Kenapa Kamu Sering Bingung Sama Keinginan Sendiri? Ini Penjelasan Psikologisnya!

Psychology student at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Karina Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah gak kamu lagi pengen banget makan junk food jam 12 malam, tapi di kepala ada suara lain yang bilang "jangan, besok harus diet"? Atau pengen banget posting story curhat soal hari yang berat, tapi keburu mikir "nanti dilihat siapa ya, nanti dibilang lebay"? Itu bukan kamu yang plin-plan. Itu tiga bagian dari dirimu sendiri yang sedang berdebat.
Menurut Sigmund Freud, setiap orang punya tiga "kepribadian kecil" yang terus bekerja, bahkan tanpa kamu sadari: id, ego, dan superego.
Id: Suara yang Cuma Mau Enak
Id adalah satu-satunya bagian kepribadian yang sudah ada sejak lahir, sepenuhnya tidak disadari, dan beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan. Id mengejar pemuasan kebutuhan dasar secepat mungkin, tanpa peduli konsekuensi atau logika. Bayi yang menangis ketika lapar adalah contoh paling murni dari id yang bekerja.
Di usia dewasa, id inilah yang bersuara saat kamu pengen checkout barang jam 2 pagi atau scroll TikTok padahal besok ujian. Id gak pernah mikir "nanti gimana." Dia cuma mau sekarang.
Superego: Suara yang Selalu Menghakimi
Kalau id adalah suara yang mau senang-senang, superego kebalikannya. Superego mewakili moral masyarakat dan standar ideal yang diserap dari orang tua dan figur otoritas sejak kecil. Dia yang bertugas jadi "hakim", menentukan apa yang benar dan salah, sering dengan cara yang keras dan perfeksionis.
Superego inilah yang bikin kamu mikir dua kali sebelum posting sesuatu yang jujur, karena takut dinilai. Dia juga yang bikin kamu merasa bersalah setelah rebahan sepanjang hari, padahal ttubuhmu memang butuh istirahat.
Ego: Yang Capek Jadi Penengah
Di tengah tengah dua suara yang saling tarik itu, ada ego, bagian yang paling rasional, yang harus terus menerus mencari jalan tengah. Freud menggambarkan hubungan ini lewat analogi kuda dan penunggangnya: id adalah kuda yang kuat, dan ego adalah penunggang yang harus mengarahkan kekuatan itu tanpa menekannya secara total.
Jadi tiap kali kamu akhirnya memutuskan "oke, makan dulu sedikit, tapi besok olahraga," itu ego yang sedang bekerja lembur, menengahi keinginan id dan tuntutan superego supaya kamu tetap bisa berfungsi normal.
Kalau Salah Satu Terlalu Dominan
Bukan berarti ketiganya harus seimbang sempurna setiap saat, karena itu memang sulit. Tapi kalau id terlalu dominan, biasanya muncul sebagai perilaku impulsif. Kalau superego terlalu kuat, hasilnya bisa jadi perfeksionisme dan sikap yang terlalu menghakimi diri sendiri.
Banyak rasa bingung yang kamu alami sehari hari, kenapa susah ambil keputusan, kenapa habis senang senang langsung nyesel, kenapa pengen istirahat tapi gak ngasih izin diri sendiri, sebenarnya adalah refleksi dari pertarungan tiga suara ini di kepala.
Jadi lain kali kamu bingung sendiri kenapa pengen A tapi juga pengen B, gak perlu buru buru mikir ada yang salah sama dirimu. Mungkin itu cuma id, ego, dan superego yang sedang rapat dadakan di kepala, mencoba cari keputusan yang paling masuk akal buat kamu jalani hari itu.
Yang menarik, rapat dadakan ini gak cuma terjadi sekali dua kali. Dia terjadi puluhan kali sehari, di momen momen kecil yang kamu anggap sepele. Mulai dari nahan diri buat gak reply chat mantan, mutusin buat tetap olahraga walau capek, sampai milih diam saat pengen banget marah marah di grup keluarga. Semua itu adalah hasil negosiasi tiga suara yang sama.
Jadi kalau hari ini kamu ngerasa lelah secara mental, bisa jadi bukan karena kamu kurang kuat, tapi karena egomu sudah kerja lembur tanpa henti, menengahi tarikan id dan superego yang sama sama keras kepala. Hal itu wajar. Konflik batin ini adalah bagian alami dari cara kerja pikiran manusia, bukan tanda ada yang rusak dalam dirimu, justru bisa jadi langkah pertama untuk lebih baik dalam memperlakukan diri sendiri.
_______________________________________________________________
Ditulis Oleh: Karina Amalia dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
