Salah Asuhan: Mengapa Kita Harus Menjadi Barat untuk Dianggap Beradab?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kaila Shafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita merasa bahwa menjadi diri sendiri saja tidak cukup untuk dihargai? Kita melihat cara hidup orang lain, cara mereka berpikir, hingga bagaimana mereka memperoleh pengakuan. Tanpa disadari, kita mulai menganggap bahwa apa yang berasal dari luar selalu lebih baik daripada apa yang kita miliki. Kita ingin berubah, bukan semata-mata untuk berkembang, melainkan karena merasa identitas sendiri tidak cukup berharga untuk dibanggakan.
Persoalannya, bagaimana jika perasaan rendah diri tersebut bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan juga terbentuk dari lingkungan yang mengajarkan bahwa ada kebudayaan yang lebih unggul daripada kebudayaan lainnya?
Pertanyaan ini menjadi salah satu persoalan penting dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis yang terbit pada 1928. Melalui kisah seorang tokoh utama yang mengagumi kehidupan Barat hingga merendahkan identitas pribuminya, novel ini tidak hanya menghadirkan konflik antara dua kebudayaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kolonialisme dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Ketika Menjadi Barat Dianggap Lebih Beradab
Kolonialisme tidak hanya bekerja melalui penguasaan wilayah dan kekuasaan politik. Kolonialisme juga dapat membentuk cara masyarakat memandang perbedaan, menentukan siapa yang dianggap maju, dan menetapkan kebudayaan mana yang layak dijadikan ukuran kemajuan. Ketika ukuran tersebut diterima tanpa dipertanyakan, masyarakat yang dijajah dapat mulai memandang dirinya melalui standar pihak yang menjajahnya.
Persoalan ini tercermin dalam Salah Asuhan. Tokoh utamanya memperoleh pendidikan Barat dan mengagumi kehidupan orang Eropa. Namun, kekaguman tersebut berkembang menjadi sikap yang membuat identitas pribumi dipandang lebih rendah. Kebudayaan asing tidak lagi sekadar menjadi sumber pengetahuan, tetapi berubah menjadi tolok ukur untuk menentukan nilai dirinya sendiri.
Di sinilah ironi pendidikan muncul. Pendidikan yang seharusnya memperluas wawasan justru dapat menjauhkan seseorang dari pemahaman terhadap dirinya sendiri ketika pengetahuan tidak disertai sikap kritis. Seseorang bisa mengenal banyak hal dari luar, tetapi tetap gagal mempertanyakan mengapa hal-hal tersebut dianggap lebih unggul daripada kebudayaannya sendiri.
Tentu, persoalannya bukan terletak pada budaya Barat atau keinginan untuk mempelajarinya. Setiap kebudayaan memiliki hal yang dapat dipelajari sekaligus dikritisi. Yang menjadi masalah adalah ketika satu kebudayaan ditempatkan sebagai standar mutlak, sementara kebudayaan lain dianggap rendah bahkan sebelum dipahami.
Jika seseorang merasa harus menyerupai kelompok yang dianggap lebih tinggi agar memperoleh penghargaan, bukankah persoalannya sudah melampaui urusan selera dan gaya hidup? Ia menyangkut cara kekuasaan membentuk ukuran harga diri.
Menjadi Modern Tidak Harus Berarti Menolak Asal-Usul
Dalam kehidupan sekarang, persoalan yang diangkat Salah Asuhan masih dapat menjadi bahan renungan. Perkembangan teknologi dan media sosial membuat kita semakin mudah mengenal kehidupan masyarakat dari berbagai belahan dunia. Kita dapat mempelajari bahasa asing, mengikuti perkembangan budaya populer, dan mengadopsi kebiasaan baru yang dianggap sesuai dengan kebutuhan.
Akan tetapi, kemudahan tersebut juga dapat membuat kita terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri. Kita mulai menilai cara berpakaian, berbicara, berpikir, bahkan kebiasaan masyarakat sendiri menggunakan standar yang berasal dari luar. Sesuatu yang dianggap modern sering kali langsung dipandang lebih baik, sedangkan sesuatu yang berasal dari tradisi sendiri dianggap ketinggalan zaman.
Padahal, modernitas tidak seharusnya diukur dari seberapa jauh seseorang meninggalkan identitasnya. Kemajuan dapat hadir melalui kemampuan untuk berpikir kritis, menerima perubahan, dan memilih hal-hal yang bermanfaat tanpa harus merendahkan kebudayaan sendiri.
Mengenal budaya lain seharusnya memperluas cara pandang, bukan mempersempit penghargaan terhadap diri sendiri. Kita dapat menerima perubahan sekaligus memahami bahwa asal-usul bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan.
Dalam hal ini, Salah Asuhan mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali hubungan antara pendidikan, lingkungan, dan pembentukan identitas. Pengetahuan seharusnya membantu seseorang memahami dunia sekaligus menempatkan dirinya di dalamnya, bukan membuatnya merasa perlu menjadi orang lain agar dianggap berharga.
Merdeka Bukan Berarti Harus Menjadi Orang Lain
Persoalan identitas dalam novel ini juga berkaitan dengan pilihan hidup. Cara seseorang memandang dirinya sendiri dapat memengaruhi keputusan yang diambil, termasuk ketika berhadapan dengan keluarga, hubungan antarmanusia, dan tuntutan masyarakat.
Melalui konflik yang dialami Hanafi, pembaca dapat melihat bahwa pilihan pribadi tidak pernah sepenuhnya terlepas dari lingkungan sosial. Keinginan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan pandangan sendiri dapat berbenturan dengan nilai yang dianut orang lain. Ketika seseorang terlalu terpaku pada pengakuan sosial atau merasa bahwa dirinya harus memenuhi standar tertentu, ia berisiko mengabaikan perasaan dan kepentingan orang-orang di sekitarnya.
Namun, bukan berarti setiap orang harus selalu mengikuti tradisi atau menerima seluruh tuntutan masyarakat tanpa pertimbangan. Tradisi pun dapat dikritisi, dan perubahan tetap diperlukan ketika suatu kebiasaan tidak lagi sesuai dengan keadaan. Yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana seseorang mengambil keputusan: apakah berdasarkan pemahaman yang matang atau sekadar keinginan untuk dianggap lebih tinggi daripada orang lain.
Di sinilah konflik dalam Salah Asuhan menjadi penting untuk dibaca secara kritis. Persoalan yang dihadirkan tidak hanya berkaitan dengan perbedaan budaya, tetapi juga dengan cara seseorang memahami kebebasan dan tanggung jawab. Menentukan pilihan sendiri merupakan bagian dari kehidupan, tetapi setiap pilihan memiliki konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.
Penjajah Pergi, Mentalitasnya Tinggal
Pada akhirnya, Salah Asuhan membuka ruang bagi pembaca untuk merenungkan satu persoalan mendasar: apakah kita benar-benar ingin berkembang, atau justru ingin menjadi seseorang yang berbeda karena merasa diri sendiri tidak cukup baik?
Keduanya mungkin terlihat serupa, tetapi memiliki dasar yang berbeda. Keinginan untuk berkembang lahir dari kesadaran bahwa masih ada hal yang dapat dipelajari. Sebaliknya, keinginan untuk menjadi orang lain dapat tumbuh dari perasaan rendah diri dan anggapan bahwa identitas yang kita miliki tidak layak dihargai.
Kita tentu tidak harus mempertahankan semua kebiasaan hanya karena kebiasaan itu berasal dari lingkungan sendiri. Kita juga tidak perlu menolak pengaruh luar demi membuktikan kecintaan terhadap identitas. Hal yang lebih penting adalah kemampuan untuk memilah, memahami, dan menentukan sikap secara sadar.
Novel ini mengingatkan bahwa mengenal dunia yang lebih luas seharusnya membuat kita memiliki pemahaman yang lebih baik, bukan membuat kita kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Kita dapat berubah tanpa harus membenci asal-usul, belajar dari orang lain tanpa merasa lebih rendah, dan menerima perbedaan tanpa menjadikannya ukuran untuk menentukan harga diri.
Sebab, pada akhirnya, berkembang bukan berarti menghapus siapa diri kita sebelumnya. Berkembang berarti memahami diri sendiri dengan lebih baik, termasuk mengetahui bagian mana yang perlu diubah dan bagian mana yang tetap layak dihargai.
Mungkin, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa jauh kita telah berubah agar diterima oleh dunia, melainkan apakah perubahan itu benar-benar membuat kita menjadi pribadi yang lebih memahami diri sendiri dan orang lain.
