Belanja karena Tren: Saat Keinginan Mengalahkan Kebutuhan

Mahasiswi Universitas Sanata Dharma
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Khansa Zahran tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu tertarik membeli suatu barang hanya karena barang itu sedang ramai dibicarakan di media sosial? Baju yang dipakai banyak orang, produk yang viral di TikTok, atau barang yang terus muncul di beranda terkadang membuat kita merasa perlu memilikinya. Kebiasaan ini dapat menjadi salah satu pemicu perilaku konsumtif, terutama ketika keinginan mengikuti tren lebih besar daripada kebutuhan. Padahal, sebelum melihatnya di media sosial, barang tersebut mungkin tidak pernah masuk dalam daftar kebutuhan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan belanja tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Kemudahan bertransaksi, pengaruh lingkungan pertemanan, promo, dan keinginan mengikuti tren turut membentuk kebiasaan konsumsi anak muda. Jika tidak disertai pertimbangan yang matang, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi perilaku konsumtif yang memengaruhi prioritas keuangan.
Salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif adalah keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Di kalangan anak muda, pakaian, sepatu, dan merek tertentu terkadang menjadi bagian dari cara seseorang menampilkan diri. Memiliki barang yang sedang populer bisa dianggap sebagai cara untuk mengikuti tren atau merasa lebih dekat dengan kelompok pertemanan. Nisak dan Sulistyowati (2022) membahas bagaimana lingkungan pergaulan dan keinginan untuk tetap mengikuti tren fesyen berkaitan dengan gaya hidup konsumtif mahasiswi. Sementara itu, Faesal dkk. (2025) mengkaji gaya hidup dan perilaku konsumtif remaja perempuan pengguna TikTok Shop. Kedua penelitian tersebut menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara gaya hidup, lingkungan sosial, dan kebiasaan belanja anak muda.
Selain pengaruh lingkungan, kondisi emosional juga dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk berbelanja. Sebagian orang membeli barang ketika merasa bosan, stres, atau ingin memperbaiki suasana hati. Rohmah dkk. (2024) membahas faktor psikologis dan emosional dalam konteks perilaku konsumtif pada remaja. Belanja mungkin memberikan kesenangan sesaat, tetapi perasaan tersebut tidak selalu bertahan lama. Karena itu, penting untuk memahami apakah keputusan membeli suatu barang benar-benar didasarkan pada kebutuhan atau justru dorongan sesaat.
Media sosial memperkuat kecenderungan tersebut melalui konten, ulasan produk, rekomendasi kreator, dan berbagai promosi. Barang yang berulang kali muncul di beranda dapat terlihat semakin menarik, terlebih ketika banyak orang memberikan respons positif terhadapnya. Dalam kajian literatur mengenai fear of missing out (FOMO) dan Generasi Z, Mudjiyanto dkk. (2025) membahas hubungan rasa takut tertinggal dari tren dengan pembelian impulsif dan perilaku konsumtif. Ketika seseorang merasa orang lain sudah memiliki barang tertentu, muncul dorongan untuk ikut membelinya agar tidak merasa tertinggal. Akibatnya, popularitas suatu produk dapat memengaruhi keputusan belanja, meskipun kegunaan barang tersebut belum tentu sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, fitur belanja digital seperti diskon berbatas waktu, gratis ongkir, dan flash sale dapat membuat seseorang merasa harus segera membeli suatu barang. Penawaran tersebut sering kali menciptakan kesan bahwa kesempatan mendapatkan harga murah akan segera berakhir. Akibatnya, seseorang bisa mengambil keputusan secara terburu-buru tanpa membandingkan harga atau mempertimbangkan manfaat barang dalam jangka panjang.
Kebiasaan belanja yang tak terkendali juga berisiko mengganggu kondisi keuangan. Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan utama dapat dialihkan untuk membeli barang yang sebenarnya masih bisa ditunda. Nisak dan Sulistyowati (2022) mengungkapkan kasus mahasiswi yang menggunakan uang kuliah untuk membeli barang fesyen hingga mengalami tunggakan biaya pendidikan. Contoh tersebut memperlihatkan bahwa perilaku konsumtif bukan sekadar persoalan membeli terlalu banyak barang, melainkan juga persoalan menentukan prioritas. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, seseorang dapat mengalami kesulitan mengatur pengeluaran dan memenuhi kebutuhan yang lebih penting.
Dampak lainnya adalah berkurangnya kesempatan untuk menabung. Pengeluaran untuk barang yang sedang tren mungkin terlihat kecil jika dilakukan satu per satu, tetapi jumlahnya dapat bertambah ketika pembelian tersebut terus berulang. Uang yang seharusnya dapat disisihkan untuk kebutuhan pendidikan, dana darurat, atau rencana masa depan justru habis untuk memenuhi keinginan sesaat. Oleh karena itu, mengelola keuangan bukan hanya tentang membatasi jumlah uang yang dibelanjakan, tetapi juga menentukan bagaimana uang digunakan sesuai dengan prioritas. Kebiasaan mengevaluasi pengeluaran dapat membantu anak muda memahami pola belanja mereka dan menghindari pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.
Besarnya pengaruh gaya hidup terhadap perilaku belanja juga dapat berbeda sesuai dengan konteks penelitian. Milano dkk. (2026), dalam penelitian mengenai keputusan pembelian sepatu pada mahasiswa, menemukan bahwa gaya hidup dan perilaku konsumtif secara bersama-sama menjelaskan sekitar 71,6% variasi keputusan pembelian. Sementara itu, Faesal dkk. (2025) melaporkan kontribusi gaya hidup sebesar 14,6% terhadap perilaku konsumtif remaja perempuan pengguna TikTok Shop. Kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena variabel dan objek penelitiannya berbeda. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan belanja perlu dipahami dengan mempertimbangkan berbagai faktor, bukan hanya keinginan membeli suatu barang.
Untuk menghadapi perilaku konsumtif, anak muda perlu membangun kebiasaan belanja yang lebih sadar. Membuat anggaran, menetapkan batas pengeluaran, dan menunda pembelian sebelum mengambil keputusan dapat membantu seseorang membedakan kebutuhan dan keinginan. Pendidikan pengelolaan keuangan juga penting agar anak muda mampu menentukan prioritas serta memahami konsekuensi dari setiap pengeluaran (Rohmah dkk., 2024). Selain itu, pengendalian diri dapat membantu seseorang mempertimbangkan kembali keputusan sebelum membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Keluarga dan lingkungan pendidikan juga dapat berperan dalam membentuk kebiasaan mengelola uang sejak dini.
Pada akhirnya, mengikuti tren bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Tren dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan diri dan mencoba hal baru. Namun, ketika ingin berbelanja sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk mendapatkan pengakuan atau terlihat mengikuti tren. Dengan mempertimbangkan fungsi barang, kebutuhan, dan kondisi keuangan, anak muda dapat menikmati tren tanpa harus terjebak dalam kebiasaan konsumtif.
