Ke Mana Pemulung Pergi Saat Sampah Pergi?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Satya Wacana
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Kelara Nirigi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di antara bau menyengat dan tumpukan sampah, para pemulung TPA Ngronggo menemukan cara untuk terus bertahan. Namun, ketika sampah tak lagi datang, ke mana mereka akan mencari penghidupan?
(Kelara Nirigi)

Bau menyengat menyambut siapa pun yang memasuki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngronggo, Salatiga. Udara dipenuhi aroma sampah yang bercampur dari berbagai jenis buangan yang menumpuk.Namun, bagi para pemulung, bau itu bukan alasan untuk menjauh.
Sebuah truk sampah tiba. Belum seluruh muatannya diturunkan, sejumlah pemulung sudah bergerak mendekat. Mereka menaiki tumpukan sampah dan mulai memilah barang-barang yang masih memiliki nilai jual.
Tangan mereka bergerak cepat, Plastik dipisahkan. Kardus dikumpulkan. Kertas dicari di antara tumpukan. Barang yang dianggap masih memiliki nilai dipindahkan ke tempat mereka masing-masing.Truk belum selesai menurunkan muatannya, tetapi pekerjaan para pemulung sudah dimulai. Pemandangan itu kembali terjadi setiap kali truk berikutnya datang.
Sebagian besar pemulung yang terlihat di lokasi tampak telah berusia lanjut. Tubuh mereka tidak lagi muda, tetapi gerakan tangan ketika memilah sampah tetap cekatan. Mereka tahu apa yang harus dicari dan barang mana yang masih dapat dijual.
Mereka makan dan minum di lingkungan TPA. Mereka bertahan bekerja hingga sore. Bau yang bagi orang lain terasa menyengat seolah telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Di tempat yang bagi sebagian orang merupakan akhir dari barang-barang yang sudah tidak digunakan, para pemulung menemukan pekerjaan dan dari pekerjaan itu, mereka mendapatkan penghasilan.
Dari Warung ke Tumpukan Sampah
Di antara para pemulung itu ada Bu Sutiam.
Sekitar dua tahun sudah ia bekerja di TPA Ngronggo. Sebelum menjadi pemulung, ia memiliki usaha warung. Namun, usahanya bangkrut dan meninggalkan beban utang yang harus dibayar. Penghasilan warung tidak lagi mampu memenuhi cicilan yang harus ditanggungnya. Ketika usaha itu tidak lagi mampu menopang kehidupan, Bu Sutiam memilih mencari jalan lain.
Ia datang ke TPA. Keputusan itu bukan berarti ia telah menyerah pada keinginannya untuk kembali memiliki usaha. Sebaliknya, ia masih menyimpan harapan untuk mengumpulkan modal dan membuka usaha kembali. Caranya adalah bekerja dengan tenaganya sendiri.
“saya usaha dengan keringat saya sendiri,” kata Bu Sutiam (58)
Kini, barang-barang yang dibuang orang lain menjadi sesuatu yang ia cari. Plastik, kardus, kertas dan barang lain yang masih dapat dijual menjadi bagian dari penghasilannya. Tidak ada gaji tetap yang menunggu setiap bulan.
Sampah yang Bernilai
Menurut Teguh Ayu Jati, pemulung yang telah lama berada di lingkungan TPA Ngronggo, tidak ada gaji tetap bagi pemulung. Mereka mendapatkan penghasilan dari barang-barang yang masih memiliki nilai jual. Barang tersebut dikumpulkan, kemudian ditimbang dan dijual.
“Misalnya satu hari itu ya dibilang seratus, seratus ribu bisa,” ujar Teguh ketika menjelaskan kemungkinan penghasilan pemulung dalam sehari.
Karena itu, kedatangan sebuah truk sampah bukan sekadar aktivitas rutin. Di balik truk itu ada kemungkinan penghasilan.
Sampah pun memiliki nilai yang berbeda ketika berada di tangan mereka. Benda yang telah dianggap tidak berguna dapat menjadi uang setelah dipilah dan dijual.
Namun, penghasilan tersebut tidak pernah benar-benar pasti. Hari ini bisa mendapatkan banyak, besok belum tentu. Tetapi pekerjaan tetap harus dilakukan.
Ketika Malu Tidak Bisa Mengenyangkan
Pekerjaan sebagai pemulung bukan sesuatu yang mudah diterima oleh semua orang.
Bu Sutiam pernah mendapat reaksi dari orang-orang yang terkejut melihat dirinya kini bekerja di TPA. Perempuan yang sebelumnya memiliki usaha warung itu kini menghabiskan waktu di antara tumpukan sampah.Tetapi kehidupan tidak selalu memberi pilihan yang ideal. Bu Sutiam memilih tetap bekerja.
“Kalau malu itu dipakai enggak kenyang, enggak cukup,” ujarnya. “Yang penting kan kita usaha, daripada kita enggak kerja. Kalau kita malu, terus mau makan apa?”
Bagi Bu Sutiam, pekerjaan sebagai pemulung bukan sesuatu yang perlu dipermalukan. Ia datang ke TPA bukan sekadar untuk memungut barang yang masih bisa dijual, tetapi untuk mempertahankan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada penghasilan yang harus dicari. Selama pekerjaan itu masih bisa menghasilkan uang, ia memilih untuk tetap menjalaninya.
Sebab, baginya, bekerja lebih penting daripada rasa malu.
Ketika Sampah Pergi
Di balik rutinitas tersebut, ada satu pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti.
Bagaimana jika sampah tidak lagi datang ke Ngronggo?
Bu Sutiam mengatakan ia pernah mendengar bahwa TPA tersebut dapat berhenti digunakan. Jika hal itu terjadi, ia dan pemulung lainnya belum mengetahui secara pasti ke mana harus pergi.
Mereka hanya tahu akan mengikuti ke mana sampah dibawa.
“ngetutke motor sampah meh diguwak ngendi aku melu,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di dalamnya ada ketidakpastian tentang masa depan.
Ketika sampah berpindah, mereka mungkin harus ikut berpindah.
Ketika lokasi sampah berubah, tempat mereka mencari penghasilan pun ikut berubah.
Bagi orang lain, perpindahan sampah mungkin hanya persoalan pengelolaan lingkungan.
Bagi pemulung, perpindahan itu dapat berarti perpindahan sumber penghidupan.
Tidak Ada Tempat yang Disiapkan
Setiap hari, mereka datang ke tempat yang sama.
Menaiki timbunan sampah, menunggu truk datang, lalu bergerak cepat mencari barang yang masih bisa dijual. Di tempat seperti itu, keselamatan selalu menjadi sesuatu yang harus diperhitungkan. Alat berat bisa bergerak kapan saja. Tumpukan sampah bisa bergeser. Tetapi pekerjaan tetap berjalan.
Petugas Dinas Lingkungan Hidup Kota Salatiga mengatakan para pemulung sudah beberapa kali diingatkan untuk menjauh ketika alat berat sedang bekerja.
“Sudah diingatkan. Ingatkan tapi ya kadang ya masih gitu,” ujar pihak DLH.
Bukan karena mereka tidak tahu ada bahaya. Mereka hanya tetap datang karena di tempat itulah sesuatu yang bisa menghasilkan uang masih bisa ditemukan.
“Pemerintah itu ya ada aturan tapi bersinggungan dengan mereka, kadang kan urusan perut,” kata pihak DLH.
Urusan perut.
Dua kata sederhana yang mungkin menjelaskan mengapa larangan tidak selalu cukup untuk membuat mereka pergi.
Sebab bagi pemulung, tumpukan sampah bukan hanya tumpukan. Di sana ada botol yang bisa ditimbang, kardus yang bisa dijual, plastik yang masih memiliki harga. Ada uang yang mungkin cukup untuk dibawa pulang hari itu.
Mereka tidak datang untuk mengurangi sampah. Mereka datang untuk mencari sesuatu yang masih bernilai dari barang-barang yang telah dibuang orang lain.
Dan selama masih ada yang bisa ditemukan, mereka masih punya alasan untuk kembali.
Mengikuti Kemana Sampah Pergi
Menjelang sore, aktivitas di TPA Ngronggo belum sepenuhnya berhenti.
Tumpukan sampah masih berada di sana. Bau masih memenuhi udara. Para pemulung masih memilah barang-barang yang mungkin bisa diselamatkan dan dijual.
Pemandangan yang sejak pagi terlihat terus berulang.
Truk datang.
Pemulung mendekat.
Sampah diturunkan.
Tangan-tangan kembali memilah.
Bagi Bu Sutiam, TPA Ngronggo bukan tujuan akhir. Ia masih menyimpan keinginan untuk kembali membuka usaha. Pekerjaan memulung menjadi jalan yang ia pilih setelah usahanya runtuh, sambil mengumpulkan kembali kemampuan untuk memulai.
Namun, jika suatu hari sampah benar-benar pergi dari Ngronggo, jalan itu mungkin ikut berubah.
Mereka belum tahu ke mana.
Mungkin ke tempat lain yang menjadi tujuan truk-truk sampah.
Mungkin ke tumpukan sampah berikutnya.
Yang mereka tahu, mereka harus terus mencari.
Sebab di antara sesuatu yang dibuang orang lain, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih penting: penghidupan.
Dan jika sampah pergi dari Ngronggo, pertanyaannya bukan lagi sekadar ke mana sampah akan dibawa.
Melainkan:
Ke mana orang-orang yang selama ini hidup dari sampah akan pergi?
