Ketika Ilmu Ekonomi Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Mahasiswa S1 Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kamelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari Aktivitas Sederhana Menuju Edupreneurship
Pagi hari, seorang ibu membuka lapak kecil di depan rumah. Di atas meja terdapat beberapa makanan yang sudah dikemas rapi. Ia menghitung modal, menentukan harga jual, mencatat pesanan, lalu mempromosikan dagangannya melalui WhatsApp. Tidak ada ruang kantor, tidak ada seragam perusahaan, bahkan mungkin tidak ada catatan keuangan yang tersusun rapi. Namun, setiap hari ia mengambil keputusan ekonomi.
Kisah seperti ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak orang menjalankan usaha kecil dari rumah, warung, kantin, pasar, hingga media sosial. Mereka belajar dari pengalaman: ketika harga bahan naik, mereka menyesuaikan harga; ketika pembeli berkurang, mereka mencoba membuat variasi produk; ketika pesaing bertambah, mereka mencari cara agar produknya tetap dikenal.
Ketika Ilmu Ekonomi Hanya Berhenti di Kelas
Menariknya, proses belajar ekonomi seperti ini sering tidak dianggap sebagai bagian dari pendidikan. Pendidikan ekonomi masih sering dipahami sebatas memahami teori, menghitung angka, atau menjawab soal di kelas. Padahal, ekonomi juga hidup dalam keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan masyarakat setiap hari.
Di sinilah edupreneurship menjadi penting.
Edupreneurship bukan sekadar mengajarkan mahasiswa untuk menjadi pengusaha. Lebih dari itu, edupreneurship dapat menjadi jembatan antara pengetahuan, kreativitas, pendidikan, dan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Masalah yang Jarang Dibahas: Bukan Sekadar Modal
Saat ini, membuka usaha semakin mudah. Seseorang dapat menjual makanan melalui media sosial tanpa harus memiliki toko besar. Produk rumahan bisa dipasarkan melalui marketplace. Bahkan mahasiswa pun dapat menjalankan usaha sambil kuliah.
Namun, kemudahan memulai usaha tidak selalu diikuti dengan kemampuan mengelolanya.
Persoalan yang jarang dibicarakan bukan hanya bagaimana masyarakat mendapatkan modal untuk memulai usaha, tetapi bagaimana mereka memperoleh pengetahuan untuk mengambil keputusan setelah usaha berjalan.
Seorang pedagang mungkin mengetahui bahwa produknya laku. Namun, apakah ia mengetahui berapa keuntungan sebenarnya? Apakah harga jual sudah memperhitungkan seluruh biaya? Apakah uang usaha dipisahkan dari uang pribadi?
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Punya Peran
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi sering dipandang sebagai calon guru yang nantinya mengajarkan ekonomi di sekolah. Pandangan tersebut tentu tidak keliru. Namun, peran mahasiswa Pendidikan Ekonomi sebenarnya dapat lebih luas.
Ilmu yang dipelajari tidak harus berhenti menjadi materi untuk ujian. Pengetahuan tersebut dapat dibawa ke lingkungan sekitar dan diterjemahkan menjadi kegiatan yang memberikan manfaat ekonomi.
Mahasiswa dapat mendampingi pelaku UMKM dalam membuat pencatatan keuangan sederhana, menghitung harga pokok, menentukan harga jual, memahami perilaku konsumen, hingga memanfaatkan media digital untuk pemasaran.
Edupreneurship Tidak Hanya tentang Berjualan
Edupreneurship juga perlu dipahami secara lebih luas. Jangan sampai konsep ini hanya berubah menjadi perlombaan siapa yang paling cepat menghasilkan produk dan mendapatkan keuntungan.
Kreativitas dalam edupreneurship seharusnya dimulai dari kemampuan melihat masalah.
Ketika seorang mahasiswa melihat pedagang kecil kesulitan mencatat keuangan, masalah tersebut dapat menjadi peluang untuk menciptakan media pencatatan sederhana. Ketika UMKM kesulitan memahami pemasaran digital, mahasiswa dapat membuat pendampingan yang mudah dipahami.
Dengan demikian, produk edupreneurship tidak selalu harus berupa barang. Pengetahuan, jasa, media pembelajaran, pelatihan, konten edukasi, hingga teknologi sederhana juga dapat menjadi bentuk kreativitas.
Dari Nusantara untuk Ekonomi yang Lebih Berdaya
Kata “Nusantara” dalam tema ini tidak hanya menjadi simbol geografis. Nusantara memiliki masyarakat dengan persoalan, potensi, budaya, dan bentuk usaha yang beragam.
Ada pengrajin di daerah, pedagang pasar, petani, nelayan, pelaku kuliner, hingga anak muda yang menjalankan bisnis melalui media sosial. Masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, edupreneurship tidak dapat dibangun dengan satu pola yang berlaku untuk semua. Pendidikan ekonomi perlu lebih dekat dengan realitas masyarakat.
Kampus sebagai Ruang Tumbuh
Edupreneurship tidak akan berkembang jika hanya menjadi istilah dalam seminar atau tema lomba. Kampus perlu memberikan ruang agar mahasiswa dapat menguji gagasannya.
Kegiatan seperti proyek pendampingan UMKM, laboratorium kewirausahaan, bazar mahasiswa, pengembangan media pembelajaran ekonomi, hingga program konsultasi sederhana bagi pelaku usaha dapat menjadi langkah nyata.
Mahasiswa juga perlu didorong untuk menemukan masalah ekonomi di lingkungan sekitar sebelum menentukan produk atau program yang ingin dibuat.
Dengan begitu, kewirausahaan tidak dimulai dari pertanyaan, “Apa yang bisa saya jual?” tetapi dari pertanyaan yang lebih penting: “Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Mendidik Ekonomi Bangsa dari Hal Sederhana
Pada akhirnya, membangun ekonomi bangsa tidak selalu dimulai dari perusahaan besar atau kebijakan berskala nasional. Ia dapat dimulai dari hal sederhana: seorang mahasiswa yang membantu pedagang memahami pencatatan keuangan, seorang dosen yang memberi ruang bagi mahasiswa mengembangkan ide usaha, atau seorang pelaku UMKM yang mulai berani mengambil keputusan berdasarkan data.
Edupreneurship mempertemukan pendidikan dan kewirausahaan dalam satu ruang: pengetahuan yang menghasilkan nilai.
Nusantara membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu memahami persoalan ekonomi, tetapi juga berani mencari jalan keluarnya. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam proses tersebut.
Sebab, mendidik ekonomi bangsa bukan hanya tentang mengajarkan bagaimana uang berputar. Lebih jauh dari itu, pendidikan perlu membuat masyarakat mampu memahami pilihan, mengambil keputusan, menciptakan peluang, dan membangun kemandirian.
Jika ruang kelas mampu terhubung dengan kehidupan masyarakat, maka ilmu ekonomi tidak lagi sekadar teori. Ia menjadi pengetahuan yang bergerak, tumbuh, dan memberi manfaat.
