Erupsi Krakatau dan Wisata Anyer-Carita, Jangan Sekadar Bilang Aman

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang , Admin Pantai Kelapa Jangkung
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Juanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih dari sebulan terakhir, pesan yang masuk ke WhatsApp dan TikTok pantai tempat saya bekerja sebagai admin hampir selalu sama: “Kak, di sana aman nggak?” Di saat yang sama, jumlah pengunjung turun sekitar 50 persen dan para pelaku UMKM mulai mengeluh. Pedagang makanan, penyewa tikar dan ban, hingga pengelola parkir merasakan dampaknya langsung.
Menurut saya, pelaku wisata perlu mengubah cara menjawab kekhawatiran wisatawan, dari sekadar menenangkan menjadi menginformasikan, penyebab turunnya kunjungan tidak tunggal, tetapi kabar erupsi Gunung Anak Krakatau jelas ikut berpengaruh. Menurut laporan PVMBG di MAGMA Indonesia per 13 Oktober 2026, gunung ini berstatus Level III (Siaga), dengan larangan beraktivitas dalam radius 5 km dari pusat erupsi.
Pantai kami berjarak lebih dari 50 km dari gunung, jauh di luar zona tersebut. PVMBG juga meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap tenang, tidak mempercayai isu tsunami yang beredar, dan beraktivitas seperti biasa sambil mengikuti arahan BPBD setempat. Namun bagi calon wisatawan, imbauan itu tidak otomatis menenangkan. Ingatan akan tsunami Selat Sunda 2018, yang menghantam pesisir Banten dan Lampung termasuk Anyer dan Carita, membuat kecemasan mudah muncul kembali.
Jawaban aman tidak cukup
Jujur, awalnya saya menjawab pertanyaan pengunjung dengan satu kata: “aman.” Saya kira itu cukup menenangkan. Belakangan saya sadar jawaban itu bermasalah. Kata “aman” tanpa dasar tidak memberi pengunjung alasan untuk percaya, dan status gunung bisa berubah sewaktu-waktu. Jika kondisi berubah, kepercayaan mereka bisa hilang sekaligus.
Orang yang bertanya sebenarnya tidak meminta jaminan. Mereka meminta bahan untuk mengambil keputusan: apa statusnya, di mana batas bahayanya, dan siapa yang memantau. Dalam komunikasi krisis, kecepatan, keterbukaan, dan konsistensi sumber informasi lebih penting daripada kalimat yang menenangkan.
Belajar dari koordinasi di Cilegon
Di wilayah tetangga, koordinasi lintas pihak sudah berjalan. Pada 7 September 2026, Pemerintah Kota Cilegon mengumpulkan perwakilan industri dan perangkat daerah untuk membahas kesiapan menghadapi potensi erupsi Gunung Anak Krakatau. Sekda Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, meminta industri menyampaikan kesiapan dan rencana penanganan bencananya kepada pemerintah, karena keterbukaan informasi dan koordinasi sejak awal dinilai dapat meminimalkan kekhawatiran dan mempercepat penanganan. BPBD setempat juga menyebut penanganan dibagi dalam tiga level agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Berita itu berfokus pada industri, bukan wisata. Tetapi pesannya relevan: kekhawatiran publik dikurangi dengan keterbukaan dan pembagian peran yang jelas sejak awal. Pertanyaannya, di mana posisi pelaku wisata Anyer dan Carita dalam alur seperti ini? Pantai dan UMKM adalah pihak yang paling sering ditanya wisatawan, tetapi belum tentu dilibatkan dalam jalur informasi resmi.
Dari pengalaman saya, ada tiga hal yang bisa dilakukan pelaku usaha wisata.
Pertama, rujuk sumber resmi. Sampaikan status terbaru dari PVMBG atau BNPB, lengkap dengan tanggal pembaruannya. PVMBG sendiri menyediakan laporan berkala dan kontak Pos Pengamatan di Pasauran, Banten, yang bisa dirujuk wisatawan.
Kedua, jelaskan kondisi lokasi secara jujur dan terukur. Sampaikan jarak pantai dari gunung (lebih dari 50 km) dan bahwa zona larangan yang ditetapkan saat ini radius 5 km dari pusat erupsi. Akui bahwa status gunung bisa berubah, dan tegaskan bahwa kami terus memantau info resmi serta akan segera mengabari bila ada perubahan.
Ketiga, buat informasi mudah ditemukan. Postingan tersemat di media sosial dan status WhatsApp yang diperbarui rutin menghemat waktu dan mengurangi simpang siur dibanding menjawab pesan satu per satu.
Dari sudut pandang manajemen, komunikasi seperti ini bukan sekadar urusan humas, tetapi bagian dari menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan usaha.
Wisatawan biasanya melihat Anyer dan Carita sebagai satu kawasan. Jika satu pengelola menjawab dengan cara berbeda dari yang lain, calon pengunjung justru makin bingung. Karena itu, kanal informasi bersama antara pengelola wisata, pelaku UMKM, dinas pariwisata, dan BPBD akan sangat membantu. Satu suara yang konsisten jauh lebih efektif daripada puluhan jawaban berbeda. Pelaku wisata juga tidak perlu menunggu dilibatkan: langkah awalnya bisa sesederhana menyeragamkan jawaban dan merujuk sumber yang sama.
Bagi kami, taruhannya nyata. Dalam sebulan lebih terakhir, kunjungan ke pantai tempat saya bekerja turun sekitar 50 persen dibanding sebelumnya. Penurunan sebesar itu terasa langsung di warung, penyewaan, dan parkir, yang pendapatannya bergantung pada keramaian.
Kewaspadaan terhadap gunung api dan keberlangsungan usaha wisata tidak harus bertentangan. Keduanya bisa berjalan bersama selama komunikasinya jujur, cepat, dan merujuk pada sumber resmi. Bagi kami yang bekerja di lapangan, pelajaran terpentingnya sederhana: jangan sekadar bilang “aman”, tunjukkan dasarnya. Kepercayaan wisatawan dibangun dari situ, dan kepercayaan itulah yang paling menentukan nasib para pelaku usaha di Anyer dan Carita ke depan.
