Konten dari Pengguna

Ramai Ikut Tren “Healing”, tapi Kenapa Banyak Anak Muda Tetap Merasa Lelah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kamelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Ketika Istirahat Berubah Menjadi Tren

Beberapa tahun terakhir, kata healing menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Setelah ujian selesai, ingin healing. Habis bekerja sepekan, harus healing. Bahkan setelah menghadapi tugas kuliah yang menumpuk, media sosial langsung dipenuhi video liburan singkat lengkap dengan pemandangan alam yang menenangkan. Sekilas, tidak ada yang salah. Beristirahat memang penting. Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk dipikirkan. Mengapa semakin banyak orang yang rajin mencari hiburan, tetapi tetap merasa cepat lelah, mudah cemas, bahkan kehilangan semangat menjalani aktivitas?

Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua rasa lelah berasal dari tubuh. Banyak di antaranya muncul karena tekanan sosial yang terus hadir melalui lingkungan digital. Pendidikan Ilmu Sosial mengajarkan bahwa perilaku manusia tidak pernah berdiri sendiri. Cara seseorang berpikir, bertindak, hingga memaknai kebahagiaan dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia hidup.

Media Sosial Mengubah Cara Kita Membandingkan Diri

Hari ini, media sosial bukan sekadar tempat berbagi cerita. Ia juga menjadi ruang yang membentuk standar kehidupan. Setiap hari kita melihat teman yang baru lulus, membeli kendaraan, membuka usaha, atau berlibur ke tempat-tempat menarik. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang sebenarnya belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.

Akibatnya, banyak orang merasa tertinggal, padahal mereka sedang berada di jalur yang berbeda. Rasa syukur perlahan tergantikan oleh keinginan untuk mengejar apa yang sedang populer. Dalam perspektif Pendidikan Ilmu Sosial, kondisi ini merupakan bentuk pengaruh kelompok sosial terhadap pembentukan perilaku individu. Nilai yang berkembang di masyarakat digital akhirnya menjadi ukuran baru tentang kesuksesan dan kebahagiaan.

Ketika Konsumsi Menjadi Cara Mencari Pengakuan

Fenomena lain yang sering terlihat adalah meningkatnya gaya hidup konsumtif. Tidak sedikit anak muda rela membeli barang tertentu karena takut dianggap ketinggalan zaman. Kopi dengan merek tertentu, sepatu edisi terbaru, hingga gawai yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan sering kali dibeli demi mengikuti tren.

Padahal, keputusan tersebut bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena adanya dorongan untuk diterima dalam lingkungan sosial. Pendidikan Ilmu Sosial membantu kita memahami bahwa perilaku konsumsi juga dipengaruhi oleh budaya, status sosial, dan interaksi dengan kelompok. Artinya, keputusan ekonomi ternyata tidak selalu rasional karena faktor sosial memiliki pengaruh yang sangat besar.

Pendidikan Sosial Tidak Hanya Dipelajari di Kelas

Banyak orang menganggap Pendidikan Ilmu Sosial hanya berisi teori tentang masyarakat. Padahal, ilmu ini justru mengajarkan cara memahami berbagai persoalan yang kita hadapi setiap hari. Mengapa seseorang mudah terpengaruh tren? Mengapa konflik sering muncul di media sosial? Mengapa budaya konsumtif semakin berkembang? Semua pertanyaan tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmu sosial.

Jika generasi muda mampu melihat fenomena dengan cara berpikir yang lebih kritis, mereka tidak akan mudah terbawa arus. Mereka akan lebih mampu membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar tuntutan lingkungan.

Saatnya Mendefinisikan Kebahagiaan dengan Cara Sendiri

Tidak ada yang salah dengan berlibur, membeli barang yang diinginkan, atau mengikuti tren selama dilakukan secara sadar. Yang perlu diwaspadai adalah ketika semua keputusan hidup diambil hanya karena ingin terlihat sama seperti orang lain.

Generasi muda membutuhkan kemampuan berpikir kritis, bukan hanya kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan Ilmu Sosial memiliki peran penting untuk membentuk sikap tersebut. Dengan memahami bagaimana masyarakat memengaruhi cara berpikir dan bertindak, kita dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan tidak mudah kehilangan jati diri.

Mungkin, healing yang paling dibutuhkan saat ini bukan selalu pergi ke tempat yang jauh. Bisa jadi, healing yang sesungguhnya adalah berhenti sejenak dari kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain, lalu mulai menghargai proses yang sedang dijalani. Itulah pelajaran sosial yang sering kali terlupakan, padahal sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.