Undangan Terakhir untuk Sebuah Nama

"Lulusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palangka Raya. Sat ini saya berprofesi sebagai seorang guru aliyah."
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Muhammad Khairul Ikhsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: [Muhammad Khoirul Ikhsan]
Cerpen tentang cinta yang dipersiapkan, tetapi tidak pernah sampai.
“Barangkali, luka terbesar bukanlah kehilangan seseorang yang pernah dimiliki, melainkan kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam dipersiapkan untuk masa depan.”
I. Perempuan yang Tertinggal di Bangku Perkuliahan
Raka mengenalnya pada masa ketika hidup belum benar-benar dipahaminya.
Saat itu, dunia masih sesederhana ruang kuliah, tumpukan buku, percakapan kecil di sela-sela kesibukan, dan harapan-harapan yang tumbuh tanpa pernah diungkapkan kepada siapa pun.
Namanya Kirana.
Raka tidak pernah benar-benar mengingat kapan perasaan itu mulai tumbuh. Tidak ada petir yang menyambar, tidak ada musik yang tiba-tiba terdengar, dan tidak pula ada peristiwa besar sebagaimana kisah cinta dalam novel.
Perasaan itu tumbuh perlahan.
Mungkin dari cara Kirana berbicara. Mungkin dari tawanya yang sederhana. Atau mungkin karena di antara banyak wajah yang ditemuinya setiap hari, hanya wajah perempuan itu yang masih teringat ketika semua orang telah pulang.
Suatu sore, seusai perkuliahan, mereka sempat berbincang singkat.
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Kirana.
“Iya, mungkin sebentar lagi,” jawab Raka.
“Kalau begitu, hati-hati.”
Raka tersenyum. “Kamu juga.”
Percakapan itu tidak lebih dari beberapa detik. Bagi Kirana, mungkin hanya percakapan biasa antara dua orang yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Namun, bagi Raka, kalimat sederhana itu bertahan jauh lebih lama daripada yang seharusnya.
Begitulah semuanya bermula. Raka mulai menyimpan hal-hal kecil tentang Kirana, sementara perempuan itu barangkali tidak pernah menyadari bahwa seseorang sedang belajar mengingatnya dengan begitu sungguh-sungguh.
Ia tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa dirinya menyukai Kirana.
Ia hanya menjadi seseorang yang sesekali memperhatikannya, seseorang yang diam-diam berharap bisa mengenalnya lebih jauh, dan seseorang yang selalu menemukan alasan untuk menunda keberanian.
Raka mengira waktu masih panjang.
Masih ada perkuliahan yang harus diselesaikan, pekerjaan yang harus dicari, kehidupan yang harus dibangun, dan masa depan yang harus dipersiapkan.
Ia tidak ingin datang kepada Kirana dengan tangan kosong.
Dalam pikirannya, cinta bukan sekadar tentang mengatakan, “Aku menyukaimu.” Cinta juga tentang kesiapan. Tentang menjadi seseorang yang pantas untuk berdiri di samping orang yang diinginkan.
Maka, Raka memilih mempersiapkan diri.
Sayangnya, ia lupa bahwa waktu tidak pernah berjanji untuk menunggu seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian.
II. Setelah Wisuda, Perasaan Itu Tidak Ikut Lulus
Hari-hari perkuliahan akhirnya selesai.
Satu demi satu orang pergi membawa cerita masing-masing. Ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang mulai bekerja, ada pula yang perlahan menghilang dari kehidupan yang dahulu terasa begitu dekat.
Raka pun melanjutkan hidupnya.
Ia mencari pekerjaan, menyusun rencana, menghitung penghasilan, memikirkan tabungan, dan membayangkan masa depan yang ingin dicapainya.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak ikut berubah ketika ia meninggalkan bangku perkuliahan.
Kirana masih tinggal di dalam pikirannya.
Raka tidak lagi bisa bertemu dengannya seperti dahulu. Tidak ada lagi kesempatan untuk melihatnya secara kebetulan di lingkungan kampus. Tidak ada lagi alasan sederhana untuk sekadar menyapa.
Namun, zaman telah menyediakan cara lain untuk merindukan seseorang: media sosial.
Sesekali Raka membuka profil Kirana. Melihat unggahan terbarunya, membaca keterangan singkat yang ditulisnya, dan memperhatikan foto-foto yang dibagikannya.
Kadang ia tersenyum sendiri.
Kadang ia bertanya-tanya, apakah Kirana sedang bahagia? Apakah pekerjaannya berjalan baik? Apakah ada seseorang yang kini menemaninya pulang? Apakah perempuan itu pernah mengingat masa-masa ketika mereka masih berada di lingkungan yang sama?
Tentu saja, Raka tidak mempunyai jawaban.
Ia hanya melihat apa yang Kirana izinkan dunia untuk lihat.
Anehnya, dari kejauhan itu Raka justru merasa semakin mengenalnya, padahal mungkin ia tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan Kirana yang sesungguhnya.
Pernah suatu malam, Raka membuka profil perempuan itu cukup lama. Jempolnya berhenti di atas kolom pesan.
Ia mengetik:
“Hai, apa kabar? Sudah lama kita tidak berbincang.”
Kalimat itu dibacanya berkali-kali.
Terlalu sederhana, pikirnya.
Ia menghapusnya.
Beberapa menit kemudian, ia menulis lagi:
“Semoga kamu selalu baik-baik saja. Aku cuma ingin menyapa.”
Dihapusnya lagi.
Raka tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.
Betapa anehnya seseorang yang mampu menyusun rencana untuk masa depan, tetapi tidak sanggup mengirimkan dua kalimat kepada perempuan yang disukainya.
Ia terus meyakinkan dirinya bahwa belum waktunya.
Ia ingin mempunyai pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin lebih mapan. Ia ingin datang bukan sebagai laki-laki yang hanya membawa perasaan, melainkan seseorang yang mampu menawarkan kesungguhan.
Dalam diam, Raka membayangkan suatu hari nanti akan ada kesempatan untuk memulai percakapan yang berbeda.
Bukan lagi sekadar bertanya tentang kuliah atau pekerjaan.
Melainkan tentang kemungkinan.
Tentang apakah dua orang yang pernah berada di tempat yang sama masih mungkin berjalan menuju arah yang sama.
Ia menyusun masa depan itu di dalam kepala, seolah-olah Kirana telah menyetujui sebuah rencana yang bahkan belum pernah dibicarakan dengannya.
Dan di situlah Raka mulai melakukan kesalahan yang paling manusiawi sekaligus paling menyakitkan: ia mengira bahwa karena telah lama menyimpan seseorang di dalam hati, seseorang itu akan tetap tersedia ketika ia akhirnya siap.
III. Undangan yang Tidak Pernah Dimintanya
Hari itu datang tanpa tanda-tanda.
Tidak ada firasat buruk. Tidak ada langit mendung yang mengisyaratkan sesuatu. Tidak ada suara yang memperingatkan Raka bahwa sebentar lagi sebuah harapan akan berakhir.
Hanya sebuah kabar.
Kirana akan menikah.
Raka membaca kabar itu sekali.
Kemudian dua kali.
Lalu berkali-kali, seolah-olah susunan huruf di layar ponselnya mungkin akan berubah jika dibaca lebih lama.
Tidak berubah.
Nama itu tetap sama. Kabar itu tetap sama. Dan dunia, dengan ketenangannya yang kejam, tetap berjalan seperti biasa.
Raka meletakkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian, ia mengambilnya kembali.
Ia membaca ulang informasi yang baru diterimanya, lalu terdiam cukup lama.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Bukan marah, bukan pula kecewa kepada siapa pun. Hanya seperti seseorang yang baru menyadari bahwa ia telah berdiri terlalu lama di depan sebuah pintu, sementara orang di dalamnya bahkan tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menunggu.
Tak lama kemudian, undangan itu sampai kepadanya.
Sebuah undangan pernikahan.
Nama Kirana tertulis di sana, berdampingan dengan nama seorang laki-laki yang bukan dirinya.
Raka memperhatikan kedua nama itu.
Keduanya terlihat serasi, setidaknya dalam susunan huruf yang tercetak rapi. Ada tanggal, waktu, tempat, dan harapan agar para tamu berkenan hadir untuk menyaksikan hari bahagia mereka.
Semuanya begitu tertata.
Hanya hati Raka yang tidak tahu harus menempatkan dirinya di mana.
Ia duduk sendirian, memandangi undangan itu.
Lalu, tanpa sadar, sebuah pertanyaan terucap dari bibirnya.
“Jadi, selama ini aku sedang mempersiapkan diri untuk sebuah kemungkinan yang tidak pernah dijanjikan kepadaku?”
Tidak ada jawaban.
Raka tertawa pelan. Bukan karena lucu, melainkan karena terkadang kesedihan yang terlalu dalam hanya mampu keluar dalam bentuk senyum yang paling menyedihkan.
Ia tidak pernah menjadi kekasih Kirana.
Ia tidak pernah menggenggam tangannya.
Ia tidak pernah mendengar pengakuan cinta darinya, apalagi janji untuk masa depan.
Lantas, atas dasar apa ia merasa kehilangan?
Mungkin karena manusia tidak hanya bisa kehilangan sesuatu yang pernah dimilikinya. Terkadang, manusia juga berduka atas sesuatu yang hanya hidup dalam kemungkinan.
Raka kehilangan percakapan yang tidak pernah terjadi.
Kehilangan keberanian yang selalu ditundanya.
Kehilangan kesempatan yang tidak pernah dipastikannya masih ada.
Dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan masa depan yang selama ini dibangunnya sendirian, dengan seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa namanya telah dituliskan di dalamnya.
IV. Takdir yang Tidak Memilih Namanya
Malam itu, Raka mencoba menenangkan diri.
Ia membuka kembali kenangan-kenangan lama. Wajah Kirana, tawanya, percakapan singkat di kampus, serta hal-hal kecil yang dahulu disimpannya seolah-olah semuanya memiliki arti khusus.
Ia ingin marah kepada waktu.
Ia ingin menyalahkan keadaan.
Ia ingin berkata bahwa seandainya dirinya lebih cepat, seandainya ia lebih berani, seandainya ia lebih dahulu mengungkapkan perasaan, mungkin akhirnya akan berbeda.
Namun, setiap kali menyelesaikan kalimat itu, sebuah pertanyaan lain muncul.
Apakah benar akhirnya akan berbeda?
Bukankah Kirana mempunyai hak untuk memilih?
Bukankah cinta yang tulus seharusnya tidak mengubah seseorang menjadi tokoh yang wajib memenuhi harapan orang lain?
Raka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak ingin diakuinya: ia boleh mencintai Kirana, tetapi ia tidak pernah memiliki hak atas masa depannya.
Ia boleh berharap, tetapi ia tidak boleh menganggap harapannya sebagai janji yang harus ditepati oleh perempuan itu.
Dan ia boleh bersedih, tetapi kesedihannya bukan alasan untuk meragukan kebahagiaan Kirana.
Maka, dalam kesunyian malam itu, Raka mencoba berbicara kepada dirinya sendiri.
“Raka, apakah kau benar-benar mencintainya?”
Ia diam.
“Jika iya, mengapa kau merasa bahwa kebahagiaannya harus berjalan sesuai dengan keinginanmu?”
Raka menunduk.
“Bukankah sejak awal kau hanya ingin ia bahagia?”
Pertanyaan terakhir itu membuatnya terdiam lebih lama.
Sebab, ternyata ada perbedaan yang begitu jauh antara menginginkan seseorang bahagia dan menginginkan seseorang bahagia bersama kita.
Selama ini, Raka mengira keduanya adalah hal yang sama.
Ternyata tidak.
Dan mungkin, menjadi dewasa adalah belajar menerima perbedaan itu tanpa harus membenci siapa pun.
V. Perempuan yang Pernah Disiapkan dalam Diam
Malam semakin larut.
Raka mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu yang tidak akan pernah dikirimkannya kepada Kirana.
Kepada Kirana, yang Pernah Kusiapkan dalam Diam
Ia pernah menyiapkan masa depan,
dengan namamu tersembunyi di dalam rencana.
Kuhitung hari, kutata harapan,
tanpa tahu kau tak pernah berjanji untuk menunggu.
Ia pernah mengira jarak hanyalah waktu,
dan waktu akan membawanya kepadamu.
Ternyata waktu tidak selalu mempertemukan,
kadang ia hanya mengajarkan cara melepaskan.
Kau berjalan menuju hari bahagiamu,
sementara ia belajar berdamai dengan hari-hari
yang dahulu dibayangkannya akan menjadi milik kalian.
Tidak ada yang salah dengan langkahmu.
Tidak ada yang harus kau sesali.
Sebab, bagaimana mungkin kau melanggar janji
yang tak pernah berani kusampaikan kepadamu?
Pergilah, Kirana.
Semoga rumah yang kau pilih memberimu ketenangan.
Semoga tangan yang kau genggam menjagamu dengan baik.
Semoga segala doa yang dahulu kusimpan untukmu
menemukan jalannya sendiri menuju kebahagiaanmu.
Dan jika suatu hari namamu kembali terlintas,
semoga ia dapat mengingatmu tanpa berharap kau kembali.
Sebab, pernah mencintaimu adalah bagian dari hidupnya,
tetapi kehilanganmu bukanlah akhir dari hidupnya.
Ia pernah mengira kau adalah tujuan.
Kini ia belajar,
bahwa tidak semua yang dituju
ditakdirkan menjadi tempat seseorang pulang.
Epilog: Yang Didekati Belum Tentu Menjadi Takdir
Pada akhirnya, Raka mengerti bahwa takdir bukanlah hadiah yang selalu diberikan kepada orang yang paling lama menunggu.
Kadang, seseorang mendekati orang lain dengan seluruh keberanian yang dikumpulkannya, tetapi orang itu justru menjauh. Kadang, masa depan dipersiapkan dengan begitu sungguh-sungguh, tetapi kehidupan memilihkan jalan yang tidak pernah diperhitungkan.
Sebab, yang kita dekati belum tentu menjadi takdir, yang kita cintai belum tentu menjadi pasangan, dan yang kita persiapkan belum tentu menjadi kenyataan.
Namun, jangan sampai satu pintu yang tertutup membuat seseorang mengira bahwa seluruh dunia telah berakhir.
Cinta yang tidak sampai tetap dapat menjadi pelajaran. Patah hati tetap dapat menjadi kedewasaan. Dan kehilangan tetap dapat menjadi awal dari kehidupan yang lebih jujur.
Raka pernah menunggu Kirana tanpa pernah memintanya tinggal.
Kini, ia memilih melanjutkan perjalanan tanpa meminta takdir menjelaskan segalanya.
Jika kelak cinta kembali datang, semoga kali ini ia tidak hanya berani mempersiapkan masa depan.
Semoga ia juga berani berbicara, berani memperjuangkan apa yang memang saling diinginkan, dan berani menerima jawaban, apa pun bentuknya.
Karena pada akhirnya, Raka tidak lagi ingin sekadar mencintai seseorang di dalam diam.
Ia ingin menemukan seseorang yang, ketika waktunya tiba, juga memilihnya dalam kenyataan.
— Tamat.
