Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Begitu Peduli dengan Jumlah Likes?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keysha Aura Fayzha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi likes yang di dapatkan di sosial media. (Sumber: stutterstock.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi likes yang di dapatkan di sosial media. (Sumber: stutterstock.com)

Semakin banyak platform media sosial, semakin besar pula harapan kita terhadap jumlah likes yang diperoleh. Ketika jumlahnya tidak sesuai harapan, kita bisa merasa minder. Padahal, sebelum diunggah, kita sudah merasa foto tersebut bagus. Hal sederhana ini menunjukkan bagaimana angka di media sosial terkadang memengaruhi cara kita menilai sesuatu, bahkan diri sendiri.

Likes, views, dan followers awalnya merupakan fitur untuk menunjukkan interaksi. Namun, seiring waktu, angka-angka tersebut dapat menjadi tolok ukur popularitas. Akun dengan ribuan pengikut terlihat lebih terkenal, unggahan dengan banyak likes dianggap lebih menarik, dan kehidupan yang ramai di media sosial kerap dipersepsikan lebih menyenangkan. Masalahnya, apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan kenyataan?

Di media sosial, orang memiliki kebebasan untuk memilih bagian kehidupan yang ingin dibagikan. Momen liburan, pencapaian, pertemuan bersama teman, hingga aktivitas sehari-hari dapat disusun menjadi potongan cerita yang menarik. Hal ini tidak otomatis berarti seseorang berpura-pura bahagia. Namun, apa yang terlihat di layar memang tidak selalu mewakili keseluruhan kehidupannya.

Cara seseorang memilih apa yang ingin ditampilkan berkaitan dengan konsep self-presentation atau presentasi diri dalam ilmu komunikasi. Sosiolog Erving Goffman, melalui bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menjelaskan bagaimana individu menampilkan dirinya untuk membentuk kesan tertentu di hadapan orang lain. Di media sosial, hal ini terlihat dari cara seseorang memilih foto, menyusun caption, hingga memutuskan momen mana yang ingin dibagikan. Pilihan tersebut dapat menjadi bagian dari cara seseorang ingin dikenal oleh orang lain.

Ketika sesuatu yang kita tampilkan mendapat respon, muncul pula kesempatan untuk menilai bagaimana orang lain melihat diri kita. Jumlah likes dan komentar menjadi bentuk umpan balik yang mudah diamati. Unggahan yang ramai respon mungkin membuat seseorang merasa berhasil menarik perhatian, sedangkan unggahan yang sepi bisa memunculkan pertanyaan tentang apakah dirinya atau kontennya kurang menarik.

Di sinilah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat semakin terasa. Jumlah followers dan likes menyediakan angka yang bisa diperiksa kapan saja. Tanpa disadari, pengalaman yang sebenarnya bersifat personal pun dapat berubah menjadi semacam perlombaan tentang siapa yang lebih populer atau lebih menarik perhatian.

Padahal, banyaknya respon di media sosial dipengaruhi berbagai faktor. Waktu mengunggah, jenis konten, jumlah audiens, dan sistem rekomendasi platform dapat memengaruhi jangkauan sebuah unggahan. Foto yang sepi likes tidak otomatis berarti buruk, sebagaimana unggahan viral tidak selalu menunjukkan bahwa pemiliknya memiliki kehidupan yang lebih baik.

Tentu, menikmati perhatian bukan sesuatu yang salah. Mendapatkan tanggapan positif bisa terasa menyenangkan karena manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika angka digital mulai menentukan apakah pengalaman kita layak dibanggakan atau apakah diri kita cukup menarik dibandingkan orang lain.