Di Tengah Tugas yang Menumpuk, Aku Bersyukur Memiliki Kelas yang Mendukung

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Dan Desain, Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Jonathan Christian Paruhum Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau ada yang bertanya, "Apa hal terbaik yang kamu dapat selama kuliah?"
Mungkin banyak orang akan menjawab nilai yang bagus, dosen favorit, organisasi, atau pengalaman magang. Jawabanku sedikit berbeda.
Aku beruntung dipertemukan dengan satu kelas yang membuat setiap hari di kampus terasa menyenangkan.
Sebelum kuliah dimulai, jujur saja aku sempat khawatir. Aku sering mendengar cerita tentang kelas yang penuh persaingan tidak sehat, teman yang individualis, kelompok yang saling membatasi pergaulan, bahkan budaya senioritas yang membuat orang tidak nyaman untuk menjadi diri sendiri. Dalam pikiranku, kalau sampai mendapatkan lingkungan seperti itu, mungkin setiap pagi aku akan berangkat ke kampus hanya karena kewajiban, bukan karena keinginan.
Namun ternyata, semesta memberiku cerita yang berbeda.
Sejak awal perkuliahan, aku merasa berada di tempat yang tepat. Di kelas ini tidak ada yang merasa paling hebat. Tidak ada yang sengaja membuat orang lain merasa kecil. Kami datang dengan latar belakang yang berbeda, tetapi perlahan tumbuh menjadi satu kelompok yang saling menerima.
Yang paling kusukai adalah suasana yang terasa hidup. Saat dosen belum masuk, selalu ada tawa yang memenuhi ruangan. Ada yang bercanda, ada yang saling berbagi cerita, ada yang membantu mengingatkan tugas, bahkan hal-hal sederhana seperti meminjamkan charger atau berbagi catatan menjadi sesuatu yang dilakukan tanpa diminta.
Mungkin terdengar sepele. Namun justru hal-hal kecil seperti itu yang membuat seseorang betah datang ke kampus.
Aku sering berpikir, bagaimana jadinya kalau aku mendapatkan kelas yang pasif? Kelas yang semua orang hanya datang, duduk, mendengarkan, lalu pulang tanpa saling mengenal. Atau kelas yang dipenuhi ego, geng-gengan, dan rasa sungkan untuk sekadar mengajak ngobrol. Mungkin kuliah akan terasa jauh lebih melelahkan. Mungkin aku akan menghitung hari menuju libur, bukan menantikan hari untuk kembali ke kampus.
Untungnya, yang kurasakan justru sebaliknya.
Di kelas ini, tugas kelompok bukan alasan untuk saling menyalahkan. Presentasi bukan ajang menjatuhkan teman. Ketika ada yang kesulitan, selalu ada yang menawarkan bantuan. Ketika ada yang berhasil, semua ikut memberi selamat tanpa rasa iri. Hal-hal seperti itu membuatku sadar bahwa lingkungan yang sehat bukan hanya membuat kita nyaman, tetapi juga membuat kita berkembang.
Aku mulai menyadari bahwa semangat datang ke kampus ternyata tidak selalu berasal dari mata kuliah yang menarik. Kadang, semangat itu lahir karena kita tahu akan bertemu orang-orang yang membuat hari terasa lebih ringan.
Banyak orang menganggap kuliah hanya tentang mengejar IPK, lulus tepat waktu, atau mencari pengalaman sebanyak mungkin. Semua itu memang penting. Namun ada satu hal yang menurutku sering terlupakan, yaitu kualitas orang-orang yang menemani proses tersebut.
Sebab sebaik apa pun fasilitas kampus, sebanyak apa pun kegiatan yang diikuti, jika setiap hari berada di lingkungan yang membuat kita tidak nyaman, rasanya akan sulit menikmati masa kuliah.
Sebaliknya, ketika dikelilingi teman-teman yang saling mendukung, saling menghargai, dan memiliki energi positif, bahkan hari yang dipenuhi tugas pun tetap bisa dilalui sambil tertawa.
Kini aku benar-benar percaya bahwa keberuntungan tidak selalu datang dalam bentuk nilai A atau kesempatan besar. Kadang, keberuntungan hadir dalam bentuk orang-orang yang duduk di kursi sebelah kita. Orang-orang yang mungkin tidak akan selalu bersama selamanya, tetapi telah membuat masa kuliah menjadi salah satu bab paling berharga dalam hidup.
Dan jika suatu hari nanti aku mengenang masa kuliah, mungkin yang paling kuingat bukan nilai ujian atau tugas yang pernah kukerjakan. Yang akan selalu kuingat adalah suara tawa di dalam kelas, obrolan-obrolan sederhana sebelum dosen datang, kerja sama yang tulus, dan rasa syukur karena pernah dipertemukan dengan teman-teman yang membuatku selalu punya alasan untuk semangat berangkat ke kampus.
