Daun yang Tumbuh: Representasi Sebuah Kebebasan

Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Putri Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika melihat dedaunan yang tumbuh, terlintas di benak saya bahwa itu adalah suatu bentuk kebebasan. Kebebasan yang terjadi tanpa adanya pilihan. Hingga membuahi proses dengan keberanian dan akhirnya melahirkan perubahan.
Daun yang tumbuh, tak pernah meminta ia tumbuh di mana.

Bicara tentang kebebasan, banyak yang mengatakan bahwa, “Kebebasan adalah kesepian tingkat atas.” Saya mengelak kalimat tersebut, tapi tak sepenuhnya. Bagaimana pun, saya hidup bukan hanya sekadar untuk terikat dengan ini dan itu, tapi juga bagaimana saya memperlakukan diri saya sendiri. Saya memilih membebaskan jiwa saya, tak ingin terpenjara. Hidup sesekali memang perlu memberontak, melakukan berbagai pergulatan. Entah dengan batin atau yang lain.
Kesepian dalam kebebasan memang sudah menjadi konsekuensi. Karena sedari awal sudah memutuskan untuk menjadi bebas, maka di awal yang harus dilakukan adalah: melepas yang sebelumnya telah tergenggam.
Kebebasan saya mengacu pada dedaunan yang tumbuh dengan liar tanpa mengacau sekitarnya. Menghijau, memukau bagi siapa saja yang meniliknya. Bahkan mereka tetap masif kala badai menghajar dengan kuat. Berdiri dengan akarnya sendiri seraya merapal mantra-mantra kepada yang membersamainya.
Jika memang harus berujung dengan rasa sepi, akan saya cicipi. Biarlah saya mengubahnya menjadi resep yang terbarukan. Saya memilih hidup dengan arah sendiri, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk mengakar.
Kebebasan bukan akhir dari keterhubungan, tapi cara baru untuk merasakannya, dengan lebih utuh dan jujur.
