Karhutla dan ISPA: Rakyat Menghirup Asap, Kesehatan Menjadi Taruhan

Penulis / Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![gambar memiliki hak cipta [khairunnisa]](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01m579hgge5wepte1cb3q04tyc.jpg)
Karhutla bukan sekadar merusak hutan, tetapi juga mengancam kesehatan, menguras ekonomi keluarga, dan merampas hak masyarakat atas udara bersih.
Api yang membakar hutan tidak berhenti ketika pepohonan menjadi abu. Asapnya terus bergerak, menyelimuti permukiman, memasuki rumah-rumah, dan mengancam kesehatan masyarakat. Bagi warga yang tinggal di sekitar wilayah kebakaran, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga ancaman nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap dan partikel berbahaya di udara.
Setiap kali kebakaran hutan dan lahan terjadi, masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama: udara tercemar, aktivitas terganggu, dan biaya kesehatan berpotensi meningkat. Ironisnya, warga yang tidak terlibat dalam penyebab kebakaran justru harus menanggung sebagian besar dampaknya. Mereka kehilangan kenyamanan, menghadapi risiko penyakit, bahkan terpaksa membatasi kegiatan untuk melindungi diri dan keluarga.
Karhutla Bukan Sekadar Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla merupakan persoalan lingkungan yang dapat menimbulkan dampak luas. Kebakaran bisa dipicu oleh kondisi alam, seperti cuaca panas dan kering, tetapi aktivitas manusia juga berperan, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar. Pada lahan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan sepenuhnya.
Ketika kebakaran meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pepohonan, satwa, dan ekosistem. Asap yang dihasilkan membawa partikel halus serta berbagai zat pencemar yang dapat menurunkan kualitas udara. Partikel berukuran sangat kecil, seperti PM2.5, menjadi perhatian karena dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memperburuk kondisi kesehatan.
Masalahnya, karhutla kerap menimbulkan dampak yang melampaui wilayah kebakaran. Asap dapat terbawa angin menuju daerah lain, sehingga masyarakat yang tinggal jauh dari titik api pun berisiko terdampak. Sekolah, tempat kerja, transportasi, hingga kegiatan ekonomi dapat terganggu ketika kualitas udara memburuk.
Karena itu, karhutla tidak seharusnya dipandang sebagai bencana musiman yang cukup ditangani dengan pemadaman. Persoalan ini membutuhkan pencegahan yang konsisten, pengawasan penggunaan lahan, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara melanggar aturan.
ISPA Menjadi Ancaman Serius bagi Masyarakat
Dampak karhutla terhadap kesehatan bukan sekadar kekhawatiran. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga 27 Agustus 2026, terdapat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif di 63 kabupaten/kota yang terdampak karhutla di tujuh provinsi. Data tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan serius.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga kesulitan bernapas. Paparan asap karhutla juga dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk penyakit paru yang sudah diderita seseorang. Partikel halus dalam asap menjadi salah satu ancaman karena dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.
Organisasi Kesehatan Sedunia +1 Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap. Bagi anak-anak, kualitas udara yang buruk dapat mengganggu kegiatan belajar dan bermain. Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis mungkin membutuhkan pemantauan kesehatan lebih intensif ketika kabut asap semakin pekat.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat sering kali berada dalam posisi sulit. Mereka harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi aktivitas di luar ruangan meningkatkan paparan terhadap udara tercemar. Tidak semua keluarga memiliki akses terhadap alat pelindung yang memadai, ruangan dengan penyaring udara, atau fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak dirasakan secara merata. Masyarakat berpenghasilan rendah berpotensi menghadapi beban lebih berat karena harus membagi pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan. Ketika anggota keluarga jatuh sakit, pendapatan juga dapat berkurang akibat tidak bisa bekerja. Pada akhirnya, kebakaran hutan dapat memperburuk kerentanan ekonomi rumah tangga.
Kerugian Rakyat dan Tanggung Jawab Pemerintah
Kerugian akibat karhutla tidak berhenti pada biaya pengobatan. Ketika kabut asap memburuk, sekolah dapat membatasi kegiatan luar ruangan, pedagang mengalami penurunan pembeli, dan pekerja lapangan menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar. Transportasi serta kegiatan usaha juga dapat terganggu. Artinya, dampak karhutla menjalar dari lingkungan menuju kesehatan, pendidikan, dan perekonomian masyarakat.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengerahkan petugas pemadam ketika api sudah membesar. Pemerintah perlu memperkuat deteksi dini, pengawasan wilayah rawan, pengelolaan lahan gambut, dan penindakan terhadap pelaku pembakaran yang terbukti melanggar hukum. Perusahaan pemegang izin pengelolaan lahan juga harus menjalankan kewajiban pencegahan kebakaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan dengan upaya pemadaman. Informasi kualitas udara perlu disampaikan secara mudah dipahami, layanan kesehatan harus siap menangani peningkatan pasien, dan kelompok rentan perlu mendapat perlindungan khusus. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat mengetahui kapan harus mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan.
Masyarakat dapat turut mengurangi risiko dengan memantau informasi kualitas udara, menggunakan masker yang sesuai ketika harus berada di luar ruangan, serta mengurangi paparan asap sebisa mungkin. Namun, langkah perlindungan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab pihak yang berwenang dalam mencegah dan menangani kebakaran.
Menghentikan Api, Melindungi Hak atas Udara Bersih
Karhutla dan ISPA menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupan manusia. Ketika hutan terbakar, masyarakat bukan hanya kehilangan udara yang bersih, tetapi juga menghadapi ancaman penyakit, gangguan aktivitas, dan beban ekonomi yang tidak kecil.
Keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dipadamkan atau jumlah titik api yang berkurang. Ukuran keberhasilan juga harus mencakup berkurangnya paparan asap, terlindunginya kelompok rentan, dan menurunnya dampak kesehatan yang dialami masyarakat.
Rakyat tidak seharusnya terus menanggung kerugian akibat kebakaran yang sebenarnya dapat dicegah melalui pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang baik. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu menjalankan perannya secara bertanggung jawab. Sebab, hutan yang terjaga bukan hanya warisan alam, melainkan juga bagian penting dari perlindungan kesehatan dan kesejahteraan bersama. Menghentikan karhutla berarti melindungi hak masyarakat untuk hidup sehat, menghirup udara bersih, dan menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi bencana asap.
