Budaya Lembur: Dedikasi atau Tanda Manajemen yang Bermasalah?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fahmi Rhamadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya lembur masih sering dianggap lencana kehormatan. Orang yang pulang paling akhir dianggap paling berdedikasi, sementara yang pulang tepat waktu kadang dicap kurang berkomitmen. Saya pernah mendengar banyak cerita seperti ini, dan menurut saya ada yang keliru dari cara kita mengukurnya. Lembur sesekali karena tenggat atau kondisi darurat wajar. Tetapi ketika lembur menjadi kebiasaan yang diharapkan, ia bukan lagi tanda dedikasi, melainkan gejala dari masalah yang belum diselesaikan.
Budaya lembur sering berakar pada perencanaan yang lemah
Jika sebuah tim terus bekerja hingga malam setiap minggu, pertanyaan yang layak diajukan bukan “siapa yang kurang rajin?” melainkan “mengapa pekerjaannya tidak muat dalam jam kerja?” Beberapa penyebab yang sering saya temui:
Target yang tidak realistis, sehingga beban selalu melebihi kapasitas.
Perencanaan yang buruk, seperti perubahan permintaan menjelang tenggat.
Kekurangan tenaga, tetapi pekerjaan terus ditambah tanpa menambah orang.
Penilaian berdasarkan kehadiran, bukan hasil, sehingga orang merasa harus terlihat sibuk.
Dalam kondisi seperti ini, lembur menutupi masalah organisasi dengan tenaga dan waktu pribadi karyawan.
Dampak budaya lembur terhadap kinerja dan kesehatan
Kelelahan umumnya menurunkan konsentrasi dan kualitas keputusan. Pekerja yang terus kekurangan waktu istirahat lebih rentan membuat kesalahan, dan bila kondisi itu berlangsung lama, semangat kerja pun menurun. Dampaknya akhirnya kembali ke perusahaan lewat kualitas kerja yang turun dan karyawan yang memilih pergi.
Aspek lain yang tak boleh dilupakan adalah hak. Ada ketentuan tentang jam kerja dan upah lembur, sehingga lembur yang diharapkan tanpa kompensasi yang semestinya adalah persoalan serius, bukan sekadar budaya perusahaan.
Cara meninjau ulang budaya lembur
Beberapa langkah yang menurut saya layak dicoba:
Ukur hasil, bukan jam. Nilai karyawan dari capaian yang jelas.
Perbaiki perencanaan. Libatkan tim dalam menentukan tenggat dan lingkup kerja.
Sesuaikan beban dengan kapasitas. Kurangi lingkup atau tambah tenaga bila beban terus berlebih.
Beri teladan. Atasan yang selalu mengirim pesan malam hari secara tidak langsung memberi sinyal bahwa semua orang harus siaga.
Hargai waktu istirahat. Batasi komunikasi kerja di luar jam kantor untuk hal yang tidak mendesak.
Tentu ada pandangan lain. Sebagian orang berpendapat bahwa pada fase kritis, misalnya perusahaan rintisan yang baru berjuang atau proyek dengan tenggat ketat, kerja ekstra tak terhindarkan. Sebagian lainnya mengaku menikmati bekerja lebih lama karena tertarik pada pekerjaannya. Menurut saya, keduanya sah selama bersifat sementara, sukarela, dan dihargai. Masalah muncul saat lembur menjadi norma yang menekan.
Penutup
Pada akhirnya, budaya lembur patut dibaca sebagai cermin: apakah organisasinya memberi beban yang masuk akal dan mengukur kontribusi dengan adil? Dedikasi sejati tidak diukur dari lamanya lampu kantor menyala. Pertanyaan yang layak diajukan setiap atasan: kalau tim saya pulang tepat waktu besok, apakah pekerjaannya tetap berjalan, dan kalau tidak, apa yang perlu saya perbaiki?
