Konten dari Pengguna

Ongkos Sebuah Ambisi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kinanti Dyah Palupi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilutrasi orang yang sedang sedih Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-duduk-di-samping-dinding-di-dalam-ruang-kosong-236147/
zoom-in-whitePerbesar
ilutrasi orang yang sedang sedih Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-duduk-di-samping-dinding-di-dalam-ruang-kosong-236147/

Kehilangan orang tua adalah salah satu kehilangan paling besar dalam hidup seseorang. Namun, bagaimana jika kehilangan tersebut dibarengi dengan tumpukan penyesalan yang terlambat?

Gemerlap kota besar selalu punya cara untuk menyihir siapa saja. Bagi para perantau, kota metropolitan sering dikenal sebagai tanah harapan yaitu tempat segala mimpi diubah menjadi materi. Namun, di balik narasi sukses yang diagung-agungkan oleh budaya kerja keras tanpa batas (hustle culture), ada harga mahal yang sering kali harus dibayar tunai yaitu hilangnya kedekatan humanis dengan keluarga, terutama orang tua.

Cerita pendek "Bu, Aku Gagal" karya Dedy Tri Riyadi membawa pembaca menyelami badai emosi yang sangat dekat dengan realitas kehidupan modern. Berdiri terpaku di depan pusara ibunya, Siti Aminah, Rudi tidak hanya menghadapi kenyataan pahit atas kepergian sang ibu, tetapi juga runtutan memori dan pilihan hidup masa lalu yang kini berbalik menghakiminya.

Jika dibedah mnggunakan Teori Pengkajian Fiksi, cerpen ini memiliki alur yang sangat kuat. Nurgiyantoro (2018) menyebutkan bahwa alur yang baik bukan sekadar urutan waktu, melainkan rangkaian peristiwa yang terikat oleh hubungan sebab-akibat yang logis. Menariknya, cerpen ini tidak memakai alur maju yang monoton, melainkan teknik sorot-balik, di mana cerita langsung dibuka pada tahap penyituasian yang muram, yaitu suasana pemakaman di Kota K.

Rudi Hartono adalah perwakilan dari jutaan pemuda daerah. Ia berangkat dengan idealisme tinggi, meyakini bahwa kerja keras adalah kunci tunggal menuju gerbang kesuksesan. Penulis cerpen ini dengan jeli menggambarkan fase awal perjuangan Rudi yang berawal menjadi staf administrasi dengan gaji pas-pasan, lembur hingga larut malam, dan mengabaikan cemoohan rekan kerjanya.

Memasuki tahap peningkatan konflik, Rudi justru terjebak dalam dinamika kerasnya dunia kerja. Dalam pusaran itulah, sebuah kesalahan fatal yang sering dilakukan anak muda modern terjadi yaitu mengorbankan waktu bersama orang tua demi mengejar karier. Setiap kali ibunya menelepon, kalimat penolakan halus selalu menjadi tameng "Ibu, aku sedang sibuk. Nanti kita bicara lagi."

Sebuah kalimat yang awalnya terdengar biasa, berubah menjadi duri yang menusuk batin ketika kesempatan untuk mendengarkan suara itu kembali benar-benar telah tertutup selamanya. Ketika sebuah panggilan terakhir dari sepupunya, Tuti, yang mengabarkan kondisi kritis sang ibu, sengaja ia abaikan demi menyelamatkan reputasinya di kantor. Pilihan fatal ini menjadi sebab utama yang melahirkan akibat berupa penyesalan seumur hidup.

Tokoh Joko, paman Rudi dengan sinis mempertanyakan gunanya uang banyak di Jakarta jika pada akhirnya sang ibu ditelantarkan, menjadi pukulan telak yang meruntuhkan benteng pertahanan mental Rudi.

Namun, cerita tidak dibiarkan berakhir dalam keputusasaan yang gelap. Ketegangan batin Rudi mulai dikendurkan melalui kehadiran Bu Ratna, tetangga setia yang merawat Siti Aminah di masa tua. Bu Ratna menyampaikan pesan terakhir yang membuka mata Rudi, bahwa di mata seorang ibu, seorang anak tidak pernah dinilai dari materi semata. Kasih sayang ibu melampaui ego dan ambisi kosong kota besar.

Waktu adalah komoditas yang paling demokratis sekaligus paling kejam. Ia tidak bisa dibeli kembali, bahkan dengan seluruh uang hasil lembur di kota besar. Rudi Hartono tidak gagal di mata ibunya, tetapi ia gagal di mata waktu.

Waktu tidak dapat diputar kembali, dan kesuksesan materi tidak akan pernah bisa membeli kesempatan yang telah hilang. Sesibuk apa pun kita mengejar mimpi di luar sana, pastikan selalu ada ruang, waktu, dan telinga yang siap mendengar doa dari orang-orang yang melandasi kesuksesan kita sejak awal.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Riyadi, Dedy Tri. 2025. Bu, Aku Gagal. Kampung Sawah: Tinemu.com.