Susunan Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Sekolah

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada Hari Kesaktian Pancasila, maka seluruh instansi termasuk sekolah mengadakan upacara bendera. Susunan upacara Hari Kesaktian Pancasila di sekolah ini bisa dijadikan contoh.
Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) secara resmi mengumumkan tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2024, yaitu "Bersama Pancasila Kita Wujudkan Indonesia Emas."
Tema ini diangkat sebagai visi untuk mencapai masa depan gemilang bagi Indonesia. Sebelumnya, tema yang diusung adalah "Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Maju", yang memiliki makna serupa dalam mendorong persatuan dan kemajuan bangsa.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Susunan Upacara Hari Kesaktian Pancasila
Acara utama dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini adalah upacara bendera. Berikut adalah susunan upacara Hari Kesaktian Pancasila di sekolah.
1. Persiapan Upacara
Seluruh peserta upacara (siswa, guru, dan staf sekolah) memasuki lapangan upacara dan mengambil posisi sesuai petunjuk pembina upacara.
2. Pemimpin Upacara Memasuki Lapangan
Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara, disusul dengan laporan kepada pembina upacara bahwa upacara siap dimulai.
3. Pengibaran Bendera Merah Putih
Pasukan pengibar bendera memasuki lapangan upacara.
Pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya.
4. Mengheningkan Cipta
Dipimpin oleh pembina upacara untuk mengenang jasa para pahlawan, diiringi lagu Mengheningkan Cipta.
5. Pembacaan Teks Pancasila
Teks Pancasila dibacakan oleh pembina upacara, diikuti oleh seluruh peserta upacara.
6. Pembacaan Naskah UUD 1945
Pembacaan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 oleh petugas yang ditunjuk.
7. Pembacaan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila
Ikrar Hari Kesaktian Pancasila dibacakan oleh petugas yang ditunjuk, berisi komitmen untuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
8. Amanat Pembina Upacara
Amanat atau pidato singkat dari pembina upacara tentang pentingnya memperingati Hari Kesaktian Pancasila dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
9. Doa
Pembacaan doa yang dipimpin oleh petugas, untuk mengakhiri rangkaian upacara.
10. Penghormatan kepada Pembina Upacara
Pemimpin upacara memimpin penghormatan kepada pembina upacara.
11. Laporan Pemimpin Upacara
Pemimpin upacara melaporkan kepada pembina upacara bahwa upacara telah selesai dilaksanakan.
12. Upacara Selesai
Pembina upacara meninggalkan lapangan, diikuti oleh peserta upacara secara tertib.
Pedoman Penyelenggaraan Upacara Hari Kesaktian Nasional 2024 di Satuan Pendidikan
Upacara bendera peringatan Hari Kesaktian Nasional 2024 juga akan dilaksanakan secara luring. Berikut adalah susunan pokok yang ditentukan:
Penghormatan umum kepada inspektur upacara, yang dipimpin oleh komandan upacara.
Laporan Komandan Upacara bahwa upacara siap dilaksanakan.
Mengheningkan cipta yang dipimpin oleh inspektur upacara.
Pembacaan teks Pancasila.
Pembacaan naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Pembacaan naskah ikrar.
Pembacaan naskah doa.
Andhika Bhayangkari (sesuai situasi dan kondisi).
Laporan komandan upacara, upacara selesai.
Penghormatan umum kepada inspektur upacara.
Upacara selesai.
Contoh Amanat Pembina Upacara
Berikut adalah contoh amanat pembina upacara yang bisa dijadikan referensi:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, para guru dan staf sekolah, serta teman-teman yang saya cintai.
Pada pagi yang cerah ini, kita berkumpul untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila, yang jatuh pada tanggal 1 Oktober. Hari ini adalah momen penting bagi kita sebagai warga negara Indonesia untuk merenungkan kembali makna dan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara kita. Pancasila bukan hanya sekadar lambang, tetapi merupakan jiwa dan identitas bangsa yang harus kita jaga dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1965, bangsa kita mengalami peristiwa tragis yang dikenal dengan Gerakan 30 September (G30S). Dalam peristiwa tersebut, beberapa jenderal Angkatan Darat diculik dan dibunuh oleh sekelompok militer yang mengklaim diri mereka sebagai bagian dari G30S.
Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah Indonesia, yang mengubah arah perjalanan bangsa ini menuju era Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Suharto. Dalam konteks tersebut, Pancasila ditegaskan kembali sebagai ideologi negara yang harus dipertahankan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita akan pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pertama, sila pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa", menegaskan bahwa kita sebagai bangsa yang beragam tetap harus menghormati dan menghargai perbedaan, baik dalam hal agama, suku, maupun budaya.
Nilai ini menjadi dasar bagi kita untuk hidup rukun dan damai dalam masyarakat yang majemuk. Kita harus bisa menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana semua orang merasa dihargai dan diterima, tanpa memandang latar belakang mereka.
Kedua, sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab", mengingatkan kita untuk memperlakukan sesama manusia dengan baik, adil, dan beradab. Sebagai generasi muda, kita harus menunjukkan sikap saling menghormati, baik di sekolah maupun di masyarakat. Dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kita berkontribusi dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi semua orang untuk berkembang.
Selanjutnya, sila ketiga, "Persatuan Indonesia", menekankan pentingnya persatuan dalam kebhinekaan. Di era globalisasi ini, kita harus tetap menjunjung tinggi semangat persatuan. Mari kita tinggalkan segala perbedaan yang dapat memecah belah kita. Sebagai pelajar, kita dapat memperkuat persatuan melalui kegiatan bersama, seperti kegiatan sosial, ekstrakurikuler, dan kegiatan lain yang mempererat hubungan antar teman.
Sila keempat, "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan", mengajarkan kita pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan. Di sekolah, kita harus bisa mendiskusikan berbagai masalah secara terbuka dan mencari solusi terbaik melalui musyawarah. Dengan demikian, kita akan menciptakan lingkungan yang demokratis dan saling menghargai pendapat.
Terakhir, sila kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", mengingatkan kita akan tanggung jawab kita untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Kita harus peduli terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Melalui kegiatan sosial, seperti bakti sosial atau penggalangan dana, kita dapat menunjukkan kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar.
Siswaku yang saya sayangi,
Dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, mari kita berkomitmen untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Kita adalah generasi penerus yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Mari kita tingkatkan kesadaran dan kepekaan sosial kita, sehingga kita bisa menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat.
Saya juga mengajak semua teman-teman untuk lebih aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung nilai-nilai Pancasila. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, kita bisa lebih memahami arti dari Pancasila dan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.
Sebagai penutup, mari kita bersama-sama mengucapkan ikrar untuk senantiasa menjaga dan mengamalkan Pancasila dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga kita semua dapat menjadi generasi yang berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita bangsa menuju Indonesia yang lebih baik.
Sekian amanat yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi semua. Semoga Allah Swt. senantiasa memberkati kita dalam setiap langkah kita.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sejarah Hari Kesaktian Pancasila
Pada tahun 1965, Indonesia mengalami krisis politik yang berujung pada peristiwa Gerakan 30 September (G30S), di mana sejumlah jenderal Angkatan Darat diculik dan dibunuh.
Peristiwa ini dipicu oleh adanya isu bahwa para jenderal berencana melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.
Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sekelompok militer yang mengaku bagian dari Gerakan 30 September melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam jenderal.
Mereka mengklaim tindakan tersebut untuk menyelamatkan negara dari pengaruh PKI (Partai Komunis Indonesia).
Keesokan harinya, 1 Oktober 1965, situasi politik mulai berubah. Jenderal Suharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), mengambil alih komando untuk menanggulangi situasi dan memberantas pengaruh PKI.
Setelah peristiwa tersebut, Pancasila sebagai dasar negara kembali ditegaskan. Pada 1 Oktober 1966, dalam rangka memperingati peristiwa G30S.
Pemerintah Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Suharto mengadakan upacara peringatan yang menekankan pentingnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Pancasila dianggap sebagai simbol kesatuan dan persatuan bangsa.
Sejak tahun 1966, tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Upacara dan kegiatan lainnya dilakukan untuk mengenang peristiwa G30S dan meneguhkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat Indonesia.
Hari Kesaktian Pancasila merupakan momentum untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya Pancasila dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencegah ideologi-ideologi yang dapat mengancam keutuhan negara.
Peringatan ini juga berfungsi sebagai pengingat akan perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan negara dari pengaruh yang merusak.
Baca Juga: Sistem Periodik: Unsur, Pengertian, Sejarah, Golongan, dan Cara Membacanya
Itulah susunan upacara Hari Kesaktian Pancasila di sekolah ini bisa dijadikan contoh lengkap dengan amanat pembina upacara. (Umi)
