Konten dari Pengguna

Pendidikan dan Cara Generasi Muda Memahami Perubahan Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kayla nahla Hanina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-kecil-anak-anak-siswa-murid-12719336/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-kecil-anak-anak-siswa-murid-12719336/

Perubahan sosial berlangsung semakin cepat. Informasi mengenai berbagai peristiwa kini dapat ditemukan hanya melalui layar ponsel. Dalam satu waktu, generasi muda bisa membaca berita tentang kemiskinan, menonton video mengenai ketimpangan sosial, mengikuti perdebatan tentang pendidikan, hingga melihat isu lingkungan yang sedang ramai dibicarakan. Berbagai informasi tersebut hadir silih berganti dan mudah diakses.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan memahami persoalan secara mendalam. Seseorang dapat mengetahui sebuah peristiwa melalui media sosial, tetapi belum tentu memahami latar belakang, penyebab, dan dampaknya bagi masyarakat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa memperoleh informasi dan membangun pemahaman merupakan dua hal yang berbeda. Di sinilah pendidikan memiliki peran penting, bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan cara pandang terhadap kehidupan sosial.

Informasi Semakin Cepat, Pemahaman Membutuhkan Proses

Salah satu fenomena yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari adalah kebiasaan generasi muda menerima informasi melalui konten singkat di media sosial. Persoalan sosial sering disajikan dalam bentuk video berdurasi pendek, potongan berita, atau unggahan yang hanya menampilkan satu sisi peristiwa. Format tersebut membuat informasi lebih mudah diterima, tetapi tidak selalu memberikan gambaran utuh mengenai persoalan yang dibahas.

Misalnya, ketika membicarakan kemiskinan, seseorang mungkin langsung mengaitkannya dengan kurangnya usaha individu. Padahal, kemiskinan juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh pendidikan, ketersediaan lapangan pekerjaan, kondisi lingkungan, serta kebijakan sosial dan ekonomi. Jika persoalan hanya dipahami dari satu informasi yang diterima, faktor-faktor lain yang turut memengaruhi keadaan tersebut dapat terabaikan.

Hal ini bukan berarti media sosial selalu memberikan dampak buruk atau generasi muda tidak mampu berpikir kritis. Media sosial justru dapat menjadi sarana untuk mengenal berbagai persoalan yang sebelumnya tidak diketahui. Namun, informasi yang diperoleh tetap perlu diperiksa, dibandingkan, dan dipahami sesuai konteksnya. Mengetahui sebuah isu merupakan langkah awal, sedangkan memahami persoalan membutuhkan proses berpikir yang lebih mendalam.

Michael Young dan Pentingnya Pengetahuan untuk Memahami Dunia

Dalam kajian sosiologi pendidikan, Michael Young bersama Johan Muller (2013) membahas gagasan powerful knowledge. Gagasan ini menekankan pentingnya pengetahuan khusus yang diperoleh melalui pendidikan karena dapat membantu seseorang memahami persoalan melampaui pengalaman sehari-harinya.

Pemikiran tersebut relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan pendapat pribadi atau informasi yang ditemukan di lingkungan sekitar. Mereka juga membutuhkan pengetahuan, konsep, dan teori untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Sebagai contoh, pembahasan mengenai ketimpangan sosial tidak cukup jika hanya didasarkan pada pengalaman melihat perbedaan kondisi ekonomi antarteman. Melalui pembelajaran sosiologi, peserta didik dapat memahami konsep stratifikasi sosial, mobilitas sosial, dan ketimpangan kesempatan. Pengetahuan tersebut membantu mereka melihat bahwa perbedaan kondisi masyarakat tidak selalu terjadi karena pilihan individu, tetapi juga berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas.

Dengan demikian, pendidikan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengembangkan pemahaman yang tidak berhenti pada apa yang terlihat. Pengetahuan menjadi bekal untuk mempertanyakan suatu keadaan, mencari penjelasan, serta menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan kondisi masyarakat. Dalam hal ini, pendidikan bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membantu peserta didik memahami alasan dan hubungan di balik suatu peristiwa.

Belajar dari Pengalaman: Gagasan John Dewey dalam Pendidikan

Proses memahami dunia tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal di sekolah. Generasi muda juga memperoleh pengalaman dari keluarga, pertemanan, organisasi, lingkungan tempat tinggal, dan interaksi di ruang digital. Berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran ketika dihubungkan dengan pengetahuan yang diperoleh.

John Dewey dalam bukunya Democracy and Education (1916) menekankan pentingnya pengalaman dalam proses pendidikan. Pengalaman tidak sekadar menjadi sesuatu yang dialami, tetapi perlu diolah melalui proses berpikir dan refleksi agar menghasilkan pemahaman baru.

Pandangan Dewey menunjukkan bahwa pembelajaran tidak seharusnya hanya berisi penyampaian materi. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata di sekitarnya. Misalnya, ketika mempelajari perubahan sosial, pembahasan dapat dikaitkan dengan perubahan pola komunikasi dalam keluarga, penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, atau perubahan hubungan sosial di lingkungan masyarakat.

Melalui proses tersebut, peserta didik tidak hanya menghafal pengertian perubahan sosial, tetapi juga belajar mengenali bentuk, penyebab, dan dampaknya. Diskusi, pengamatan, serta pertukaran pendapat dapat membantu mereka memahami bahwa satu persoalan sosial dapat memiliki penjelasan berbeda, bergantung pada sudut pandang yang digunakan.

Pemikiran Dewey memperlihatkan bahwa pengalaman dan pengetahuan perlu berjalan beriringan. Pengalaman membantu seseorang mengenali persoalan, sedangkan pengetahuan memberikan dasar untuk memahami persoalan tersebut secara lebih mendalam.

Tantangan Membangun Pemahaman di Tengah Perubahan Sosial

Pentingnya kemampuan memahami informasi juga dapat dilihat melalui hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam laporan tersebut, sekitar 27 persen peserta didik berusia 15 tahun di Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam kemampuan membaca. Angka ini masih berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 69 persen.

Pada tingkat tersebut, peserta didik setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, mengidentifikasi informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan secara jelas (OECD, 2026).

Data tersebut perlu dipahami secara tepat. PISA mengukur kemampuan membaca peserta didik berusia 15 tahun, bukan secara langsung mengukur kemampuan seluruh generasi muda dalam memahami informasi di media sosial. Meski demikian, hasil tersebut dapat menjadi salah satu gambaran mengenai tantangan kemampuan membaca dan memahami informasi dalam dunia pendidikan Indonesia.

Selain kemampuan membaca, kesempatan memperoleh pengetahuan juga belum tentu sama bagi setiap peserta didik. Ada yang memiliki akses terhadap buku, internet, fasilitas belajar, dan lingkungan yang mendukung. Namun, ada pula yang menghadapi keterbatasan sumber belajar maupun pendampingan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami dunia tidak hanya berkaitan dengan kemauan individu untuk belajar, tetapi juga dipengaruhi oleh kesempatan dan lingkungan sosial yang tersedia.

Oleh karena itu, upaya meningkatkan kemampuan generasi muda dalam memahami informasi tidak cukup hanya dengan menuntut mereka agar lebih rajin membaca atau lebih kritis. Sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat juga perlu menyediakan ruang belajar yang mendukung, termasuk kesempatan untuk berdiskusi, mengakses sumber pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan berpikir.

Pendidikan untuk Memahami dan Menyikapi Perubahan

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, pendidikan perlu terus memberi ruang bagi generasi muda untuk bertanya, berdiskusi, dan memeriksa informasi. Pembelajaran tidak seharusnya berhenti pada kemampuan mengingat materi, tetapi juga mendorong peserta didik memahami alasan di balik suatu peristiwa.

Guru dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Keluarga dapat membangun kebiasaan berdiskusi dan menghargai perbedaan pendapat. Sementara itu, generasi muda dapat membiasakan diri untuk tidak langsung menerima informasi, memeriksa sumber, serta membandingkan beberapa sudut pandang sebelum menarik kesimpulan.

Pada akhirnya, pendidikan dan perubahan sosial memiliki hubungan yang saling berkaitan. Perubahan sosial menghadirkan persoalan dan pengalaman baru yang perlu dipahami, sedangkan pendidikan menyediakan pengetahuan dan proses berpikir untuk membantu generasi muda memaknainya.

Kemampuan memahami dunia tidak cukup dibangun dari banyaknya informasi yang diterima. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana informasi tersebut diolah menjadi pengetahuan dan digunakan untuk melihat persoalan secara lebih utuh. Pendidikan dengan demikian tidak hanya mempersiapkan generasi muda untuk mengikuti perubahan zaman, tetapi juga membekali mereka agar mampu memahami, mempertanyakan, dan menyikapi perubahan tersebut secara bijaksana.