Konten dari Pengguna

Biaya Produksi: Kunci Mengetahui Keuntungan Usaha

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kholilatul Karimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menghitung biaya produksi, Sumber: web unplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menghitung biaya produksi, Sumber: web unplash

Penulis: Elly Fransiska, Indriani, Nabila Arta Tabina, dan Siti Barokah, Dr. Rita Satria S.Keb., S.E.M.M

Afiliasi: Program Studi Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang

Biaya produksi menjadi kunci untuk mengetahui keuntungan usaha. Yuk, kenali komponen biaya produksi, cara menghitungnya, contoh perhitungan per unit, dan pentingnya pencatatan keuangan bagi pelaku usaha.

Pernah nggak sih, kamu melihat usaha yang ramai pembeli setiap hari, tetapi uang yang tersisa ternyata nggak sebanyak yang dibayangkan? Padahal, dagangannya laku terus dan uang hasil penjualan selalu masuk. Namun, uang tersebut masih harus digunakan untuk membeli bahan baku, membayar pekerja, dan memenuhi kebutuhan usaha lainnya. Nah, di sinilah pentingnya menghitung biaya produksi supaya pemilik usaha bisa mengetahui keuntungan yang sebenarnya didapat.

Mengapa Biaya Produksi Penting bagi Usaha?

Saat menjalankan usaha, menghitung biaya produksi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dalam metode tradisional, ada tiga komponen utama yang perlu dihitung, yaitu biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik (BOP).

  • Biaya bahan langsung mencakup bahan yang digunakan untuk membuat produk, seperti teh dan gula pada usaha minuman.

  • Biaya tenaga kerja langsung merupakan upah pekerja yang terlibat dalam proses pembuatan produk.

  • Sementara itu, BOP mencakup biaya produksi lainnya, seperti listrik, bahan penolong, dan perawatan peralatan. Ketiganya perlu diperhitungkan agar pemilik usaha mengetahui biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk.

Bagaimana Cara Menghitung Biaya Produksi?

Lalu, bagaimana cara menghitung biaya produksi? Dalam metode tradisional, total biaya produksi diperoleh dengan menjumlahkan biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan BOP yang dibebankan kepada produk.

Karena beberapa biaya, seperti listrik, digunakan bersama dalam proses produksi, diperlukan dasar pembagian biaya. Dasarnya bisa berupa jumlah unit yang diproduksi, jam kerja tenaga kerja langsung, jam penggunaan mesin, biaya tenaga kerja langsung, atau biaya bahan langsung. Pemilihan dasar tersebut perlu disesuaikan dengan kegiatan usaha. Misalnya, usaha yang lebih banyak menggunakan mesin dapat mempertimbangkan jam penggunaan mesin sebagai dasar pembagian biaya.

Tarif BOP dihitung dengan membagi perkiraan total BOP dengan perkiraan total dasar alokasi. Setelah tarif diketahui, BOP yang dibebankan kepada produk dihitung dengan mengalikan tarif tersebut dengan jumlah penggunaan dasar alokasi oleh produk.

Setelah itu, biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan BOP dijumlahkan untuk mendapatkan total biaya produksi. Untuk mengetahui biaya produksi per unit, total biaya produksi dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Contoh Perhitungan Biaya Produksi per Unit

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan sebuah usaha menghasilkan 1.500 unit produk dengan rincian biaya berikut:

  • Biaya bahan langsung: Rp150.000

  • Biaya tenaga kerja langsung: Rp300.000

  • BOP yang dibebankan: Rp700.000

Angka tersebut hanya ilustrasi, bukan data dari usaha tertentu. Biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung menghasilkan biaya utama sebesar Rp450.000. Setelah ditambah BOP sebesar Rp700.000, total biaya produksi menjadi Rp1.150.000.

Untuk mengetahui biaya produksi per unit, total biaya tersebut dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.

Biaya produksi per unit = Rp1.150.000 รท 1.500 = Rp766,67 per unit.

Artinya, berdasarkan contoh tersebut, biaya produksi rata-rata untuk menghasilkan satu unit produk adalah sekitar Rp766,67.

Bagaimana Biaya Produksi Membantu Menentukan Harga Jual?

Meskipun sudah mengetahui biaya produksi per unit, pemilik usaha belum bisa langsung menetapkan harga jual hanya berdasarkan angka tersebut. Masih ada biaya lain yang perlu dipertimbangkan, seperti pemasaran, administrasi, serta keuntungan yang ingin diperoleh.

Misalnya, jika harga jual terlalu rendah dibandingkan seluruh biaya yang harus ditanggung, keuntungan bisa menjadi tipis atau bahkan menimbulkan kerugian. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi tanpa mempertimbangkan kondisi pasar juga bisa membuat konsumen memilih produk lain.

Karena itu, biaya produksi perlu dihitung sebelum menentukan harga jual. Dengan mengetahui pengeluaran secara lebih jelas, pemilik usaha dapat menetapkan harga yang lebih terukur dan memperkirakan keuntungan dengan lebih baik.

Apa Keterbatasan Metode Tradisional dalam Menghitung Biaya Produksi?

Metode tradisional membantu pemilik usaha menghitung biaya produksi, tetapi metode ini juga memiliki keterbatasan. Jika dasar pembagian BOP kurang sesuai dengan kegiatan produksi, biaya yang dibebankan pada suatu produk bisa menjadi terlalu besar atau terlalu kecil.

Hal ini perlu diperhatikan terutama oleh usaha yang menghasilkan berbagai jenis produk dengan proses produksi berbeda. Oleh sebab itu, pemilik usaha perlu memilih dasar pembagian biaya yang sesuai agar hasil perhitungannya lebih mencerminkan kegiatan produksi.

Mengapa Pencatatan Keuangan Penting bagi Pelaku Usaha?

Selain menghitung biaya produksi, pelaku usaha juga perlu mencatat keuangan secara teratur. Pencatatan dapat dimulai dari pembelian bahan baku, pembayaran upah, penggunaan listrik dan gas, biaya perawatan peralatan, hingga jumlah produk yang dihasilkan.

Caranya tidak harus rumit, tetapi perlu dilakukan secara konsisten. Keuangan usaha juga sebaiknya dipisahkan dari pengeluaran pribadi agar pemilik usaha lebih mudah memantau kondisi keuangannya.

Bank Indonesia menyediakan SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) untuk membantu pelaku UMKM mencatat transaksi dan menyusun laporan keuangan. Sementara itu, Ikatan Akuntan Indonesia menyediakan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) bagi entitas yang memenuhi kriteria penerapannya.

Dengan pencatatan yang teratur, pemilik usaha dapat mengevaluasi pengeluaran, mengetahui biaya yang paling besar, dan mengambil keputusan usaha berdasarkan informasi keuangan yang lebih jelas.

Kesimpulan

Usaha yang ramai pembeli memang memiliki peluang untuk berkembang, tetapi banyaknya penjualan saja belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan usaha. Pemilik usaha juga perlu mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap produk.

Dengan menghitung biaya produksi dan mencatat pengeluaran secara teratur, pelaku usaha dapat menentukan harga jual dengan lebih matang, mengendalikan biaya, dan mengetahui keuntungan yang sebenarnya diperoleh. Jadi, sebelum merasa untung karena banyak produk terjual, pastikan juga biaya yang dikeluarkan sudah dihitung dengan baik.

Referensi

  1. Bank Indonesia. (2016). Pedoman Umum, Pedoman Teknis, dan Modul Pencatatan Transaksi Keuangan (PTK) untuk Usaha Mikro dan Kecil (UMK). https://www.bi.go.id/id/umkm/penelitian/Pages/Pedoman-Umum-Pedoman-Teknis-dan-Modul-PTK-untuk-UMK.aspx

  2. Bank Indonesia. (n.d.). Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK). https://www.bi.go.id/id/umkm/siapik/Pages/default.aspx

  3. Ikatan Akuntan Indonesia. (n.d.). Tentang SAK EMKM. https://web.iaiglobal.or.id/SAK-IAI/Tentang%20SAK%20EMKM

  4. Rusnaeni, N., Sutiman, Fadli, A. A. Y., & Supriatna, A. (2019). Akuntansi Manajemen. Unpam Press. https://repository.unpam.ac.id/view/creators/Fadli%3D3AAchmad_Agus_Yasin%3D3A%3A%3A.html