Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Baru Disebut Berpendidikan setelah Lulus Sekolah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khansa Oliv tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Ijazah. (Dok. disdik.bekasikota)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Ijazah. (Dok. disdik.bekasikota)

“Pendidikan terakhir kamu apa?” Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana dan sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ditanya demikian, kita biasanya langsung menjawab dengan jenjang sekolah yang terakhir ditempuh, seperti SMA, S1, atau S2. Jarang sekali kita mengaitkannya dengan pengalaman, keterampilan, atau pengetahuan yang kita peroleh dari keluarga, lingkungan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masih sering dipahami melalui sekolah dan jenjang yang berhasil diselesaikan.

Padahal, belajar tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah dan menerima ijazah. Banyak hal yang justru kita pelajari setelah berada di luar ruang kelas, mulai dari menghadapi pekerjaan, berinteraksi dengan orang lain, mengambil keputusan, hingga memahami berbagai persoalan dalam kehidupan. Namun, ketika berbicara tentang apakah seseorang “berpendidikan” atau tidak, sekolah dan ijazah masih menjadi ukuran yang cukup kuat. Lantas, mengapa pendidikan begitu erat dikaitkan dengan sekolah, seolah-olah seseorang baru dapat disebut berpendidikan setelah melewati lembaga tersebut?

Sekolah tentu memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan dan membentuk kemampuan seseorang. Melalui sekolah, seseorang mendapatkan kesempatan untuk belajar secara terstruktur, bertemu dengan guru, serta berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungan pendidikan. Masalahnya muncul ketika pengalaman bersekolah kemudian dianggap sebagai gambaran utama dari pendidikan seseorang. Akibatnya, semakin tinggi jenjang yang ditempuh dan semakin tinggi ijazah yang dimiliki, seseorang cenderung dianggap semakin “berpendidikan”.

Cara pandang seperti ini sebenarnya membuat makna pendidikan menjadi cukup sempit. Pendidikan seolah-olah memiliki batas yang jelas, dimulai ketika seseorang masuk sekolah dan berhenti ketika ia menyelesaikan jenjang tertentu. Padahal, seseorang terus berhadapan dengan berbagai proses belajar dalam kehidupan, bahkan ketika sudah tidak lagi berada di ruang kelas. Jika demikian, mungkin persoalannya bukan apakah sekolah masih dibutuhkan, melainkan mengapa kita begitu mudah menjadikan sekolah sebagai ukuran utama untuk menentukan siapa yang dianggap berpendidikan.

Pertanyaan tentang kuatnya posisi sekolah dalam kehidupan masyarakat sebenarnya sudah lama muncul dalam pemikiran Ivan Illich. Illich merupakan seorang pemikir yang banyak mengkritik peran lembaga-lembaga formal dalam kehidupan manusia, termasuk sekolah. Dalam pandangannya, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga menjadi lembaga yang membuat masyarakat terbiasa mengaitkan pendidikan dengan proses sekolah. Akibatnya, belajar yang berlangsung di luar sekolah dapat dianggap kurang penting dibandingkan pendidikan yang diperoleh melalui lembaga formal.

Bagi Illich, persoalannya bukan sekadar apakah sekolah memberikan pengetahuan atau tidak, tetapi bagaimana sekolah kemudian menjadi begitu dominan dalam menentukan cara masyarakat memahami pendidikan. Ketika seseorang dianggap harus melewati jenjang sekolah tertentu untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang yang berpendidikan, proses belajar akhirnya semakin bergantung pada lembaga dan sertifikat yang dihasilkan.

Kritik Illich mengajak kita untuk melihat kembali bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang terjadi di dalam sekolah, karena manusia juga dapat belajar melalui berbagai pengalaman dan hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.

Pemiliran Illich terhadap cara masyarakat melihat pendidikan

Pemikiran Illich terasa relevan ketika melihat bagaimana pendidikan masih sering dikaitkan dengan jenjang dan gelar yang dimiliki seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang pendidikan seseorang sering kali berujung pada sekolah mana yang pernah ditempuh, jurusan apa yang diambil, atau gelar apa yang berhasil diperoleh.

Hal ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali dan memberikan pengakuan terhadap pendidikan seseorang. Akibatnya, pendidikan formal menjadi lebih mudah terlihat dan diakui dibandingkan proses belajar yang berlangsung melalui pengalaman sehari-hari. Padahal, sesuatu yang tidak memiliki bukti berupa jenjang atau gelar bukan berarti tidak menghasilkan proses belajar.

Posisi ijazah kemudian menjadi bagian dari cara pandang tersebut. Ijazah memang memiliki fungsi sebagai bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu, sehingga keberadaannya tetap penting. Namun, dalam kehidupan sosial, ijazah terkadang dipahami lebih jauh sebagai tanda bahwa seseorang memiliki tingkat pendidikan tertentu dan layak disebut “berpendidikan”.

Sementara itu, pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman hidup tidak selalu memiliki tanda yang mudah dikenali seperti ijazah. Di sinilah kritik Illich menjadi menarik, karena ia membantu kita melihat bagaimana pendidikan formal dapat memperoleh posisi yang lebih kuat dibandingkan bentuk pembelajaran lain yang tidak melalui lembaga sekolah.

Namun, mempertanyakan dominasi sekolah bukan berarti sekolah harus dianggap tidak penting atau tidak lagi dibutuhkan. Sekolah tetap memiliki peran penting dalam memberikan ruang belajar yang terstruktur, memperkenalkan berbagai pengetahuan, membangun kemampuan berpikir, serta mempertemukan seseorang dengan orang lain dari latar belakang yang berbeda.

Masalahnya muncul ketika pengalaman bersekolah kemudian dianggap sebagai gambaran utama dari pendidikan seseorang, seolah-olah semakin tinggi jenjang yang ditempuh maka semakin jelas pula seseorang dapat disebut berpendidikan. Padahal, proses belajar tidak selalu berjalan dalam batas ruang kelas dan jadwal pelajaran.

Seseorang juga belajar ketika menghadapi persoalan, berinteraksi dengan lingkungan, menjalankan tanggung jawab, maupun mencoba memahami hal-hal baru dalam kehidupan. Karena itu, yang perlu dipikirkan kembali bukan keberadaan sekolahnya, melainkan cara kita menempatkan sekolah sebagai ukuran utama dalam menentukan apakah seseorang telah memperoleh pendidikan atau belum.

Misalnya, seseorang yang sejak lama membantu keluarganya berdagang mungkin sudah terbiasa berkomunikasi dengan banyak orang, menghitung pemasukan dan pengeluaran, mengambil keputusan, serta menghadapi berbagai persoalan dalam menjalankan usahanya. Seseorang yang aktif dalam organisasi juga dapat belajar membagi tugas, mengatur kegiatan, bekerja sama dengan orang lain, dan menyelesaikan perbedaan pendapat. Pengetahuan dan kemampuan tersebut diperoleh melalui proses yang nyata, tetapi tidak selalu tercatat sebagai bagian dari pendidikan seseorang.

Ketika ditanya tentang pendidikan terakhir, pengalaman seperti itu kemungkinan besar tidak akan muncul sebagai jawaban karena pertanyaan tersebut sudah mengarahkan kita pada jenjang sekolah. Bukan berarti pengalaman tersebut harus menggantikan pendidikan formal, tetapi contoh ini menunjukkan bahwa proses belajar dalam kehidupan jauh lebih beragam daripada yang dapat ditunjukkan melalui ijazah.

Ketika ukuran pendidikan dibuat terlalu seragam, perjalanan belajar seseorang akhirnya mudah dinilai hanya berdasarkan sesuatu yang dapat dilihat dan diukur secara formal. Jenjang sekolah, nilai, gelar, dan ijazah menjadi tanda yang lebih mudah dikenali, sedangkan kemampuan yang terbentuk melalui pengalaman tidak selalu mendapatkan pengakuan yang sama. Padahal, setiap orang memiliki kesempatan dan lingkungan belajar yang berbeda, sehingga proses pendidikan yang mereka jalani juga tidak selalu berbentuk sama.

Sekolah memberikan pengalaman belajar yang terstruktur dan penting bagi seseorang, tetapi kehidupan juga menghadirkan berbagai situasi yang membuat seseorang harus terus belajar dan mengembangkan dirinya. Karena itu, melihat pendidikan hanya dari jenjang formal dapat membuat kita melewatkan sebagian dari proses belajar yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan seseorang.

Mungkin selama ini pertanyaan yang kita ajukan memang perlu dibalik. Bukan lagi “mengapa kita baru disebut berpendidikan setelah lulus sekolah?”, tetapi “mengapa seseorang harus menunggu sampai lulus sekolah untuk dianggap telah memperoleh pendidikan?”. Pertanyaan tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana masyarakat menentukan seseorang sebagai orang yang “berpendidikan”.

Jika pengakuan tersebut terlalu bergantung pada jenjang sekolah dan ijazah, maka proses belajar yang berlangsung sebelum seseorang masuk sekolah maupun setelah ia meninggalkan sekolah menjadi kurang terlihat. Padahal, menjadi terdidik bukan hanya tentang menyelesaikan suatu jenjang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan, memahami lingkungan, mengembangkan kemampuan, dan terus belajar dari pengalaman yang dijalaninya.

Meski begitu, memperluas makna pendidikan tidak berarti mengabaikan peran sekolah. Sekolah tetap memiliki tempat penting karena tidak semua pengetahuan dapat diperoleh begitu saja tanpa adanya proses pembelajaran yang terarah. Guru, kurikulum, lingkungan belajar, dan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai perspektif dapat membantu seseorang mengembangkan pengetahuan yang mungkin sulit diperoleh melalui pengalaman sehari-hari saja.

Karena itu, persoalannya bukan memilih antara sekolah atau pembelajaran di luar sekolah, seolah-olah keduanya harus saling menggantikan. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa sekolah merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan, bukan keseluruhan dari pendidikan itu sendiri.

Maka dari itu, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan berapa lama seseorang bersekolah atau gelar apa yang berhasil diperolehnya. Setelah meninggalkan sekolah pun seseorang tetap berhadapan dengan situasi yang menuntutnya untuk belajar, memahami perubahan, mengenali lingkungan, dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

Ijazah dapat menjadi tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal, tetapi tanda tersebut tidak seharusnya menjadi batas dari proses belajar seseorang. Jika sekolah dipandang sebagai salah satu bagian dari perjalanan pendidikan, maka lulus sekolah tidak lagi menjadi garis akhir dari pendidikan, melainkan salah satu tahap dalam perjalanan seseorang untuk terus belajar. Dengan cara pandang seperti itu, mungkin kita tidak perlu lagi bertanya apakah seseorang baru berpendidikan setelah lulus sekolah, tetapi mulai bertanya tentang bagaimana seseorang terus membentuk pengetahuan dan dirinya sepanjang kehidupan.