Konten dari Pengguna

Drainase Perkotaan: Mengapa Banjir Terus Datang Meski Sudah Dikeruk

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Rhamadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Drainase perkotaan sering baru dibicarakan ketika banjir sudah terjadi. Setelah air surut, biasanya muncul jawaban yang sama: saluran dikeruk, sampah diangkut, lalu semua kembali seperti semula sampai hujan deras berikutnya. Menurut saya, pola ini menunjukkan bahwa masalah banjir kota jarang selesai dengan satu tindakan. Banjir adalah hasil dari banyak hal yang bekerja bersamaan, dan insinyur sipil melihatnya sebagai persoalan sistem, bukan sekadar parit yang tersumbat.

Drainase perkotaan dan air yang tidak lagi meresap

Saat hujan turun di lahan terbuka, sebagian air meresap ke tanah dan sebagian mengalir pelan. Di kota, permukaan tanah banyak tertutup aspal, beton, dan atap, sehingga air sulit meresap dan mengalir lebih cepat serta lebih banyak ke saluran. Semakin banyak lahan yang dibangun, semakin besar aliran permukaan yang harus ditampung drainase.

Karena itu, saluran yang dulu memadai bisa menjadi terlalu kecil ketika kota berkembang di sekitarnya.

Mengapa saluran yang dikeruk belum tentu cukup

Beberapa penyebab yang menurut saya sering luput:

Kapasitas desain terbatas. Saluran dirancang untuk hujan dengan periode ulang tertentu. Hujan yang lebih ekstrem dari asumsi desain tetap akan melimpas.

Sedimentasi dan sampah. Endapan dan sampah menyempitkan penampang saluran, sehingga kapasitasnya turun dari rancangan awal.

Saluran tidak terhubung dengan baik. Saluran kecil yang mengalir ke saluran utama yang penuh atau ke sungai yang sedang tinggi akan tertahan.

Pengaruh pasang surut dan muka air sungai. Di kota pesisir, air hujan sulit keluar ketika laut sedang pasang.

Penurunan muka tanah. Di beberapa wilayah, tanah yang turun membuat aliran gravitasi tidak lagi bekerja seperti rencana.

Pendekatan yang lebih menyeluruh

Insinyur tidak hanya memperbesar saluran, tetapi mengelola air dari hulu ke hilir:

Menahan dan meresapkan air lewat sumur resapan, lubang biopori, taman hujan, dan ruang terbuka hijau.

Menampung sementara air hujan di kolam retensi atau waduk kecil agar puncak aliran tidak langsung membebani saluran.

Memperbaiki jaringan agar saluran terhubung dan mengalir ke tempat yang memiliki kapasitas.

Memakai pompa di wilayah yang memang tidak bisa mengalir secara gravitasi.

Merawat secara rutin, termasuk pembersihan sedimen dan pengawasan sampah.

Saya percaya bagian terakhir, perawatan dan perilaku warga, menentukan seberapa lama infrastruktur bertahan. Saluran sebaik apa pun akan tersumbat bila sampah terus dibuang ke dalamnya.

Tentu ada pandangan lain. Sebagian pihak menilai lahan di kota terlalu terbatas untuk kolam retensi atau ruang resapan, dan biaya pembangunan besar tidak selalu tersedia. Keterbatasan itu nyata. Namun solusi berskala kecil seperti sumur resapan dan biopori di tiap rumah, jika dilakukan banyak orang, bisa memberi pengaruh yang berarti.

Penutup

Pada akhirnya, drainase perkotaan adalah soal bagaimana kota hidup berdampingan dengan air hujan, bukan melawannya. Pertanyaan yang layak diajukan: kalau hujan deras turun malam ini, ke mana air di sekitar rumah kita akan pergi?