Tem.peh Hadir Sebagai Teman Camilan Praktis

Perkenalkan, nama saya Jonathan Sebastian saya merupakan seorang mahasiswa aktif semester 3 dari Universitas Bunda Mulia Ancol dengan prodi ilmu komunikasi.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari JONATHAN SEBASTIAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tempe merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang telah dikenal sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain diolah menjadi lauk, tempe juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk makanan ringan, salah satunya keripik tempe. Pengolahan ini menjadi salah satu cara untuk menghadirkan bahan pangan tradisional dalam bentuk camilan yang praktis. Salah satu usaha yang mengembangkan produk tersebut adalah Tem.peh, sebuah bisnis lokal yang bergerak di bidang makanan ringan, khususnya keripik tempe. Usaha ini dirintis pada 2017 oleh William bersama Daniel Jonathan Leo. Melalui produk keripik tempe, Tem.peh mengembangkan bahan pangan yang telah dikenal masyarakat menjadi produk olahan dengan variasi rasa dan ukuran kemasan.
Tempe umumnya dibuat dari kedelai yang difermentasi menggunakan kapang dari kelompok Rhizopus. Proses fermentasi tersebut menghasilkan tekstur padat dengan lapisan putih yang menyatukan biji kedelai. Selain menjadi bahan pangan tradisional, tempe juga dikenal sebagai sumber protein nabati. Pengolahannya menjadi keripik menghadirkan bentuk konsumsi yang berbeda dari tempe yang biasa disajikan sebagai lauk.
Sejarah dan Perkembangan Bisnis Tem.peh
Tem.peh mulai dikembangkan pada 2017 oleh William dan Daniel Jonathan Leo. Usaha ini berawal dari keinginan kedua pendirinya untuk membangun bisnis sendiri dengan memanfaatkan peluang di bidang makanan. Tempe dipilih sebagai bahan utama karena telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia dan dapat diolah menjadi produk makanan ringan. Dalam pengembangannya, Tem.peh berupaya menghadirkan keripik tempe sebagai produk yang tidak hanya ditujukan untuk konsumsi sehari-hari, tetapi juga berpotensi menjadi oleh-oleh khas Jakarta. Pengembangan produk pangan tradisional menjadi camilan merupakan salah satu pendekatan yang dapat dilakukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memberikan nilai tambah pada bahan pangan lokal.
Perjalanan usaha Tem.peh juga menghadapi tantangan ketika pandemi COVID-19 memengaruhi aktivitas ekonomi dan kegiatan bisnis. Perubahan kondisi pasar tersebut berdampak pada penjualan sehingga diperlukan penyesuaian strategi pemasaran. Pemanfaatan media sosial dan platform perdagangan elektronik atau e-commerce menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk mempertahankan usaha dan menjangkau konsumen melalui saluran digital. Penggunaan platform digital memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen di luar jangkauan pemasaran konvensional. Bagi Tem.peh, pemasaran digital menjadi bagian dari upaya mengembangkan usaha keripik tempe dan memperluas pengenalan produk kepada masyarakat.
Ukuran Kemasan dan Varian Rasa.
Tem.peh menawarkan keripik tempe dalam tiga pilihan ukuran kemasan, yaitu small 100 gram, medium 250 gram, dan large 500 gram. Perbedaan ukuran tersebut memberikan alternatif bagi konsumen sesuai dengan kebutuhan pembelian, baik untuk konsumsi pribadi maupun sebagai buah tangan. Selain ukuran kemasan, Tem.peh menyediakan beberapa varian rasa yang memadukan karakter tempe dengan bumbu yang berbeda. Varian yang ditawarkan meliputi original, pedas manis, dan jeruk nipis pedas. Varian original mengusung cita rasa gurih dengan perpaduan rempah-rempah. Sementara itu, varian pedas manis memadukan rasa pedas dan manis. Adapun varian jeruk nipis pedas menggabungkan rasa pedas dengan cita rasa jeruk nipis.
Keberagaman varian tersebut menjadi bagian dari pengembangan produk yang dilakukan Tem.peh. Melalui pilihan rasa yang berbeda, keripik tempe dihadirkan sebagai produk olahan dengan alternatif cita rasa bagi konsumen.
Pemasaran Produk melalui Platform Digital.
Dalam memasarkan produknya, Tem.peh memanfaatkan platform digital, termasuk media sosial Instagram dan lokapasar Shopee. Kedua platform tersebut dapat digunakan untuk memperkenalkan produk, menampilkan pilihan yang tersedia, serta memberikan informasi kepada calon konsumen. Masyarakat yang ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai produk Tem.peh dapat mengunjungi akun Instagram @tem.peh dan toko Shopee Tem.peh Official. Informasi mengenai harga, ketersediaan produk, dan pilihan kemasan dapat diperiksa melalui kanal penjualan tersebut. Pemanfaatan media digital menjadi salah satu sarana pemasaran yang relevan bagi UMKM dalam menghadapi perubahan kebiasaan konsumen. Melalui kanal daring, pelaku usaha memiliki kesempatan untuk menyampaikan informasi produk sekaligus memperluas akses pembelian tanpa hanya bergantung pada penjualan secara langsung.
Mengembangkan Pangan Tradisional Menjadi Produk Olahan.
Perkembangan Tem.peh menunjukkan salah satu bentuk pengolahan pangan tradisional menjadi produk yang memiliki fungsi dan bentuk konsumsi berbeda. Tempe yang umumnya disajikan sebagai lauk diolah menjadi keripik dengan pilihan rasa dan ukuran kemasan. Di tengah persaingan industri makanan ringan, pengembangan produk, penyesuaian strategi pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi sejumlah aspek yang dapat diperhatikan oleh pelaku UMKM. Bagi usaha yang mengangkat bahan pangan lokal, upaya tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengenalan produk tradisional kepada konsumen yang lebih luas.
Melalui keripik tempe, Tem.peh menjadi salah satu contoh usaha lokal yang mengembangkan bahan pangan yang telah dikenal masyarakat Indonesia menjadi produk makanan ringan. Keberlanjutan pengembangan usaha ini akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk kualitas produk, strategi pemasaran, ketersediaan bahan baku, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
