Live Shopping: Cara Baru UMKM Menarik Konsumen di Era Jualan Online

mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari istykomah wahyu ningseh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Live shopping semakin sering digunakan dalam aktivitas jualan online di Indonesia. Saat membuka media sosial atau marketplace, kita dapat dengan mudah menemukan penjual yang melakukan siaran langsung sambil menawarkan berbagai produk, mulai dari pakaian, makanan, kosmetik, hingga kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa cara penjual memperkenalkan produk mulai mengalami perubahan. Konsumen kini tidak hanya mengandalkan foto dan deskripsi, tetapi juga dapat melihat produk secara langsung melalui siaran langsung.
Menurut saya, kehadiran live shopping menjadi salah satu perkembangan menarik dalam dunia jualan online. Jika sebelumnya konsumen hanya melihat foto, harga, dan deskripsi produk, sekarang mereka dapat berinteraksi langsung dengan penjual. Konsumen bisa mengajukan pertanyaan mengenai produk dan memperoleh jawaban pada saat itu juga. Hal ini membuat pengalaman belanja terasa lebih interaktif dan memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mendapatkan informasi sebelum memutuskan pembelian.
Misalnya, ketika seseorang ingin membeli pakaian melalui marketplace, foto produk memang dapat memberikan gambaran mengenai model dan warna. Namun, terkadang masih ada keraguan mengenai bahan, ukuran, atau kesesuaian warna aslinya. Melalui live shopping, penjual dapat memperlihatkan produk secara langsung, menjelaskan detailnya, serta menjawab pertanyaan calon pembeli. Cara ini dapat membantu konsumen memperoleh gambaran produk yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat katalog.
Perkembangan live shopping di Indonesia juga terlihat dari tingginya penggunaan platform siaran langsung untuk berbelanja. Berdasarkan survei JakPat pada November–Desember 2025 yang dikutip Data Indonesia, Shopee Live diakses oleh 76 persen responden, sedangkan TikTok Live mencapai 56 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa live shopping telah menjadi salah satu bagian dari kebiasaan belanja online responden dalam survei tersebut.
Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perkembangan ini membuka peluang untuk memperkenalkan produk kepada konsumen secara lebih luas. Salah satu tantangan dalam jualan online adalah membangun kepercayaan karena konsumen tidak dapat memeriksa produk secara langsung sebelum membelinya. Melalui live shopping, penjual memiliki kesempatan untuk menunjukkan kondisi produk, menjelaskan kualitas, serta memberikan informasi mengenai harga, ukuran, warna, dan cara penggunaan.
Selain menjadi sarana promosi, live shopping juga dapat membantu UMKM memahami kebutuhan konsumen. Pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan penonton selama siaran berlangsung bisa menjadi masukan bagi penjual. Misalnya, ketika banyak penonton menanyakan ukuran, bahan, atau ketahanan suatu produk, penjual dapat menjadikan hal tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan informasi dan pelayanan.
Namun, menurut saya, live shopping bukan berarti foto produk sudah tidak lagi dibutuhkan. Keduanya justru dapat digunakan secara bersamaan untuk mendukung kegiatan jualan online. Foto produk berfungsi sebagai etalase yang dapat dilihat kapan saja, sedangkan live shopping menjadi sarana untuk menjelaskan produk secara lebih terperinci dan membangun interaksi dengan calon konsumen. Dengan demikian, penjual dapat memberikan pengalaman belanja yang lebih lengkap.
Di sisi lain, menjalankan live shopping juga membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik. Penjual tidak cukup hanya menampilkan produk di depan kamera, tetapi juga perlu menjelaskan keunggulan produk dengan jelas, menjawab pertanyaan penonton, dan menjaga suasana agar siaran tetap menarik. Hal ini terlihat dari adanya Certified LIVE Host Program yang diluncurkan TikTok Shop by Tokopedia bersama GIK UGM pada 2025. Program tersebut mencakup pelatihan teknik siaran langsung, storytelling, interaksi dengan audiens, dan pemanfaatan data livestream. Kehadiran pelatihan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menjadi live host juga membutuhkan persiapan dan keterampilan tersendiri.
Meskipun menawarkan peluang, live shopping bukanlah strategi yang selalu menghasilkan penjualan tinggi. Jumlah penonton yang banyak belum tentu sebanding dengan jumlah pembeli. Sebagian orang mungkin hanya menonton karena tertarik dengan produk atau promosi yang ditawarkan, tetapi belum tentu memiliki keinginan untuk membeli. Oleh karena itu, UMKM tetap perlu memperhatikan kualitas produk, harga, pelayanan, ketersediaan stok, dan strategi promosi agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
Selain itu, tidak semua jenis usaha memiliki kebutuhan dan karakteristik konsumen yang sama. Produk yang membutuhkan demonstrasi secara langsung mungkin lebih mudah diperkenalkan melalui live shopping, sedangkan produk lainnya mungkin cukup dipasarkan melalui foto, video, atau katalog online. Karena itu, UMKM perlu menyesuaikan strategi pemasaran dengan jenis produk, target konsumen, serta kemampuan dalam mengelola siaran langsung.
Menurut saya, hal yang paling penting bukan sekadar mengikuti tren live shopping, melainkan bagaimana UMKM dapat memanfaatkan teknologi sesuai dengan kebutuhan usahanya. Penjual tidak harus melakukan siaran langsung setiap hari atau mengejar jumlah penonton yang tinggi. Mereka dapat memulainya dengan persiapan sederhana, memahami pertanyaan konsumen, dan mengevaluasi hasil setiap siaran untuk mengetahui strategi yang sesuai.
Pada akhirnya, perkembangan live shopping menunjukkan bahwa jualan online tidak lagi hanya mengandalkan tampilan produk, tetapi juga pengalaman dan interaksi dengan konsumen. Bagi UMKM, hal ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun hubungan dengan calon pembeli. Foto produk tetap memiliki peran sebagai etalase, sementara live shopping menjadi ruang untuk berkomunikasi secara langsung. Keduanya dapat saling melengkapi selama digunakan dengan strategi yang tepat.
