Konten dari Pengguna

Menjawab Panggilan yang Terlambat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kinanti Dyah Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pemakaman ibu Rudi Foto oleh Ivan S dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/flora-kuburan-pemakaman-batu-nisan-8963669/
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pemakaman ibu Rudi Foto oleh Ivan S dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/flora-kuburan-pemakaman-batu-nisan-8963669/

Pernahkah kamu merasa waktu berjalan begitu cepat, sehingga kamu lupa kapan terakhir kali mengobrol lama dengan orang tuamu? Perasaan bersalah yang menumpuk ini digambarkan dengan sangat sinematik lewat cerpen "Bu, Aku Gagal" karya Dedy Tri Riyadi. Cerita dibuka langsung pada momen yang paling menguras emosi; Rudi Hartono berdiri di depan makam ibunya yang masih basah, meratapi penyesalan terbesarnya.

cerpen ini menggunakan struktur alur yang sangat rapi. Nurgiyantoro menjelaskan bahwa alur bukan sekadar urutan jam atau hari, melainkan jalinan peristiwa yang memiliki hubungan sebab-akibat yang logis. Hubungan sebab-akibat inilah yang membuat emosi kita sebagai pembaca ikut diaduk-aduk dari awal sampai akhir.

Penulis tidak mengajak kita berjalan lurus dari masa lalu Rudi, melainkan memakai teknik flashback. Kita langsung disuguhi akibatnya dulu, Rudi yang hancur di depan nisan ibunya. Baru setelah itu, cerita membawa kita mundur 25 tahun ke belakang untuk melihat sebabnya, yaitu kerasnya kehidupan urban di Jakarta yang pelan-pelan mengikis kepekaan Rudi.

Di sinilah letak kekuatan alurnya. Konflik batin Rudi tidak muncul tiba-tiba. Ada proses sebab-akibat yang bertahap, dari seorang pegawai biasa yang idealis, naik jabatan jadi supervisor, hingga akhirnya terjebak konflik manajemen kantor. Kesibukan yang luar biasa ini menjadi alasan pembenar bagi Rudi untuk terus menunda pulang.

Puncak dari jalinan sebab-akibat ini digambarkan lewat satu momen krusial yang ditulis oleh penulis:

"Namun, ada satu panggilan yang tak pernah ia jawab, panggilan terakhirnya. Saat itu, ia sedang berusaha memperbaiki situasi di kantor, mencoba menyelamatkan karier dan reputasinya."

Pilihan Rudi untuk mengabaikan satu telepon penting demi menyelamatkan reputasi kerja adalah sebab utama yang mengunci seluruh nasib hidupnya dalam penyesalan abadi. Alur cerita ini terasa sangat organik dan tidak dipaksakan karena pembaca bisa memahami logika berpikir Rudi yang telanjur dibutakan oleh ambisi kerja.

Banyak cerita dengan alur mundur berakhir tragis begitu saja. Namun, cerpen ini ditutup dengan penyelesaian yang memberikan ruang bernapas bagi pembaca. Kehadiran tokoh Bu Ratna di area pemakaman menjadi penutup alur yang manis.

Melalui ucapan Bu Ratna yang menenangkan, alur yang tadinya terasa mencekam oleh rasa bersalah ditutup dengan penerimaan. Rudi akhirnya dipaksa untuk menyadari bahwa alur hidupnya harus terus berjalan ke depan, bukan terjebak meratapi masa lalu yang tidak bisa diubah.

Pada akhirnya, cerpen ini menjadi pengingat yang keras bagi para perantau. Alur hidup kita mungkin saat ini sedang berada di babak sibuk mengejar karier. Namun jangan sampai, babak tersebut berakhir pada titik alur yang sama seperti Rudi, pulang hanya untuk menjawab panggilan yang sudah terlambat di depan gundukan tanah merah.

Jadi, sebelum semuanya terlambat dan kamu harus bicara pada tanah merah yang masih basah, cobalah luangkan waktu untuk mengangkat telepon dari rumah.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Riyadi, Dedy Tri. 2025. Bu, Aku Gagal. Kampung Sawah: Tinemu.com.