Ketika Anak Bicara, Kenapa Kita Sibuk Memberi Jawaban?

Staf pengajar di TK Al Barokah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Karina Rina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kita benar-benar mendengarkan ketika seorang anak bercerita?

Anak-anak memiliki cara yang menarik dalam bercerita. Mereka bisa menceritakan sesuatu yang bagi orang dewasa terdengar sederhana: teman yang tidak mau berbagi mainan, gambar yang dibuat di sekolah, guru yang mengatakan sesuatu, atau seekor semut yang mereka lihat berjalan di halaman.
Bagi kita, mungkin itu bukan hal besar.
Namun bagi seorang anak, cerita tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat penting.
Sayangnya, sering kali ketika anak mulai berbicara, kita justru buru-buru memberikan jawaban.
“Jangan sedih.”
“Ya sudah, nanti main lagi.”
“Kan cuma begitu.”
“Makanya, tadi dengarkan Mama.”
Atau bahkan sebelum mereka selesai bercerita, kita sudah menebak apa yang ingin mereka katakan.
Kita ingin membantu. Kita ingin memberikan solusi. Kita ingin mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.
Tetapi terkadang, anak sebenarnya tidak sedang mencari jawaban.
Mereka hanya ingin didengarkan.
Anak juga membutuhkan ruang untuk bercerita
Sebagai orang dewasa, kita terbiasa menganggap percakapan sebagai sesuatu yang harus menghasilkan jawaban. Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya, kita merasa perlu memberikan solusi.
Padahal, tidak semua cerita membutuhkan solusi.
Terlebih ketika kita berbicara dengan anak-anak.
Kemampuan anak untuk mengenali emosi, menyusun cerita, memilih kata, dan menjelaskan apa yang mereka rasakan masih berkembang. Ketika seorang anak berkata, “Aku tadi sedih,” kalimat tersebut mungkin merupakan hasil dari proses panjang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya.
Mungkin ia belum tahu bahwa yang membuatnya sedih adalah karena merasa tidak diajak bermain.
Mungkin ia belum bisa menjelaskan bahwa ia kecewa karena gambarnya tidak mendapatkan pujian.
Atau mungkin ia hanya ingin menceritakan sesuatu yang menurutnya menarik.
Di titik seperti ini, tugas orang dewasa bukan selalu memberikan jawaban.
Terkadang tugas kita adalah memberikan waktu.
Membiarkan anak menyelesaikan ceritanya.
Bertanya, “Lalu bagaimana?”
Atau cukup mengatakan, “Oh, kamu merasa sedih ya?”
Kalimat sederhana seperti itu dapat memberi pesan kepada anak bahwa perasaannya diterima dan ceritanya dianggap penting.
Kita hidup di zaman yang serba cepat
Ada hal lain yang membuat kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting.
Anak-anak hari ini tumbuh di tengah lingkungan yang sangat cepat. Mereka melihat orang dewasa berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, membuka ponsel sambil berbicara, membalas pesan, memberikan komentar, menonton video pendek, kemudian berpindah lagi ke sesuatu yang lain.
Di media sosial, hampir semua hal mengundang respons.
Like.
Komentar.
Bagikan.
Respons cepat seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tanpa sadar, budaya tersebut juga memengaruhi cara kita berkomunikasi.
Kita menjadi terbiasa memberikan reaksi sebelum benar-benar memahami.
Kita membaca beberapa kalimat lalu langsung berkomentar. Mendengar sebagian cerita lalu buru-buru menyimpulkan. Melihat satu kejadian lalu merasa sudah mengetahui seluruh persoalannya.
Anak-anak mungkin belum memahami konsep tersebut.
Tetapi mereka belajar dari apa yang mereka lihat.
Mereka belajar bagaimana orang dewasa berbicara.
Mereka belajar bagaimana orang dewasa mendengarkan.
Mereka belajar bagaimana seseorang memberikan perhatian kepada orang lain.
Dan pada akhirnya, mereka akan meniru pola tersebut ketika berinteraksi dengan teman-temannya.
Mendengarkan bukan berarti selalu setuju
Ada kesalahpahaman bahwa mendengarkan anak berarti membiarkan mereka melakukan apa saja.
Padahal tidak demikian.
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui.
Mendengarkan juga bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi.
Kita tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu itu tidak benar setelah mendengarkan penjelasan mereka.
Kita tetap dapat memberikan batasan.
Kita tetap dapat mengoreksi perilaku.
Namun ada perbedaan besar antara mengoreksi setelah memahami dan menghakimi sebelum mengetahui.
Bayangkan seorang anak mengatakan, “Aku tidak mau sekolah.”
Respons pertama kita mungkin adalah, “Tidak boleh begitu. Sekolah itu penting.”
Padahal mungkin ada cerita lain di balik kalimat tersebut.
Bisa jadi ia sedang lelah.
Bisa jadi ia bertengkar dengan temannya.
Bisa jadi ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Atau mungkin ia hanya sedang ingin tinggal lebih lama bersama orang tuanya pagi itu.
Kalimat “Aku tidak mau sekolah” bukan selalu sebuah masalah yang harus segera diperbaiki.
Bisa jadi itu adalah pintu masuk menuju percakapan yang lebih panjang.
Dan pintu tersebut hanya akan terbuka jika kita mau berhenti sejenak dan mendengarkan.
Di sekolah, hal-hal kecil bisa menjadi sangat berarti
Dalam dunia anak usia dini, percakapan sederhana sering kali membawa makna yang lebih besar daripada yang terlihat.
Seorang anak bisa tiba-tiba datang dan berkata, “Bu, aku mau cerita.”
Kalimat tersebut sebenarnya sudah merupakan sebuah bentuk kepercayaan.
Ia memilih kita sebagai tempat untuk menyampaikan sesuatu.
Mungkin ceritanya panjang dan berputar-putar.
Mungkin ia berhenti berkali-kali karena lupa apa yang ingin dikatakan.
Mungkin ceritanya tidak masuk akal bagi orang dewasa.
Tetapi bagi dirinya, cerita itu penting.
Karena itu, mendengarkan anak membutuhkan kesabaran.
Bukan hanya telinga yang mendengar kata-kata mereka, tetapi juga perhatian terhadap ekspresi, nada suara, dan bahasa tubuhnya.
Anak mungkin mengatakan “aku nggak apa-apa” sambil menundukkan kepala.
Ia mungkin mengatakan “aku nggak marah” sambil menjauh dari teman-temannya.
Bahasa anak tidak selalu hadir dalam bentuk kalimat yang sempurna.
Kadang kita perlu mendengarkan apa yang tidak mereka katakan.
Sebelum mengajarkan anak mendengarkan, mari kita memberi contoh
Kita sering mengajarkan anak untuk tidak memotong pembicaraan.
Kita meminta mereka menunggu giliran.
Kita mengajarkan mereka untuk mendengarkan ketika guru atau orang tua berbicara.
Tetapi anak belajar bukan hanya dari nasihat.
Mereka belajar dari contoh.
Jika kita ingin anak menghargai ketika orang lain berbicara, mungkin kita perlu menunjukkan terlebih dahulu bagaimana caranya menghargai cerita mereka.
Jika kita ingin mereka tidak memotong pembicaraan, kita juga perlu memberi mereka kesempatan menyelesaikan kalimat.
Jika kita ingin mereka mampu memahami perasaan orang lain, kita perlu menunjukkan bahwa perasaan mereka juga layak dipahami.
Sebab pendidikan tidak selalu berlangsung ketika kita sedang mengajar.
Sering kali, pendidikan justru terjadi melalui hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.
Ketika kita menatap mata anak saat ia berbicara.
Ketika kita meletakkan ponsel dan memberikan perhatian penuh.
Ketika kita tidak menertawakan cerita yang menurut kita lucu.
Ketika kita tidak buru-buru mengatakan, “Ah, begitu saja kok menangis.”
Dan ketika kita memilih bertanya, “Coba ceritakan kepada Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?”
Mungkin bagi kita itu hanya percakapan singkat.
Tetapi bagi seorang anak, itu bisa menjadi pengalaman bahwa suaranya didengar dan perasaannya dihargai.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya, “Apakah anak-anak sudah belajar mendengarkan?”
Melainkan juga:
Sudahkah kita menjadi orang dewasa yang mau mendengarkan mereka?
Sebab sebelum anak belajar bahwa orang lain memiliki cerita yang harus dihargai, mereka perlu merasakan sendiri bahwa cerita mereka juga berarti.
Dan mungkin, salah satu bentuk pendidikan yang paling sederhana adalah berhenti sejenak dari kesibukan kita, menatap mata seorang anak, lalu berkata:
“Ibu dengarkan. Ceritakan sampai selesai.”
--
Karina, Staf Pengajar di TK Islam Al-Barokah Jakarta
