Konten dari Pengguna

Lean Manufacturing: Memangkas Pemborosan Tanpa Mengurangi Kualitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Rhamadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Lean manufacturing sering dikira hanya soal memotong biaya, padahal gagasan dasarnya lebih halus: menghilangkan semua aktivitas yang tidak memberi nilai bagi pelanggan. Pabrik yang sibuk sepanjang hari belum tentu efisien. Mesin menyala, orang bergerak, tetapi sebagian besar waktu dan tenaga mungkin dipakai untuk menunggu, memindahkan barang bolak-balik, atau memperbaiki produk yang cacat. Menurut saya, nilai terbesar dari pendekatan ini adalah cara pandangnya: belajar melihat pemborosan yang selama ini dianggap biasa.

Lean manufacturing berawal dari sistem produksi Toyota

Konsep ini berkembang dari Toyota Production System, yang menekankan menghasilkan hanya apa yang dibutuhkan, saat dibutuhkan, dalam jumlah yang dibutuhkan. Inti pemikirannya adalah menentukan nilai dari sudut pandang pelanggan, lalu menyingkirkan hal-hal yang tidak berkontribusi pada nilai itu.

Tujuh jenis pemborosan dalam lean manufacturing

Dalam kerangka lean, pemborosan sering dikelompokkan menjadi tujuh jenis:

Produksi berlebih. Membuat lebih banyak dari yang dibutuhkan.

Menunggu. Orang atau mesin menganggur menanti bahan atau instruksi.

Transportasi. Memindahkan bahan yang tidak perlu antar-tempat.

Proses berlebihan. Mengerjakan lebih dari yang dibutuhkan pelanggan.

Persediaan berlebih. Stok yang menumpuk menahan modal dan menyembunyikan masalah.

Gerakan tidak perlu. Operator berjalan, mengambil, atau mencari tanpa alasan.

Cacat. Produk yang harus dibuang atau dikerjakan ulang.

Sebagian pihak juga menambahkan pemborosan kedelapan: tidak memanfaatkan gagasan dan kemampuan pekerja.

Alat dan prinsip dasarnya

Beberapa alat yang umum dipakai:

5S, yaitu menata tempat kerja agar rapi, bersih, dan mudah digunakan.

Pemetaan aliran nilai (value stream mapping) untuk melihat seluruh alur dari bahan baku sampai pelanggan.

Kanban, sistem sinyal yang menarik produksi sesuai permintaan.

Kaizen, kebiasaan perbaikan kecil yang berkelanjutan, melibatkan semua orang.

Tantangan terbesar: budaya, bukan alat

Dalam pengamatan saya, banyak penerapan lean gagal bukan karena alatnya salah, tetapi karena dilakukan sebagai proyek sesaat atau, lebih buruk, sebagai kedok pengurangan karyawan. Bila pekerja merasa lean berarti kehilangan pekerjaan, mereka berhenti memberi gagasan, dan perbaikan berhenti. Lean paling berhasil ketika operator di lantai produksi dilibatkan karena merekalah yang paling tahu di mana pemborosan terjadi.

Tentu ada pandangan lain. Sebagian pihak mengkritik bahwa stok yang terlalu tipis membuat pabrik rentan ketika rantai pasok terganggu. Kritik ini patut diperhatikan, dan banyak perusahaan kini menyeimbangkan efisiensi dengan cadangan pengaman untuk bahan yang kritis. Menurut saya, lean yang matang bukan berarti nol stok, melainkan stok yang disengaja.

Penutup

Pada akhirnya, lean manufacturing adalah soal kebiasaan bertanya: apakah langkah ini memberi nilai bagi pelanggan? Pertanyaan yang layak diajukan setiap pabrik: kalau saya mengikuti satu produk dari gudang bahan baku sampai keluar, berapa persen waktunya benar-benar dipakai untuk mengolahnya?