan perlu mempertimbangkan kemampuan usaha agar kegiatan operasional dapat terus berjalan.
Menurut saya, pelaku UMKM perlu mulai membiasakan diri menghitung biaya dan mengevaluasi harga secara berkala. Perubahan harga bahan baku, biaya pengiriman, maupun kondisi pasar dapat memengaruhi strategi penjualan. Oleh karena itu, keputusan harga sebaiknya tidak hanya dibuat pada saat awal usaha, tetapi juga ditinjau kembali ketika terjadi perubahan dalam kegiatan bisnis.
Menjalankan usaha memang membutuhkan kemampuan untuk bersaing, tetapi persaingan tidak selalu harus dilakukan dengan menawarkan harga paling murah. Pelaku UMKM juga perlu memahami nilai produk dan mengelola biaya secara tepat. Dengan perencanaan yang baik, harga jual dapat menjadi salah satu bagian dari strategi untuk menjaga keberlangsungan dan mendukung perkembangan usaha.
