Konten dari Pengguna

Manifesto Gen Z: Jangan Normalisasi Perundungan, Kita Semua Berhak Merasa Aman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Keysha Qurota Ayuni 087 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://share.google/6HSnPhvUVbBiDdoFI
zoom-in-whitePerbesar
https://share.google/6HSnPhvUVbBiDdoFI

Kami Gen Z, dan kami menolak menganggap perundungan sebagai hal yang biasa.

Di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, maupun media sosial, perundungan masih sering dianggap sebagai candaan. Ejekan tentang penampilan, kondisi ekonomi, cara berbicara, hingga latar belakang seseorang terkadang dibungkus dengan alasan hanya bercanda. Padahal, sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Ada perkataan yang mungkin hanya dianggap lelucon oleh pelakunya, tetapi dapat membuat orang lain merasa direndahkan dan kehilangan kepercayaan diri.

Masalahnya bukan hanya pada tindakan perundungan itu sendiri, tetapi juga pada kebiasaan masyarakat yang membiarkannya terjadi. Ketika seseorang menjadi sasaran ejekan dan orang-orang di sekitarnya hanya tertawa atau memilih diam, perilaku tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Tanpa disadari, sikap diam dan anggapan bahwa perundungan merupakan bagian biasa dari pergaulan justru membuat masalah semakin sulit dihentikan.

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, Gen Z menghadapi bentuk perundungan yang tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui internet. Komentar merendahkan, penyebaran foto tanpa izin, penghinaan di kolom komentar, hingga mempermalukan seseorang melalui unggahan dapat menyebar dengan cepat. Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat berbagi informasi dan mengekspresikan diri justru dapat berubah menjadi ruang yang membuat seseorang merasa tidak aman.

Kami percaya bahwa setiap orang berhak dihormati tanpa harus memenuhi standar kelompok tertentu. Perbedaan penampilan, kemampuan, kondisi ekonomi, agama, budaya, maupun kepribadian bukanlah alasan untuk merendahkan orang lain. Tidak ada seorang pun yang seharusnya merasa harus mengubah dirinya hanya agar diterima oleh lingkungan sosialnya.

Namun, menghentikan perundungan bukan hanya tanggung jawab korban atau pihak sekolah. Kita semua memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. Ketika melihat perundungan, kita dapat memberikan dukungan kepada korban, tidak ikut menertawakan atau menyebarkan konten yang mempermalukan seseorang, serta melaporkan kejadian melalui saluran yang tepat. Jika situasinya berisiko, mencari bantuan dari guru, orang tua, pihak kampus, atau orang dewasa yang tepercaya merupakan langkah yang lebih aman.

Kami juga perlu menyadari bahwa kebebasan berekspresi bukan berarti bebas menyakiti orang lain. Kritik dan candaan tetap perlu mempertimbangkan batasan serta perasaan orang yang menerimanya. Menghormati orang lain bukan berarti kita tidak boleh berbeda pendapat, melainkan memahami bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan penghinaan.

Perubahan mungkin tidak langsung terjadi dalam waktu singkat. Namun, perubahan dapat dimulai ketika kita berani mengoreksi candaan yang merendahkan, memilih untuk tidak ikut melakukan perundungan, dan memberikan dukungan kepada orang yang membutuhkan.

Kami tidak ingin menjadi generasi yang terbiasa melihat ketidakadilan lalu menganggapnya sebagai hal yang normal. Kami ingin menjadi generasi yang berani bersuara, saling melindungi, dan menciptakan ruang yang aman bagi semua orang. Karena setiap orang berhak merasa diterima tanpa harus menjadi sasaran lelucon orang lain.

Referensi

1. UNICEF. Cyberbullying