Konten dari Pengguna

Nenek Penjual Sayur yang Nekat Ikut Demonstrasi Mahasiswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kesya Bella Chantika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Nenek Penjual Sayur Ikut Demo _ Hasil Pengeditan dengan Aplikasi Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nenek Penjual Sayur Ikut Demo _ Hasil Pengeditan dengan Aplikasi Canva

Di tengah riuhnya aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut penurunan harga sembako, muncul sosok tak terduga yang justru mencuri perhatian: seorang nenek penjual sayur yang nekat berjalan ke tengah lautan massa. Cerpen berjudul “Suara dari Jalanan” karya Nadya Nurul Azkiya menghadirkan pertemuan yang tidak biasa antara Arif, mahasiswa semester lima yang memimpin aksi, dan Mbah Marni, nenek penjual sayur langganannya yang selama ini hanya dikenal lewat obrolan ringan di depan lapak kangkung dan cabai rawit.

Keterkaitan antarunsur itulah yang membuat cerpen ini terasa utuh dan menggugah. Sebagaimana dikemukakan Burhan Nurgiyantoro dalam buku Teori Pengkajian Fiksi, sebuah karya fiksi terbangun dari unsur-unsur yang saling berkaitan erat, saling bergantung, dan bersama-sama membentuk satu totalitas cerita yang padu. Melalui tokoh, latar, dan alur yang dijalin dengan cermat, Nadya Nurul Azkiya berhasil menghadirkan pesan sosial yang mendalam tanpa terasa menggurui.

Sosok Sederhana yang Menggetarkan Aksi Jalanan

Mbah Marni digambarkan sebagai perempuan tua yang selama hampir setahun dikenal Arif sebagai penjual sayur di ujung gang kosnya. Ia berjualan di atas tikar plastik lusuh, menjajakan terong, cabai rawit, kangkung, dan bawang merah seadanya. Watak sederhana namun tegar itu tergambar jelas ketika ia mengeluhkan nasibnya kepada Arif:

“Sekilo cabai rawit, Le, dulu Mbah bisa jual delapan belas ribu. Sekarang belinya saja sudah hampir tiga puluh ribu. Kalau Mbah naikin harga, pembeli kabur. Kalau enggak dinaikin, ya Mbah rugi. Rasanya sudah serba salah.”

Lewat dialog itu, pengarang tidak menjelaskan watak Mbah Marni secara langsung, melainkan membiarkan pembaca menangkapnya sendiri dari cara ia berbicara: jujur, pasrah, tetapi tetap berusaha bertahan. Cara penggambaran semacam ini membuat sosok nenek penjual sayur terasa hidup dan dekat, bukan sekadar tokoh pelengkap dalam cerita tentang mahasiswa turun ke jalan.

Ketika Lapak Sayur Berubah Jadi Medan Suara

Latar cerita bermula dari suasana kota yang berat oleh resah, ketika ribuan orang tumpah ruah di depan gedung pemerintahan. Suasana itu digambarkan dengan detail yang kuat: toa yang bersahutan, dentuman drum tong bekas, dan spanduk bertuliskan tuntutan rakyat kecil. Di tengah kepungan latar sosial itulah, sosok nenek penjual sayur muncul membawa kantong plastik berisi sayur seadanya, berjalan tertatih mendekati barisan mahasiswa meski aparat sempat menghalau.

“Le, Mbah ikut, ya?” katanya lirih. Arif sempat tertegun dan mengingatkan bahaya gas air mata serta dorongan aparat, tetapi Mbah Marni tetap bersikeras. Latar demonstrasi yang semula hanya milik anak muda pun perlahan berubah menjadi ruang di mana suara rakyat kecil ikut didengar. Pilihan latar seperti ini bukan sekadar tempat kejadian, melainkan bagian penting yang memperkuat konflik batin tokoh dan menghidupkan tema perjuangan yang diusung cerpen ini.

Mahasiswa dan Nenek: Dua Generasi, Satu Suara

Kehadiran Mbah Marni di tengah demonstrasi mahasiswa membuat Arif menyadari sesuatu yang selama ini luput dari orasi-orasi yang ia teriakkan. Ketika gas air mata ditembakkan dan massa panik, Arif segera merunduk melindungi Mbah Marni di balik spanduk, menutup hidung dan mulutnya dengan kain basah seadanya. Adegan ini memperlihatkan bagaimana relasi antartokoh dibangun bukan lewat kata-kata besar, melainkan lewat tindakan kecil yang penuh kepedulian.

“Makasih, Le. Mbah enggak ngerti orasi-orasi itu, tapi Mbah ngerti rasa lapar. Mbah ngerti harga yang bikin orang kecil enggak bisa hidup. Tadi Mbah merasa suara Mbah enggak sia-sia. Meskipun kecil, tapi ada yang mendengar.”

Kutipan tersebut menegaskan bahwa kehadiran nenek penjual sayur di tengah demonstrasi bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan penyeimbang sudut pandang. Jika mahasiswa bersuara lewat teori dan orasi, Mbah Marni bersuara lewat pengalaman hidup yang nyata dirasakan. Pertemuan dua generasi dan dua cara bersuara inilah yang menjadi inti kekuatan cerpen “Suara dari Jalanan”.

Pesan yang Tak Lekang oleh Waktu

Menjelang akhir cerita, Arif menuliskan sebuah catatan yang merangkum seluruh perjalanan batinnya hari itu:

“Hari ini aku belajar, perjuangan bukan soal berani melawan aparat, bukan soal kerasnya suara di megafon. Perjuangan adalah ketika seorang nenek penjual sayur berani berjalan ke tengah lautan massa, membawa suara kecil yang lebih besar dari ribuan teriakan.”

Melalui catatan itu, pengarang menyampaikan amanat bahwa keberanian tidak selalu identik dengan kekuatan fisik atau jabatan, melainkan kesediaan untuk tetap bersuara meski dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Tema besar tentang kepedulian sosial dan empati lintas generasi ini tersampaikan justru karena unsur tokoh, latar, dan alur dijalin sedemikian rupa hingga membentuk satu kesatuan cerita yang utuh, sebagaimana ditekankan Nurgiyantoro dalam kajiannya tentang fiksi. Sosok nenek penjual sayur pun akhirnya menjadi simbol bahwa suara rakyat kecil, sekecil apa pun, layak untuk didengar oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Azkiya, Nadya Nurul. 2025. “Suara dari Jalanan.” Kompas.id, 24 Oktober.