Satu Suara, Seribu Arah

Mahasiswa di Universitas Pamulang dengan jurusan Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Karania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di zaman ketika layar lebih sering bicara daripada manusia, satu suara bisa menjelma jadi ribuan arah. Satu narasi bisa jadi jalan utama. Satu kebenaran bisa menelan banyak versi lain.
Inilah wajah komunikasi massa:
megafon zaman yang menyebar pesan ke jutaan telinga, namun kadang lupa bertanya, apakah semua yang mendengar ingin atau siap menerima?
Kita hidup dalam dunia di mana satu siaran bisa mengubah opini publik, satu unggahan bisa menciptakan kepanikan, satu berita bisa menggoyahkan demokrasi. Batas antara informasi dan manipulasi kian kabur, sebab komunikasi massa tidak hanya menyampaikan, tapi juga membentuk. Ia tak netral. Ia memilih siapa yang didengar dan siapa yang dibungkam.
Media, baik konvensional maupun digital, menjadi medan tempur pengaruh. Kita menyaksikan bagaimana tokoh bisa diangkat setinggi langit oleh headline, atau dijatuhkan serendah-rendahnya oleh framing. Lalu publik, kita semua, berubah jadi gelombang massa yang digerakkan oleh narasi, bukan lagi nalar.
Pertanyaannya: apakah kita masih memiliki kendali? Ataukah kita hanya gema dari suara yang lebih besar, yang terus bergema dari balik layar kaca, mikrofon, dan algoritma?
Komunikasi massa bukan sekadar alat tukar kabar. Ia adalah pembentuk kesadaran kolektif. Ia menanam citra, membentuk stigma, dan mengarsiteki persepsi. Ketika satu pesan mampu menembus ruang privat kita lewat notifikasi dan feed, maka ruang aman kita pun tak lagi steril dari arah suara luar.
Namun, masih ada harapan. Sebab di balik "satu suara" itu, masih ada kesadaran individu yang bisa memilih, untuk mendengar, mempertanyakan, atau bahkan menantangnya. Dalam kebisingan yang terkurasi, kita perlu belajar mendengar secara kritis. Menjadi pendengar yang tak pasif, tapi aktif memilah dan memaknai.
Penutup :
Karena dalam dunia di mana satu suara bisa menjelma seribu arah, kita bertanggung jawab memilih ke mana arah kita melangkah.
