Konten dari Pengguna

Edupreneurship: Dari Masalah Menjadi Peluang untuk Pendidikan dan Ekonomi Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maria Keren Oktavia Murni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Edupreneurship sebagai peluang menciptakan solusi pendidikan yang inovatif dan bernilai ekonomi

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pendidikan dan ekonomi merupakan dua pilar utama dalam menentukan keberlanjutan serta kemajuan suatu bangsa. Namun, Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan ganda yang cukup berat. Di satu sisi, dunia pendidikan sering kali dikritik karena kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan belum optimal dalam mencetak lulusan yang siap mandiri secara finansial. Di sisi lain, angka pengangguran terdidik dan tantangan ekonomi nasional menuntut adanya solusi yang tidak sekadar mengandalkan lapangan kerja yang ada,melainkan mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Bayangkan seorang sarjana baru menggenggam ijazah dengan bangga.Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, ia akhirnya siap memasuki dunia kerja. Namun, harapan itu berhadapan dengan kenyataan, satu lowongan pekerjaan dapat dibanjiri ribuan pelamar. Cerita seperti ini bukan sekadar bayangan,melainkan realitas yang dihadapi banyak lulusan muda saat ini.

Pada Mei 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen, yang terendah sejak 1994 (Infobanknews, 2026). Namun, di balik penurunan tersebut, persoalan ketenagakerjaan masih menyisakan tantangan. Dari 7,22 juta penganggur pada Mei 2026 sekitar 1,03 juta orang atau 14,31 persen merupakan lulusan D4 hingga S3 (kumparanBISNIS, 2026). Sementara itu,pada Februari 2026 tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15-24 tahun mencapai 16,36 persen (Indraini, 2026). Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan ijazah belum selalu menjadi jaminan seseorang dapat segera memasuki dunia kerja.

Ironisnya, pada saat yang sama Indonesia punya ruang ekonomi yang sangat luas dan kekurangan tangan-tangan kreatif untuk mengisinya. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen produk domestik bruto dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja (Kementerian Keuangan RI, 2022). Banyak UMKM masih membutuhkan bantuan dalam mencatat pemasukan dan pengeluaran, mempromosikan produk melalui media sosial, mengatur keuangan usaha hingga membuat produk yang lebih menarik. Di sisi lain, sekolah dan komunitas belajar juga membutuhkan media pembelajaran yang menarik, terjangkau dan dekat dengan kehidupan siswa. Sarjana mencari kerja, sementara persoalan nyata menunggu untuk dipecahkan.

Di sinilah edupreneurship menjadi penting. Gagasan ini menyatukan dua hal yang selama ini sering dipisahkan, pendidikan yang menumbuhkan jiwa wirausaha dan kewirausahaan yang lahir untuk menyelesaikan masalah pendidikan. Edupreneurship bukan sekadar mengajarkan mahasiswa cara berjualan. Lebih dari itu, edupreneurship mengajarkan cara melihat masalah sebagai peluang untuk menciptakan solusi yang bermanfaat.

Selama ini pendidikan sering dipandang sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, pendidikan juga seharusnya menjadi tempat untuk belajar menciptakan pekerjaan, membangun usaha dan menyelesaikan persoalan sekitar. Karena itu, pengangguran terdidik dan berbagai persoalan pendidikan tidak seharusnya hanya dilihat sebagai beban, tetapi juga sebagai peluang untuk melahirkan generasi yang mampu menciptakan solusi.

a. Ketika Ijazah Tidak Lagi Cukup

Selama bertahun-tahun,kita terbiasa dengan pola sederhana: kuliah, lulus lalu bekerja. Masalahnya, dunia kerja terus berubah. Jumlah lulusan bertambah, sementara kesempatan kerja formal tumbuh tidak secepat itu. Hasilnya antrean panjang di pintu yang sempit.

Padahal, pendidikan nasional tidak hanya bertujuan menghasilkan orang yang memiliki kemampuan akademik. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan diarahkan agar peserta didik berkembang menjadi pribadi yang cakap, kreatif dan mandiri. Artinya, pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membangun keberanian untuk menciptakan sesuatu.

Pertanyaan kemudian bukan hanya “setelah lulus, saya mau bekerja di mana?”, tetapi juga “masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”

Perubahan cara berpikir inilah yang perlu mulai ditanamkan di perguruan tinggi.

b. Edupreneurship:Dua sisi,Satu Benang

Edupreneurship dapat dipahami dari dua sisi. Pertama, pendidikan tentang kewirausahaan, yaitu proses belajar agar mahasiswa mampu membaca masalah, menimbang risiko dan mencoba solusi. Kedua, kewirausahaan di bidang pendidikan yaitu menciptakan produk atau layanan yang membantu orang lain belajar, misalnya membuat modul belajar sederhana, video pembelajaran, kelas daring, permainan edukatif, jasa pendampingan UMKM atau media belajar ekonomi yang dekat dengan kehidupan siswa.

Dua sisi edupreneurship tersebut dapat dirajut dengan satu benang yang sama, yaitu Inovasi. Pendidikan kewirausahaan mengajarkan mahasiswa untuk melihat masalah dan mencari solusi, sedangkan kewirausahaan di bidang pendidikan menghadirkan solusi tersebut dalam bentuk produk atau layanan yang bermanfaat.

Hal ini sejalan dengan pemikiran (Schumpeter, 1934) mengenai wirausaha sebagai penggerak pembaruan melalui penciptaan kombinasi baru (creative destruction) serta (Drucker, 1985) yang melihat kewirausahaan sebagai praktik inovasi yang terstruktur dan dapat dipelajari. Jika kewirausahaan adalah sebuah keterampilan yang dapat dilatih, maka kampus harus hadir sebagai laboratorium yang aman bagi mahasiswa untuk mencoba, gagal, mengevaluasi dan bangkit kembali demi menyempurnakan inovasinya.

c. Tiga Masalah yang Menunggu Menjadi Peluang

Peluang edupreneurship tidak selalu berawal dari modal besar, kantor mewah atau teknologi yang canggih. Sering kali, peluang justru tersembunyi di balik masalah sederhana yang kita temui setiap hari.

Pertama, Kesenjangan mutu belajar antardaerah. Tidak semua siswa mengakses bimbingan belajar atau buku pendamping yang baik. Ini membuka ruang bagi modul belajar murah, konten video atau kelas daring yang terjangkau.

Kedua, kebutuhan UMKM akan literasi keuangan dan digital. Banyak pelaku usaha kecil belum memisahkan uang pribadi dan uang usaha atau belum memanfaatkan pemasaran digital. Mahasiswa pendidikan ekonomi yang menguasai akuntansi dasar dan manajemen keuangan dapat menjadi pendamping sekaligus membangun jasa pelatihan.

Ketiga, minimnya media ajar ekonomi yang kontekstual. Materi ekonomi terkadang terasa jauh dari kehidupan siswa karena hanya berhenti pada definisi dan angka di buku. Padahal, ekonomi sebenarnya ada di sekitar mereka: di warung, pasar ,koperasi sekolah hingga kegiatan jual beli sehari-hari. Karena itu,mahasiswa dapat menciptakan “Ekonomi di Sekitar Kita” dalam bentuk permainan bisnis, simulasi jual beli, studi kasus warung setempat, simulasi koperasi sekolah atau proyek sederhana menghitung modal dan keuntungan.

d. Dari Ide Menjadi Aksi: Tiga Simpul Solusi

Menurut saya, edupreneurship tidak seharusnya berhenti di antara halaman modul, tugas makalah dan nilai di lembar penilaian saja. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar tentang bagaimana menciptakan peluang; mereka perlu diberi ruang untuk benar-benar menciptakannya. Karena itu, kampus perlu mengubah pembelajaran edupreneurship dari sekadar teori menjadi pengalaman yang bisa disentuh, dicoba, gagal dan diperbaiki.

Ada tiga langkah sederhana yang dapat dilakukan:

Pertama, satu mata kuliah satu karya nyata.

Mata kuliah seperti Edupreneur, Ekonomi Kreatif dan Bisnis Ritel tidak harus selalu berakhir pada makalah atau presentasi. Setiap mata kuliah dapat diarahkan untuk menghasilkan setidaknya satu produk atau layanan yang memiliki manfaat nyata.

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, misalnya, dapat membuat produk edukasi dan literasi keuangan, permainan simulasi bisnis sederhana, jasa pendampingan sederhana bagi UMKM hingga produk kreatif yang memiliki nilai jual. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memahami konsep kewirausahaan dari buku, tetapi merasakan sendiri proses mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai.

Kedua, media sosial sebagai laboratorium pasar digital

Mahasiswa tidak perlu modal besar atau toko fisik untuk mulai menguji pasar. Kampus dapat mewajibkan mahasiswa memanfaatkan platform digital yang dekat dengan keseharian mereka, seperti Instagram, TikTok atau Shopee. Media sosial ini diubah menjadi etalase digital untuk memasarkan modul literasi keuangan, video edukasi atau produk kreatif mereka. Lewat langkah ini, mahasiswa belajar praktik digital marketing dan berinteraksi langsung dengan konsumen secara nyata dengan risiko finansial yang minim.

Ketiga, pasar kampus untuk uji coba lapangan.

Menghidupkan atmosfer wirausaha memerlukan ruang interaksi fisik. Kampus dapat menyediakan ruang berkala seperti pasar kampus pekanan atau bulanan di area strategis kampus. Di sinilah permainan simulasi bisnis, paket jasa pembukuan sederhana untuk UMKM atau media belajar ekonomi kontekstual yang telah dibuat mahasiswa dipamerkan dan dijual. Proses ini melatih mental mahasiswa untuk berani bernegosiasi dan melihat respons pasar secara langsung.

KESIMPULAN

Tingginya angka pengangguran terdidik serta kelompok usia muda pada tahun 2026 menjadi alarm keras bahwa ijazah dan pencapaian akademik tidak lagi cukup tanpa adanya kemandirian finansial. Di tengah ironi ini, ruang ekonomi yang luas melalui sektor UMKM dan kebutuhan media ajar yang kontekstual seharusnya tidak dilihat sebagai beban nasional, melainkan peluang emas bagi dunia pendidikan.

Melalui integrasi edupreneurship yang digerakkan oleh inovasi, perguruan tinggi dapat bertindak sebagai laboratorium nyata yang mengubah paradigma mahasiswa dari pencari kerja menjadi pencipta solusi. Melalui tiga simpul solusi, mulai dari satu mata kuliah satu karya nyata, pemanfaatan media sosial sebagai laboratorium pasar, hingga pengaktifan pasar kampus, mahasiswa tidak hanya belajar teori tetapi langsung mempraktikkan inovasi secara konkret.

Pada akhirnya, merajut edupreneurship bukan sekadar strategi mengurangi pengangguran terdidik, melainkan langkah strategis untuk mewujudkan Nusantara Cendikia yang kreatif, mandiri dan mampu mendidik sekaligus menggerakkan ekonomi bangsa.