Mengapa Kedai Kopi Jadi "Kantor Kedua" Generasi Muda

Mahasiswa Unpam dengan jurusan Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kayla Julian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis : Kayla

Sumber : Unsplash
Pernah nggak sih, kamu melihat banyak anak muda duduk di kafe sambil membuka laptop, memakai earphone, dan sesekali menyeruput kopi? Ada yang sedang mengerjakan tugas kuliah, mengikuti rapat online, atau sekadar mencari inspirasi. Sekarang, pemandangan seperti ini sudah sering kita temui. Kafe bukan lagi cuma tempat nongkrong, tetapi juga menjadi tempat belajar dan bekerja.
Menurut saya, salah satu alasan anak muda suka bekerja di kafe adalah karena suasananya berbeda dari rumah. Bayangkan aroma kopi yang baru diseduh, musik yang diputar pelan, suara mesin kopi, dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Suasana seperti ini bisa membuat kegiatan yang biasanya membosankan terasa lebih menyenangkan.
Kalau di rumah, terkadang kita mudah terdistraksi oleh kasur, ponsel, atau keinginan untuk rebahan. Sementara itu, ketika berada di kafe, kita bisa merasa seperti sedang memulai aktivitas baru. Apalagi kalau tersedia Wi-Fi, stopkontak, dan tempat duduk yang nyaman. Nggak heran kalau sebagian anak muda betah berjam-jam di sana.
Hal ini juga bisa dijelaskan melalui penelitian. Pada 2012, Ravi Mehta, Rui Zhu, dan Amar Cheema menemukan bahwa kebisingan dengan tingkat sedang dapat mendukung kreativitas dalam eksperimen mereka. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih mudah mendapatkan ide di kafe. Namun, kalau suasananya terlalu ramai, konsentrasi justru bisa terganggu.
Selain itu, kafe juga memberikan kesempatan untuk bersosialisasi. Kita bisa bertemu teman, berdiskusi tentang tugas, atau bertukar ide dengan orang lain. Penelitian Nur Syamsiyah pada 2025 tentang pekerja jarak jauh di Surabaya juga membahas bagaimana kafe dapat menjadi ruang untuk bekerja sekaligus membangun hubungan sosial.
Lalu, apakah lebih banyak anak muda bekerja di kafe daripada di rumah? Belum ada data yang cukup untuk memastikan perbandingan tersebut. Survei GoodStats pada 2024 terhadap 203 responden menunjukkan bahwa 91% respondennya berusia 18–24 tahun. Namun, angka itu merupakan komposisi usia responden, bukan persentase seluruh anak muda yang suka bekerja di kafe.
Menurut saya, kafe bisa disebut sebagai “kantor kedua” karena menawarkan suasana yang santai, fasilitas yang mendukung, dan kesempatan untuk bertemu orang lain. Hal ini juga berkaitan dengan konsep 'third place' dari sosiolog Ray Oldenburg, yaitu tempat berkumpul di luar rumah dan tempat kerja.
Pada akhirnya, nggak semua orang harus bekerja di kafe agar produktif. Ada yang lebih nyaman di rumah, ada juga yang membutuhkan suasana baru supaya lebih bersemangat. Yang terpenting adalah menemukan tempat yang sesuai dengan kebutuhan kita. Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan sekadar secangkir kopi, melainkan suasana baru agar aktivitas sehari-hari terasa lebih menyenangkan.
