Konten dari Pengguna

Mahasiswa UMY: Akhmad Ikhsanul Kamal, Tembus 12 Besar NBPC 2026

Akhmad Ikhsanul Kamal

Akhmad Ikhsanul Kamal

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akhmad Ikhsanul Kamal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa UMY: Akhmad Ikhsanul Kamal, Tembus 12 Besar NBPC 2026
zoom-in-whitePerbesar

Yogyakarta — Mengembangkan ide bisnis tidak cukup hanya dengan menawarkan produk yang menarik. Sebuah gagasan juga perlu memiliki target pasar yang jelas, strategi pemasaran yang tepat, perhitungan keuangan yang realistis, serta keunggulan yang mampu membedakannya dari kompetitor. Tantangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Akhmad Ikhsanul Kamal, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam mengembangkan gagasan bisnis hingga berhasil menjadi finalis 12 besar

Mahasiswa UMY: Akhmad Ikhsanul Kamal, Tembus 12 Besar NBPC 2026 (1)
zoom-in-whitePerbesar

National Business Plan Competition (NBPC) 2026.

Perjalanan tersebut berawal dari pengembangan gagasan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K). Gagasan yang diajukan berhasil melewati seleksi tingkat universitas sebelum dikembangkan lebih lanjut untuk mengikuti NBPC 2026. Proses ini menjadi kesempatan untuk menguji gagasan bisnis secara lebih menyeluruh, mulai dari konsep produk hingga perencanaan pengembangannya.

Ide bisnis yang dikembangkan bernama Splaz Bloom, sebuah konsep produk bath bomb yang memanfaatkan limbah bunga sebagai salah satu bahan bakunya. Gagasan ini menggabungkan kebutuhan akan produk relaksasi dengan pendekatan pemanfaatan kembali material yang berpotensi terbuang.

Mengubah Limbah Bunga Menjadi Gagasan Bisnis

Limbah bunga menjadi titik awal pengembangan Splaz Bloom. Bunga yang telah kehilangan fungsi utamanya dalam rangkaian dekorasi atau kegiatan tertentu masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali, bergantung pada kondisi dan kelayakan bahannya.

Melalui Splaz Bloom, limbah bunga diangkat menjadi bagian dari gagasan produk perawatan diri berbentuk bath bomb. Produk ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman mandi yang lebih menyenangkan melalui efek larut dalam air, aroma yang menenangkan, serta tampilan visual yang berkaitan dengan unsur bunga.

Di balik konsep tersebut, terdapat pendekatan bisnis yang berupaya menghubungkan nilai fungsional produk dengan kepedulian terhadap pemanfaatan sumber daya. Limbah tidak semata-mata dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga sebagai peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah apabila memenuhi persyaratan kualitas, keamanan, dan kelayakan produksi.

Pendekatan tersebut memberikan identitas bagi Splaz Bloom. Produk tidak hanya ditawarkan berdasarkan pengalaman pengguna, tetapi juga melalui gagasan pemanfaatan kembali bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Meski demikian, konsep ramah lingkungan tetap membutuhkan perencanaan yang terukur. Ketersediaan bahan baku, proses pengolahan, konsistensi kualitas, keamanan penggunaan, dan biaya produksi merupakan aspek yang perlu diperhatikan agar gagasan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Menyusun Model Bisnis Menjadi Tantangan

Mengembangkan produk merupakan satu tahap dalam kewirausahaan. Tantangan berikutnya adalah menyusun model bisnis yang dapat menjelaskan bagaimana produk ditawarkan, siapa yang akan membelinya, bagaimana pendapatan diperoleh, serta bagaimana usaha dapat bersaing di pasar.

Dalam pengembangan Splaz Bloom, sejumlah aspek tersebut menjadi bagian penting dari proses penyusunan rencana bisnis. Penentuan target pasar perlu dihubungkan dengan karakteristik produk dan strategi pemasaran. Sementara itu, penetapan harga perlu mempertimbangkan biaya produksi, kemampuan konsumen membayar, serta posisi produk dibandingkan dengan alternatif yang tersedia.

Aspek keuangan juga tidak dapat dipisahkan dari strategi pemasaran. Perencanaan pendapatan harus disusun dengan mempertimbangkan biaya dan asumsi penjualan yang realistis. Pada saat yang sama, keunggulan produk perlu dirumuskan secara jelas agar calon konsumen memiliki alasan untuk memilihnya dibandingkan produk lain.

Tantangan lainnya adalah memastikan setiap komponen tersebut saling terhubung. Target pasar yang menarik belum tentu menghasilkan bisnis yang layak apabila harga dan biaya tidak sesuai. Sebaliknya, produk dengan konsep yang berbeda tetap membutuhkan strategi pemasaran yang tepat agar dapat menjangkau konsumen yang relevan.

Karena itu, penyusunan rencana bisnis tidak berhenti pada penjelasan mengenai produk. Proses tersebut juga menuntut kemampuan menganalisis pasar, memperhitungkan risiko, menyusun strategi, dan menilai kelayakan gagasan dari berbagai sisi.

Bagi mahasiswa manajemen, proses ini menjadi ruang untuk menerapkan konsep yang dipelajari dalam perkuliahan ke dalam perencanaan bisnis. Teori mengenai pemasaran, pengelolaan biaya, perilaku konsumen, dan strategi bersaing perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang saling mendukung.

Dari Seleksi PKM-K Menuju Finalis NBPC 2026

Keikutsertaan dalam NBPC 2026 menjadi bagian lanjutan dari perjalanan pengembangan ide Splaz Bloom. Sebelumnya, gagasan tersebut telah diajukan melalui PKM-K dan berhasil lolos seleksi tingkat universitas. Pengalaman itu menjadi pijakan untuk membawa gagasan bisnis ke kompetisi berikutnya.

Dalam NBPC 2026, Akhmad berhasil masuk dalam jajaran 12 besar finalis. Pencapaian tersebut tercantum dalam sertifikat bernomor C-083/HIMAMA-NBPC/V/2026, yang diterbitkan di Yogyakarta pada 21 Mei 2026.

Status finalis merupakan bentuk pencapaian dalam proses kompetisi, sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan menyusun dan menyampaikan gagasan bisnis. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa sebuah ide perlu dipersiapkan secara sistematis agar dapat dinilai melalui kerangka perencanaan yang lebih terstruktur.

Bagi mahasiswa, kompetisi rencana bisnis dapat menjadi sarana pembelajaran di luar ruang kelas. Peserta tidak hanya dituntut menghasilkan ide, tetapi juga menjelaskan logika bisnis di baliknya. Mulai dari persoalan yang ingin diselesaikan, nilai yang ditawarkan, pasar yang dituju, hingga strategi yang berpotensi mendukung keberlangsungan usaha.

Proses tersebut relevan dengan pembelajaran manajemen karena menggabungkan sejumlah bidang dalam satu perencanaan. Pemasaran, keuangan, pengelolaan operasional, dan strategi bisnis tidak berdiri sendiri, melainkan saling memengaruhi dalam menentukan kelayakan sebuah gagasan.

Mengembangkan Cara Pandang terhadap Kewirausahaan

Perjalanan mengembangkan Splaz Bloom menunjukkan bahwa ide bisnis membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Gagasan yang berangkat dari pemanfaatan limbah bunga perlu disertai pertimbangan mengenai kebutuhan pasar, kualitas produk, struktur biaya, dan potensi pengembangannya.

Di sisi lain, pencapaian sebagai finalis 12 besar NBPC 2026 menjadi bagian dari proses pembelajaran Akhmad dalam mengembangkan kompetensi bisnis. Pengalaman dari PKM-K hingga kompetisi tersebut memberikan konteks nyata bagi penerapan pengetahuan manajemen dalam menyusun rencana usaha.

Pengembangan ide bisnis pada akhirnya merupakan proses yang melibatkan pengujian asumsi, penyesuaian strategi, dan evaluasi terhadap berbagai kemungkinan. Sebuah gagasan dapat menjadi titik awal, tetapi kualitas perencanaan menentukan seberapa jauh gagasan tersebut dapat dikembangkan secara rasional.

Bagi saya, pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan akademik untuk memperdalam pemahaman mengenai kewirausahaan, pemasaran, dan strategi bisnis. Ke depan, pengembangan gagasan seperti Splaz Bloom tetap memerlukan evaluasi dan validasi agar potensi yang direncanakan dapat dinilai berdasarkan kebutuhan pasar serta kelayakan pelaksanaannya.