Konten dari Pengguna

Menembus Batas Tak Kasat Mata: Sudut Pandang Sains (Dimensi Paralel) [Seri 2/3]

Khusnul Adim

Khusnul Adim

Mahasiswa Teknik elektro Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Khusnul Adim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Dunia Paralel. Sumber: Dokumentasi Pribadi (Generate AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dunia Paralel. Sumber: Dokumentasi Pribadi (Generate AI)

Jejak Universalitas: Membaca Pola Dimensi Ekstra

Konsep jin, makhluk halus, hingga entitas gaib lainya dalam berbagai kebudayaan dunia, eksistensinya masih saja ada hingga sekarang. Mengapa narasi tentang keberadaan penghuni tak kasatmata ini selalu ada di hampir setiap peradaban manusia?

Pada Seri 1, kita pelajari bagaimana fisika kuantum dan hipotesis multiverse membuka kemungkinan bahwa entitas lain tak perlu melintasi jarak jutaan tahun cahaya untuk tiba di Bumi, melainkan hanya cukup menggeser celah dimensi. Namun, bagaimana dengan entitas yang sejak ribuan tahun lalu diceritakan hidup berdampingan di dekat kita?

Satu hal yang paling menarik menurut saya tentang fenomena ini ialah sifatnya yang universal. Dari mitologi Timur, legenda urban Barat, kisah mistis berbagai daerah di Nusanatara, hingga kepercayaan suku-suku kuno di pedalaman Amazon, semuanya memiliki konsep tentang entitas superanaturalnya masing-masing. Apakah seluruh fenomena ini sekadar imajinasi kolektif, atau sebenarnya kita sedang berbagi ruang fisik yang sama dengan entitas lain pada dimensi berbeda?

Sudut Pandang Sains Modern tentang Konsep Multiverse

Menariknya, dalam kosmologi Islam, gagasan tentang realitas berlapis ini bukanlah hal baru. Filsafat Islam klasik membagi eksistensi alam ke dalam empat tingkatan: Mulk (dunia fisik), Malakut (dimensi gaib/ruhani), Jabarut (dimensi energi/kekuasaan kosmik), dan Lahut (keilahian).

Salah satu buku yang mengkaji landasan ini secara mendalam adalah An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines oleh Prof. Seyyed Hossein Nasr, karya akademis paling fundamental dalam studi kosmologi Islam modern. Dalam buku dijelaskan, bahwa tradisi intelektual Islam memandang alam fisik (Mulk) hanyalah lapisan terluar, sementara dimensi seperti Malakut dan Jabarut berdampingan sebagai bagian dari satu kesatuan kosmos yang lebih luas.

Selain itu, fisikawan teoritis Michio Kaku dalam bukunya Parallel Worlds (2005) menjelaskan bahwa fisika modern mengakui kemungkinan adanya extra dimensions (dimensi tambahan yang terlipat di skala subatomik). Jika diterjemahkan ke dalam fenomena supranatural, entitas yang selama ini kita sebut "gaib" dapat dijelaskan secara spekulatif sebagai bentuk kehidupan yang mendiami koordinat dimensi berbeda. Yang lebih mengejutkan lagi adalah... adanya fenomena terkenal yang bahkan sampai membuat seorang Albert Einstein keheranan, yaitu Quantum Entanglement (Keterikatan Kuantum). Melalui makalah Paradoks EPR bersama Boris Podolsky dan Nathan Rosen, ditemukan bahwa dua partikel subatomik yang saling terikat dapat memengaruhi satu sama lain secara instan tanpa jeda waktu, meski terpisah jarak jutaan tahun cahaya, sebuah fenomena yang dijuluki Einstein sebagai “spooky action at a distance” (aksi seram dari jarak jauh).

Konsep akademis ini secara intuitif sangat sejajar dengan hipotesis fisika modern tentang multiverse dan dimensi ekstra: bahwa realitas fisik yang kita tinggali hanyalah satu spektrum tipis di antara keberadaan dimensi-dimensi lain yang tak terjangkau oleh indra biologis kita.

Secara antropologis, ini adalah petunjuk penting. Fenomena ini bukan sekadar karangan lokal satu kelompok masyarakat. Manusia di berbagai belahan Bumi seolah merespons satu realitas yang sama: ada keberadaan lain yang bisa dirasakan, tetapi tidak selalu bisa ditangkap oleh indra biologis manusia biasa.

Kemiripan Konsep Gelombang Sinyal dan Astral

Untuk memahami bagaimana dua entitas bisa berada di lokasi dan waktu yang sama tanpa saling bersentuhan atau bertabrakan secara fisik, kurang lebih kita bisa menganalogikannya seperti sebuah sinyal frekuensi, gelombang TV atau radio.

Di tempat kita berada saat ini saja ada puluhan jenis gelombang elektromagnetik berseliweran saling tumpang tindih, ada sinyal Wi-Fi, jaringan seluler, siaran radio FM, hingga gelombang televisi. Kita tidak merasakannya, tidak pula melihat bentuknya. Namun, ketika kita menyalakan radio atau televisi misalnya, lalu menyelaraskan pada frekuensi yang tepat, maka saluran akan terhubung lalu wujud yang semula tak kasatmata tersebut dalam bentuk suara dan gambar.

Apakah gelombang itu baru tercipta saat perangkatnya dinyalakan? Tidak. Gelombang tersebut sudah ada di sana sejak awal, hanya saja alat penerima (receiver) tubuh manusia yang sangat terbatasanya — hanya mampu menangkap spektrum cahaya tampak (visible light) dan rentang pendengaran tertentu.

Jika indra biologis manusia punya keterbatasan sebesar itu, bukankah sangat rasional jika ada entitas atau bentuk kehidupan lain di spektrum frekuensi yang berada tepat di luar rentang tangkap indera kita?

Ketika Dua Dimensi Bersinggungan

Ada momen-momen tertentu di mana batas antardimensi diyakini menjadi lebih tipis misalnya saat terjadi fluktuasi medan elektromagnetik lingkungan, atau ketika kesadaran manusia berada dalam gelombang otak tertentu (seperti fase antara tidur dan bangun).

Di titik inilah, "riak" dari dimensi sebelah memancar singkat ke dimensi kita. Tempat-tempat yang kerap dilabeli "angker" oleh masyarakat bisa jadi merupakan titik geografis di mana gesekan atau interaksi frekuensi antardimensi lebih sering terjadi.

Mungkinkah fenomena yang sering dilaporkan sebagai "penampakan", bisikan tanpa wujud, hingga perubahan suhu mendadak, adalah momen terjadinya singgungan sementara (dimensional bleed-through) antar dua frekuensi tersebut?

Namun, Apakah Semua Itu Nyata?

Penjelasan mengenai dimensi paralel dan frekuensi memberi kita gambaran teoretis yang memukau tentang dunia gaib. Menghubungkan fenomena ini dengan fisika membantu kita melihat betapa luasnya kemungkinan realitas di alam semesta.

Namun, sebelum kita menyimpulkan bahwa seluruh pengalaman mistis adalah interaksi antardimensi, sains dan psikologi modern punya sudut pandang lain yang tak kalah mengejutkan.

Apakah otak manusia bisa menciptakan ilusi "kehadiran gaib" saat mengalami kelelahan, stres, atau terpapar gelombang suara tertentu?

Simak kelanjutanya pada Seri 3: Sihir Otak atau Realitas? (Di Balik Fenomena Pengalaman Tak Logis)