Konten dari Pengguna

Gengsi Gen Z: Ketika Penampilan Lebih Penting daripada Isi Dompet

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KHASNA SALSABILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gengsi Gen Z dan Gaya Hidup Konsumtif: Pentingnya Mengelola Keuangan secara Bijak

ilustrasi seorang anak muda yang melihat tren di media sosial, ingin membeli barang bermerek dan nongkrong di kafe, tetapi sedang memikirkan kondisi keuangannya. (Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (ChatGPT).)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi seorang anak muda yang melihat tren di media sosial, ingin membeli barang bermerek dan nongkrong di kafe, tetapi sedang memikirkan kondisi keuangannya. (Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI (ChatGPT).)

Di era media sosial seperti sekarang, gengsi Gen Z sering kali muncul karena keinginan untuk mengikuti tren dan gaya hidup teman sebaya. Banyak anak muda yang ingin memakai barang bermerek, nongkrong di tempat hits, atau membeli barang terbaru agar tidak merasa tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda. Oleh karena itu, literasi keuangan sangat penting agar Gen Z bisa membedakan kebutuhan dan keinginan serta menggunakan uang dengan lebih bijak.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk tampil menarik atau menikmati hasil kerja sendiri. Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai memaksakan diri hanya karena tidak ingin dianggap ketinggalan zaman. Akhirnya, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting justru habis demi memenuhi gengsi. Dari sini, muncul pertanyaan: apakah kita membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya atau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain?

Gengsi Memengaruhi Keputusan Ekonomi Gen Z

Menurut saya, gengsi menjadi salah satu hal yang bisa memengaruhi cara Gen Z menggunakan uang. Keinginan untuk terlihat keren terkadang membuat seseorang lebih mementingkan penampilan daripada kondisi keuangannya sendiri. Apalagi, media sosial membuat orang semakin mudah melihat gaya hidup orang lain, mulai dari pakaian, tempat nongkrong, sampai barang-barang yang digunakan.

Ketika sering melihat orang lain tampil dengan barang baru atau mengunjungi tempat mahal, sebagian orang bisa merasa harus mengikuti hal yang sama. Padahal, kondisi keuangan setiap orang berbeda. Ada yang memang mampu membeli barang tersebut, tetapi ada juga yang harus mengorbankan uang kebutuhan sehari-hari agar tidak merasa kalah dari lingkungan sekitarnya.

Menurut saya, yang perlu diperhatikan bukan soal mahal atau murahnya barang, melainkan alasan seseorang membelinya. Jika membeli karena memang membutuhkan dan mampu membayarnya, tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika harus berutang atau mengorbankan kebutuhan penting hanya demi terlihat mampu, kebiasaan tersebut perlu dipikirkan kembali.

Pengaruh Gengsi terhadap Perilaku Konsumen

Dalam ekonomi mikroerilaku kon, perilaku konsumen berkaitan dengan cara seseorang menentukan pilihan dalam menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Idealnya, seseorang mempertimbangkan manfaat barang, harga, dan kemampuan keuangan sebelum membeli sesuatu. Namun, keputusan membeli tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Lingkungan pertemanan dan keinginan mendapatkan pengakuan juga bisa memengaruhinya.

Contohnya, seorang mahasiswa memiliki uang bulanan yang sudah dibagi untuk makan, transportasi, membeli kebutuhan kuliah, dan menabung. Namun, teman-temannya sering mengajak nongkrong di tempat yang cukup mahal. Karena tidak ingin dianggap tidak mampu mengikuti pergaulan, ia tetap ikut meskipun harus mengurangi uang untuk kebutuhan lainnya.

Contoh lainnya adalah membeli barang menggunakan layanan PayLater karena belum memiliki uang yang cukup. Awalnya, pembayaran terasa ringan karena tidak perlu mengeluarkan uang sekaligus. Akan tetapi, ketika tagihan datang, pengguna tetap harus membayar sesuai ketentuan. Jika kebiasaan ini terus berulang, kondisi keuangan bisa menjadi semakin sulit diatur.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa gengsi bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan ekonomi seseorang. Uang yang terbatas seharusnya digunakan sesuai prioritas, bukan semata-mata untuk memenuhi standar gaya hidup orang lain.

Budaya Gengsi dan Standar Keberhasilan di Media Sosial

Di lingkungan masyarakat, seseorang terkadang dinilai dari penampilannya. Pakaian yang bagus, HP terbaru, atau kebiasaan nongkrong di tempat populer bisa dianggap sebagai tanda keberhasilan. Padahal, penampilan luar tidak selalu menggambarkan keadaan ekonomi seseorang yang sebenarnya.

Menurut saya, cara pandang seperti ini perlu diubah. Kita tidak seharusnya mengukur keberhasilan seseorang hanya dari barang yang dimiliki atau tempat yang sering dikunjungi. Orang yang tampil sederhana belum tentu gagal, begitu juga orang yang terlihat mewah belum tentu memiliki kondisi keuangan yang aman.

Namun, bukan berarti Gen Z harus berhenti mengikuti tren atau tidak boleh membeli barang yang disukai. Menikmati hasil kerja sendiri adalah hal yang wajar selama dilakukan sesuai kemampuan. Yang menjadi masalah adalah ketika keinginan untuk mendapatkan pengakuan membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dan tanggung jawabnya.

Karena itu, penting bagi anak muda untuk memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh merek pakaian, harga HP, atau seberapa sering mereka terlihat di tempat populer. Memiliki kondisi keuangan yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri juga merupakan bentuk keberhasilan.

Realita Gaya Hidup Gen Z di Era Digital

Pengaruh gengsi terhadap kebiasaan belanja semakin menarik dibahas karena Gen Z hidup di tengah perkembangan media sosial dan perdagangan digital. Promosi, diskon, ulasan produk, serta konten gaya hidup dapat membuat barang tertentu terlihat menarik dan seolah-olah perlu dimiliki.

Meski demikian, tidak tepat jika semua Gen Z dianggap konsumtif hanya karena aktif menggunakan media sosial. Perilaku setiap orang berbeda, bergantung pada lingkungan, pendapatan, kebiasaan, dan cara mengelola keuangannya.

Untuk melihat persoalan ini secara lebih objektif, data mengenai perilaku konsumsi, pengeluaran rumah tangga, dan penggunaan layanan keuangan digital dapat dijadikan bahan pendukung. Sumber yang dapat digunakan antara lain publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pengeluaran konsumsi masyarakat serta materi literasi keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Data tersebut perlu dibaca sesuai konteksnya. Misalnya, data pengeluaran konsumsi masyarakat tidak otomatis membuktikan bahwa pengeluaran tersebut disebabkan oleh gengsi. Namun, data resmi dapat membantu memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi dan kebiasaan konsumsi masyarakat yang menjadi latar pembahasan.

Apakah Gengsi Lebih Penting daripada Kondisi Keuangan?

Jika seseorang membeli barang hanya karena ingin terlihat keren, apakah barang tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi dirinya? Lalu, jika seseorang harus berutang demi mengikuti gaya hidup teman-temannya, apakah hal itu masih bisa disebut sebagai bentuk memenuhi kebutuhan?

Pertanyaan tersebut penting karena keputusan belanja seharusnya tidak hanya didasarkan pada keinginan sesaat. Anak muda perlu memikirkan dampak dari setiap pengeluaran, terutama jika uang yang digunakan juga dibutuhkan untuk pendidikan, makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Kita juga perlu bertanya, mengapa penampilan sering dianggap lebih penting daripada kemampuan mengatur keuangan? Jangan sampai seseorang merasa malu karena hidup sederhana, padahal justru mampu memenuhi kebutuhannya tanpa membebani diri sendiri.

Mengurangi Gengsi dengan Mengatur Keuangan secara Bijak

Menurut saya, langkah pertama untuk mengurangi budaya gengsi adalah belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang, kita bisa bertanya kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya ingin mengikuti tren. Jika belum mendesak, tidak ada salahnya menunda pembelian dan menyimpan uang untuk kebutuhan yang lebih penting.

Selanjutnya, Gen Z perlu membiasakan diri membuat anggaran bulanan. Uang untuk kebutuhan pokok, pendidikan, transportasi, tabungan, dan hiburan sebaiknya memiliki batas yang jelas. Dengan begitu, keinginan untuk nongkrong atau membeli barang baru tidak mengganggu kebutuhan utama.

Selain itu, kita perlu lebih bijak menggunakan media sosial. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Kita tidak mengetahui apakah barang yang dipamerkan dibeli dengan uang sendiri, hasil menabung, atau menggunakan cicilan. Karena itu, membandingkan kehidupan kita dengan apa yang ditampilkan orang lain sering kali tidak memberikan gambaran yang adil.

Pandangan Ekonomi Islam tentang Gaya Hidup Berlebihan

Dalam perspektif ekonomi Islam, perilaku konsumsi sebaiknya dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan. Islam mengajarkan agar manusia tidak boros serta menggunakan hartanya secara bertanggung jawab. Prinsip ini bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati uangnya, melainkan perlu mempertimbangkan manfaat dan kemampuan sebelum melakukan pembelian.

Nilai tersebut mengajarkan bahwa uang sebaiknya digunakan untuk hal yang bermanfaat, bukan hanya demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Gen Z tetap boleh mengikuti tren dan menikmati hasil kerja sendiri, tetapi harus tetap memperhatikan kebutuhan utama serta kemampuan keuangannya.

Dengan menerapkan prinsip konsumsi yang bijak, anak muda dapat belajar menghargai diri sendiri tanpa harus memaksakan gaya hidup yang berada di luar kemampuannya.

Tidak Perlu Mewah untuk Terlihat Berharga

Gengsi sebenarnya merupakan hal yang bisa dirasakan siapa saja, termasuk Gen Z. Keinginan untuk terlihat menarik dan diterima lingkungan adalah sesuatu yang wajar. Namun, keinginan tersebut jangan sampai membuat kita memaksakan diri membeli barang di luar kemampuan.

Menurut saya, lebih baik memiliki barang sederhana tetapi kondisi keuangan tetap aman daripada terlihat mewah tetapi harus kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita tidak perlu membuktikan kemampuan melalui barang yang dimiliki. Justru, kemampuan mengatur uang, menentukan prioritas, dan berani hidup sesuai kemampuan merupakan hal yang lebih penting.

Pada akhirnya, mengikuti tren adalah pilihan, bukan kewajiban. Jangan sampai kita sibuk menjaga gengsi di depan orang lain, tetapi lupa menjaga kondisi keuangan sendiri.