Gagasan Revitalisasi Embung Bangeran: Inspirasi UNWTO dan Amerika Latin
Tulisan dari Karen ainun Jayatri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Embung Bangeran, yang terletak di Kecamatan Banguntapan, Bantul, menarik perhatian sebagai ruang potensial bagi pengembangan desa wisata berbasis komunitas dan keberlanjutan. Meski saat ini embung tersebut masih berfungsi utama sebagai tampungan air, muncul berbagai gagasan dari kalangan mahasiswa dan peneliti muda untuk merancang masa depan alternatif bagi kawasan ini. Idenya sederhana, namun sarat visi: bagaimana jika embung ini tidak hanya berfungsi teknis, tetapi juga menjadi pusat edukasi ekologi, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan masyarakat?
Dalam simulasi dan studi yang dilakukan melalui kegiatan survei dan diskusi lapangan, Embung Bangeran diposisikan sebagai prototipe desa wisata berkelanjutan. Rencana ini tidak dimaksudkan sebagai proyek pembangunan langsung, melainkan sebagai tawaran pemikiran yang selaras dengan standar pariwisata berkelanjutan yang ditetapkan oleh UNWTO (United Nations World Tourism Organization). Prinsip-prinsip seperti pelibatan masyarakat, perlindungan lingkungan, keadilan ekonomi, serta edukasi publik menjadi dasar dalam penyusunan gagasan ini.
Adopsi prinsip UNWTO, misalnya, diimajinasikan dalam bentuk eco-pavilion, jalur interpretatif botani, panggung budaya terbuka, dan pengelolaan kawasan oleh kelompok masyarakat lokal. Pelibatan pemuda dan perempuan sebagai pemandu atau pengelola, serta penyediaan ruang bagi UMKM dan produk lokal, menjadi bagian penting dari desain ide tersebut. Namun semua itu masih dalam tahap pemikiran dan eksplorasi, belum menjadi program pembangunan yang dijalankan pemerintah atau lembaga mana pun.
Untuk memperkaya usulan ini, tim juga menelaah praktik komunitas di Amerika Latin yang relevan. Dua studi kasus, Horto di Rio de Janeiro dan Santa Lucia di Amazon Brasil yang kini memberikan pelajaran penting bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk merancang dan mempertahankan ruang hidupnya sendiri. Horto mempertahankan eksistensinya melalui diplomasi budaya dan kampanye ekologis, sementara Santa Lucia mengandalkan mobilisasi publik dan advokasi hukum dalam memperjuangkan pertanian lestari. Keduanya memberi inspirasi bahwa sebuah komunitas bisa menjadi aktor utama pembangunan, bukan hanya penerima manfaat.
Simulasi survei di lapangan menjadi titik berangkat penting dalam menguji kelayakan ide ini. Melalui pengamatan, wawancara singkat dengan warga, dan perbandingan dengan kebijakan UNWTO, para mahasiswa menemukan berbagai tantangan dasar: keterbatasan infrastruktur, belum adanya kelembagaan pengelola berbasis masyarakat, dan belum terintegrasinya kawasan ini dalam rencana strategis pariwisata lokal. Namun justru dari celah inilah lahir kemungkinan. Bahwa transformasi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa tumbuh dari gagasan kecil yang berpijak pada realitas dan mimpi yang masuk akal.
Secara keseluruhan, rancangan revitalisasi Embung Bangeran ini merupakan bentuk latihan berpikir kritis tentang bagaimana desa bisa menjadi pusat inovasi pariwisata yang berkeadilan. Gagasan ini masih berupa ide awal, belum ada realisasi atau program formal. Namun sebagai wacana, ia membuka ruang diskusi baru tentang pentingnya mengaitkan kebijakan lokal dengan kerangka global, dan tentang bagaimana komunitas bisa menjadi ujung tombak dalam membangun masa depan yang lestari.
Pariwisata, dalam skenario ini, bukan sekadar soal mendatangkan pengunjung. Tapi tentang siapa yang memegang kendali, siapa yang menikmati manfaat, dan bagaimana alam serta budaya tetap dihargai dalam setiap langkah pembangunan.

