Orang Tua Rajin Cari Sekolah Islam, Lalu Lupa Mendidik di Rumah

Mahasiswa pendidikan islam anak usia dini (Uin fatmawati sukarno bengkulu)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jesika Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap awal tahun ajaran, banyak orang tua sibuk berburu sekolah Islam terbaik untuk anaknya. Brosur dibandingkan, biaya dihitung, dan kurikulum dibaca dengan teliti. Semua dilakukan demi satu harapan: anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Namun, di tengah semangat itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: sudahkah kita mendidik anak di rumah sebagaimana kita berusaha mencarikannya sekolah?
Lembaga PAUD dan TK Islam kini tumbuh di mana-mana. Ada yang menawarkan program hafalan Al-Qur’an sejak usia empat tahun, ada pula yang menonjolkan pembiasaan ibadah dan adab sehari-hari. Tidak sedikit orang tua yang rela mendaftar jauh-jauh hari, bahkan menempuh jarak cukup jauh demi mendapatkan sekolah yang dianggap paling islami.
Niat ini tentu baik. Tetapi sering muncul anggapan yang diam-diam ikut terbawa: bahwa begitu anak masuk sekolah Islam, urusan akhlak dan agamanya akan beres. Seolah-olah tugas orang tua selesai setelah biaya pendaftaran dilunasi dan seragam dibeli.
Padahal, jika dihitung, waktu anak di sekolah hanya beberapa jam setiap hari. Selebihnya, ia berada di rumah, bersama orang tua, saudara, dan lingkungan sekitarnya. Di sanalah sebagian besar kebiasaan terbentuk: cara berbicara, cara menyikapi marah, hingga cara memandang ibadah.
Dalam pandangan Islam, keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Guru di sekolah memang berperan penting, tetapi perannya melengkapi, bukan menggantikan. Sekolah terbaik sekalipun akan kesulitan menanamkan nilai yang tidak pernah dicontohkan di rumah.
Bayangkan seorang anak yang pulang dengan bangga karena hafal doa sebelum makan dan doa masuk kamar mandi. Namun di rumah, ia melihat orang tuanya berbicara dengan nada tinggi, lebih sibuk dengan gawai daripada mengajaknya bercerita, dan jarang terlihat salat bersama. Anak itu tidak bodoh. Ia hanya sedang belajar bahwa yang diucapkan di sekolah berbeda dengan yang dijalani di rumah.
Pada usia dini, anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya. Ketika ucapan dan perbuatan orang dewasa tidak sejalan, yang tertanam bukan nilai agamanya, melainkan kebingungan.
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua? Kabar baiknya, mendidik anak di rumah tidak memerlukan program rumit atau biaya besar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kemauan untuk hadir.
Pertama, jadilah teladan. Anak lebih cepat meniru daripada menurut. Jika ingin anak jujur, sabar, dan rajin beribadah, mulailah dari sikap kita sendiri sehari-hari.
Kedua, ciptakan kebiasaan ibadah di rumah. Salat berjamaah meski hanya beberapa kali seminggu, membaca doa bersama sebelum makan atau tidur, atau mengaji sebentar setelah magrib sudah cukup menumbuhkan kedekatan anak dengan ibadah, tanpa paksaan.
Ketiga, sediakan waktu bercerita. Kisah para nabi, sahabat, atau cerita sederhana tentang kebaikan lebih mudah diingat anak daripada nasihat panjang. Dua puluh menit tanpa gawai setiap hari sudah berarti banyak.
Keempat, bangun komunikasi dengan guru. Tanyakan apa yang sedang dipelajari anak di sekolah, lalu lanjutkan di rumah. Dengan begitu, sekolah dan rumah berjalan searah, bukan sendiri-sendiri.
Memilih sekolah Islam yang baik tentu langkah yang patut dihargai. Namun, itu baru separuh perjalanan. Sekolah dapat mengajarkan doa, hafalan, dan aturan, tetapi rumahlah yang menunjukkan bagaimana semua itu dijalani dalam kehidupan nyata.
Maka, sebelum sibuk mencari sekolah terbaik, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah rumah kita menjadi tempat terbaik bagi anak untuk belajar menjadi hamba Allah yang baik?
