Harga Pangan Meroket 2025: Jalan Keluar untuk Pasar Tradisional Bertahan

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Khinanty Cahyaningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oktober 2025, pasar tradisional Indonesia di ujung tanduk. Harga beras melonjak 15%, cabai meroket 25% dalam tiga bulan terakhir pedagang dan pembeli sama-sama tercekik. Indeks harga konsumen pangan naik 3,2% tahun ke tahun per September 2025, tertinggi dalam tiga tahun. Gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik dan cuaca ekstrem yang merusak panen lokal jadi pemicu utama. Pasar tradisional, jantungan ekonomi mikro yang menyokong 12 juta pedagang dan pekerja informal, kini terancam kolaps. Bisakah denyut ekonomi rakyat ini diselamatkan?
Harga Pangan Meroket, Pasar Tercekik
Pasar tradisional adalah nadi ekonomi mikro Indonesia. Namun, lonjakan harga pangan membuat pedagang kecil kehilangan harapan. “Cabai mahal, pembeli ngeluh. Tahan harga, saya rugi. Stok dari supplier pun telat,” keluhnya. Data Kementerian Perdagangan mencatat volatilitas harga pangan meningkatkan risiko rugi pedagang kecil hingga 30%. Konsumen, yang 60% rumah tangganya bergantung pada pasar tradisional, terpaksa beralih ke pangan murah tapi kurang bergizi.
Kenaikan harga ini bukan sekadar angka. Warung makan kecil menaikkan harga atau memangkas porsi. Pedagang sayur kesulitan menjaga stok cabai dan bawang akibat gagal panen di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Asosiasi Pasar Tradisional Indonesia (APTI) melaporkan transaksi harian di pasar urban turun 20%. Jika dibiarkan, efek domino mengintai: pedagang gulung tikar, pekerja informal kehilangan mata pencaharian, dan ketahanan pangan lokal runtuh.
Mengapa Pasar Tradisional Harus Diselamatkan?
Pasar tradisional bukan cuma tempat jual-beli. Mereka menyerap tenaga kerja informal, menjaga perputaran ekonomi lokal, dan mempertahankan identitas budaya. Sekitar 70% pedagangnya adalah pelaku usaha mikro dengan modal di bawah Rp50 juta. Tapi, tanpa intervensi, lonjakan harga pangan bisa mematikan ekosistem ini. Pasar modern dan e-commerce mungkin menarik konsumen kelas atas, tapi mayoritas rakyat Indonesia masih bertumpu pada pasar tradisional untuk kebutuhan sehari-hari. Jika pasar ini ambruk, ekonomi mikro Indonesia kehilangan fondasinya.
Strategi Mikro untuk Stabilisasi
Menghadapi krisis ini, solusi ekonomi mikro yang cerdas dan cepat diperlukan. Berikut empat langkah konkret:
1. Operasi Pasar yang Masif: Badan Pangan Nasional harus gencar menyalurkan cadangan beras dan minyak goreng ke pasar tradisional dengan harga terjangkau. Operasi pasar rutin bisa menekan harga komoditas utama, memberi napas bagi pedagang dan konsumen.
2. Koperasi Pedagang untuk Daya Tawar: Koperasi pedagang pasar bisa meningkatkan bargaining power terhadap supplier. Dengan membeli stok bersama, pedagang mendapat harga lebih murah. Program percontohan di Yogyakarta, yang menekan harga bawang 10%, layak dijadikan model nasional.
3. Teknologi untuk Manajemen Stok: Pedagang sering rugi karena stok rusak atau berlebih. Aplikasi sederhana untuk prediksi permintaan dan manajemen inventaris, didukung pelatihan gratis dari startup teknologi lokal, bisa meminimalkan kerugian.
4. Kredit Mikro Berbunga Rendah: Skema kredit dengan bunga di bawah 5% per tahun melalui koperasi pasar bisa menjaga likuiditas pedagang. Program ini harus menjangkau pedagang kecil yang terhimpit penurunan omset.
Menjaga Nafas Pasar Tradisional
Lonjakan harga pangan 2025 adalah ujian berat, tapi juga peluang untuk memperkuat pasar tradisional. Dengan operasi pasar, koperasi, teknologi, dan dukungan modal, ekosistem ini bisa bangkit sebagai pilar ketahanan pangan. Pemerintah, pedagang, dan masyarakat harus bersinergi. Akankah kita biarkan napas ini terhenti, atau bersama menjaga denyut ekonomi mikro tetap hidup?
