Konten dari Pengguna

Nilai Porsa Jahiliah Tidak Diukur dari Jumlahnya

Khofifah Fairuzzahwa

Khofifah Fairuzzahwa

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khofifah Fairuzzahwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh Ja'far Siddik Mubarak, Khofifah Fairuzzahwa, Ahmad Faisal Nur, dan Ibrahim Nauval Musyari.

sumber foto: Al-Bayaanaat (Menilik Citra Perempuan dalam Syair Arab Jahiliyah).
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: Al-Bayaanaat (Menilik Citra Perempuan dalam Syair Arab Jahiliyah).

Bicara sastra Arab Jahiliah sering kali berarti bicara puisi. Syair-syair para penyair dianggap sebagai diwan bangsa Arab, arsip yang merekam kehidupan, kebanggaan, dan kesedihan mereka. Ukuran ini wajar, sebab puisilah yang paling banyak sampai kepada kita. Namun, apakah yang sedikit tercatat berarti sedikit pula adanya?

Bagi kami, tidak. Prosa seni Jahiliah memang jauh lebih sedikit yang sampai kepada kita dibandingkan puisinya, tetapi itu tidak menunjukkan bahwa prosa kurang penting atau bahkan tidak ada. Nilai prosa Jahiliah semestinya diukur dari peran dan muatannya, bukan dari jumlah teks yang bertahan.

Sebagian orientalis dan pengikutnya berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, kehidupan bangsa Arab awal tidak melahirkan prosa seni, sebab prosa adalah bahasa akal, sedangkan bangsa Arab hidup dengan imajinasi dan perasaan yang diwadahi puisi. Pendapat ini mudah dibantah. Persia, India, dan Mesir kuno sudah memiliki prosa seni jauh sebelum Masehi, jadi tidak ada alasan menganggap bangsa Arab pada abad kelima Masehi tidak mampu melahirkannya. Sebagian prosa itu pun masih dapat kita temukan dalam kitab-kitab seperti al-Aghani dan al-Amali (Syathri dkk., hlm. 256).

Bukti yang lebih kuat adalah Al-Qur'an. Kitab ini menantang bangsa Arab dengan gaya bahasa dan keindahan bayannya, padahal ia berbentuk prosa. Tantangan hanya bermakna jika lawannya memang unggul di bidang itu. Ketika al-Walid bin al-Mughirah menyebut Al-Qur'an memiliki “kemanisan” dan “keindahan”, ia tentu membandingkannya dengan ucapan para orator yang ia kenal. Artinya, tradisi prosa yang matang sudah ada sebelum Al-Qur'an turun.

Lalu mengapa prosa itu begitu sedikit yang sampai? Ibarat percakapan yang tidak pernah direkam, ia tidak hilang karena tidak pernah diucapkan, melainkan karena tidak ada yang menyimpannya. Bangsa Arab saat itu umumnya ummi, dan hanya segelintir orang yang bisa menulis. Puisi relatif aman karena wazan dan qafiyahnya memudahkan hafalan, sedangkan prosa tidak punya “pegangan” semacam itu. Dengan demikian, yang hilang adalah catatannya, bukan keberadaannya.

Keberadaan prosa tampak jelas dari fungsinya dalam kehidupan. Pidato dipakai untuk menggerakkan perang dan menuntut balas, tetapi juga untuk mendamaikan kabilah yang bersengketa. Orator berdiri di pasar, majelis kabilah, istana para amir, bahkan di Dar an-Nadwah di Makkah, tempat para pemuka Quraisy bermusyawarah. Qus bin Sa'idah dan Aktsam bin Shaifi dikenal sebagai orator ulung, dan kabilah Iyad serta Tamim masyhur dalam seni ini. Wasiat pun hadir di titik-titik penting kehidupan: orang tua yang menjelang ajal, atau seorang ibu yang melepas putrinya menikah. Wasiat Dzul Ishba' al-Adwani kepada putranya, misalnya, berpesan agar bersikap rendah hati, dermawan, dan menjaga kehormatan diri (Syathri dkk., hlm. 268–269).

Menurut kami, di sinilah letak nilai terpentingnya. Prosa Jahiliah lahir dari kebutuhan nyata: berperang, berdamai, melamar, berdiplomasi, dan menasihati. Gayanya sederhana, jujur, dan tidak berlebihan, maknanya bersumber dari lingkungan badui, dan hikmahnya banyak. Meski begitu, kesederhanaan tidak sama dengan miskin seni. Wasiat seorang ibu kepada putrinya, misalnya, sarat dengan saja', keseimbangan kalimat, antonim, dan permainan kata, sekaligus menunjukkan pemahaman mendalam tentang psikologi manusia.

Sebagai penutup, kami mengajukan satu kesimpulan bahwa prosa Jahiliah bernilai bukan karena banyaknya yang bertahan, melainkan karena apa yang dilakukannya bagi masyarakatnya. Setiap kali kita melihat kata-kata menggerakkan, mendamaikan, atau menasihati sebuah kaum, di situlah prosa itu hidup. Karena itu, sedikitnya teks yang tersisa tidak mengurangi kedudukan prosa dalam sastra Arab, justru mengingatkan kita bahwa sebagian besar kekayaan sastra bangsa ini diwariskan lewat lisan.

Daftar Pustaka

Syathri, Hanafi Mahmud Mushthafa, dan Jabir, Mushthafa Ahmad Abdullah. Tarikh al-Adab al Jahili li Thullab al-Firqah al-Ula.