Magang: Tentang Beradaptasi, Belajar, dan Menemukan Kenyamanan

Mahasiswa Akuntansi Perpajakan D4 Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kayla Khairunisa hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjalani magang menjadi salah satu pengalaman yang cukup berbeda bagi saya sebagai mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan. Selama kuliah, saya lebih sering mengenal akuntansi dan perpajakan melalui materi, tugas, diskusi, dan berbagai latihan di kelas. Namun, ketika masuk ke lingkungan kerja, saya mulai melihat bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah ternyata memiliki kaitan dengan pekerjaan yang dilakukan secara langsung. Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa belajar tidak hanya tentang memahami teori, tetapi juga tentang bagaimana menerapkannya dalam situasi yang nyata.
Sebelum memulai magang, saya sempat merasa khawatir. Saya belum tahu seperti apa lingkungan kerja yang akan saya hadapi dan bagaimana orang-orang di dalamnya akan menerima saya sebagai mahasiswa magang. Ada rasa takut tidak bisa beradaptasi, takut melakukan kesalahan, dan takut tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan. Perasaan seperti itu cukup wajar karena bagi saya, masuk ke lingkungan kerja berarti masuk ke suasana yang benar-benar baru.
Saya menjalani magang di Divisi Finance PT Telkom Akses. Pada awalnya, saya lebih banyak mengamati dan mencoba memahami kebiasaan di lingkungan kerja. Saya mulai belajar menyesuaikan diri dengan jam kerja, cara berkomunikasi, serta tanggung jawab yang diberikan. Bahkan, untuk bertanya ketika belum memahami suatu pekerjaan pun awalnya saya masih merasa sungkan. Saya khawatir terlalu banyak bertanya atau justru mengganggu pekerjaan orang lain.
Namun, perasaan tersebut perlahan berubah setelah saya mulai mengenal orang-orang di kantor. Salah satu hal yang paling saya syukuri selama magang adalah lingkungan kerja yang menurut saya cukup nyaman dan mendukung. Orang-orang di sekitar saya tidak membuat saya merasa seperti orang asing. Ketika saya belum memahami pekerjaan, mereka mau menjelaskan dan membantu. Dari situ saya mulai merasa bahwa saya tidak harus langsung bisa melakukan semuanya. Saya diberi kesempatan untuk belajar, mencoba, dan memperbaiki kesalahan.
Sebagai mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan, saya juga mendapatkan pengalaman yang membuat saya lebih memahami bahwa pekerjaan akuntansi dan perpajakan tidak berdiri sendiri. Selama magang, saya memang tidak secara khusus mengerjakan perhitungan pajak, tetapi saya berhadapan dengan berbagai dokumen yang berkaitan dengan transaksi perusahaan, seperti invoice, faktur pajak, dokumen pembayaran, bukti potong, dan dokumen pendukung lainnya. Saya juga melakukan rekap serta pemeriksaan dan pencocokan data menggunakan Microsoft Excel.
Dari pekerjaan tersebut, saya semakin memahami pentingnya ketelitian dalam bidang yang saya pelajari. Di kampus, saya sering mendengar bahwa akuntansi dan perpajakan membutuhkan ketelitian. Saat magang, saya bisa merasakan sendiri maksudnya. Ketika memeriksa dokumen, saya harus memperhatikan tanggal, nominal, serta kesesuaian informasi antara satu dokumen dengan dokumen lainnya. Kesalahan kecil dalam memasukkan atau mencocokkan data dapat membuat proses pemeriksaan menjadi lebih panjang. Hal sederhana seperti ini membuat saya lebih memahami bahwa ketelitian bukan hanya teori yang dipelajari di kelas, tetapi merupakan kebiasaan yang benar-benar dibutuhkan dalam dunia kerja.
Selain pekerjaan yang berkaitan dengan dokumen keuangan, saya juga belajar mengenai cara bekerja dengan orang lain. Saya belajar untuk berkomunikasi ketika membutuhkan penjelasan, menerima arahan, menyelesaikan tugas sesuai tanggung jawab, dan tidak takut mengakui ketika ada sesuatu yang belum saya pahami. Bagi saya, kemampuan seperti ini sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Sebagus apa pun pemahaman seseorang mengenai akuntansi dan perpajakan, tetap dibutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain.
Hal yang awalnya paling saya khawatirkan, yaitu beradaptasi, justru menjadi salah satu hal yang paling banyak saya pelajari. Lingkungan yang pada awalnya terasa asing perlahan menjadi tempat yang membuat saya nyaman. Saya mulai mengenal orang-orang di sekitar saya, memahami pekerjaan yang diberikan, dan lebih percaya diri ketika harus bertanya atau menyampaikan sesuatu. Saya juga merasa beruntung karena bertemu dengan orang-orang yang baik dan mau membantu selama proses tersebut.
Pengalaman ini membuat saya melihat dunia kerja dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, saya mungkin menganggap magang hanya sebagai salah satu kewajiban mahasiswa sebelum menyelesaikan perkuliahan. Namun, setelah menjalaninya sendiri, saya merasa magang memberikan pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya didapatkan dari ruang kelas. Saya bisa melihat bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan, bagaimana sebuah kesalahan harus diperbaiki, dan bagaimana komunikasi menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Bagi saya, pengalaman magang ini bukan hanya tentang menyelesaikan tugas yang diberikan. Lebih dari itu, magang menjadi proses untuk mengenal diri sendiri. Saya belajar bahwa saya ternyata bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, belajar dari orang lain, dan menjalankan tanggung jawab meskipun pada awalnya merasa takut dan tidak yakin. Saya juga semakin memahami bahwa ilmu yang saya pelajari sebagai mahasiswa D4 Akuntansi Perpajakan perlu terus dikembangkan agar dapat benar-benar digunakan ketika memasuki dunia kerja.
Pada akhirnya, hal yang paling saya ingat dari pengalaman magang bukan hanya dokumen yang saya periksa atau pekerjaan yang saya selesaikan, tetapi bagaimana saya yang awalnya datang dengan rasa canggung akhirnya bisa merasa nyaman menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Saya datang sebagai mahasiswa yang ingin mencari pengalaman, tetapi pulang dengan lebih banyak pelajaran tentang pekerjaan, tanggung jawab, komunikasi, dan proses beradaptasi. Bagi saya, itulah salah satu arti penting dari magang: bukan sekadar mencoba bekerja, tetapi belajar menjadi seseorang yang lebih siap menghadapi dunia kerja setelah lulus nanti.
