Ekonomi Mikro Islam Menghadapi Lonjaknya Harga Plastik di Indonesia

Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kodam Wijoyo Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi mikro Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan-tantangan yang cukup berat. Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu masalah utama. Dimana konsumsi rumah tangga menjadi penunjang terbesar pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Salah satu tantangannya yaitu melonjaknya harga plastik. Akhir-akhir ini harga plastik sangatlah tinggi dari yang sebelumnya, kenaikan harga plastik ini mencapai 40 hingga 100 persen dari yang biasanya. Dampaknya kini meluas terhadap perekonomian khususnya mikro pada UMKM dan konsumen yang mempengaruhi harga makanan/minuman terutama yang dikonsumsi sehari-hari.
Secara ekonomi mikro, plastik merupakan salah satu faktor produksi penunjang dalam kegiatan usaha kecil. Ketika harga plastik meningkat, biaya operasional pedagang ikut naik. Akibatnya, pelaku usaha memiliki beberapa pilihan: menaikkan harga jual, mengurangi kualitas pelayanan, atau menekan jumlah produksi.
Dalam hukum permintaan dan penawaran, kenaikan biaya produksi menyebabkan kurva penawaran bergeser ke kiri sehingga harga barang menjadi lebih tinggi dan jumlah barang yang ditawarkan menurun. Kondisi ini paling berat dirasakan UMKM karena modal mereka terbatas dan daya tahan usaha relatif lemah. Konsumen juga merasakan dampaknya karena, dalam kegiatan konsumsi rumah tangga tidak lepas dari kondisi seperti naiknya harga plastik seperti ini.
Penyebab Harga Plastik Naik
Dikutip dari detik.com, Kenaikan harga plastik dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz. Hal ini membuat semua harga produk yang memakai plastik juga naik, termasuk makanan/minuman sehari-hari yang biasa kita beli.
Kenaikan harga plastik bukan sekadar isu industri, tetapi berdampak luas hingga ke UMKM hingga ke konsumen. Selama faktor global seperti harga energi dan distribusi bahan baku belum stabil, tekanan harga masih akan terasa. Karena itu, memahami penyebab dan dampaknya menjadi penting agar pelaku usaha bisa lebih siap menghadapi perubahan ini.
Fenomena ini tidak hanya dipandang sebagai permasalahan kenaikan biaya produksi, tetapi juga berkaitan dengan keadilan distribusi, etika pasar, kemaslahatan masyarakat, dan tanggung jawab moral pelaku ekonomi. Dalam perspektif Ekonomi Islam, pasar pada dasarnya diperbolehkan berjalan secara bebas selama tidak terjadi kedzaliman, penimbunan, monopoli, manipulasi harga, maupun eksploitasi terhadap konsumen. Jika kenaikan harga plastik disebabkan oleh kelangkaan alamiah seperti naiknya harga bahan baku minyak dunia, maka hal tersebut masih dianggap mekanisme pasar yang wajar. Namun apabila kenaikan dipicu oleh penimbunan stok, kartel industri, atau permainan distribusi, maka tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip keadilan dalam Islam.
Pandangan Konsumsi Islam
Islam menekankan prinsip al-adl (keadilan) dan maslahah (kemanfaatan umum). Ketika harga plastik melonjak dan membebani pedagang kecil atau konsumen, negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas pasar dan melindungi kelompok ekonomi lemah. Pemerintah dapat melakukan pengawasan distribusi, mencegah monopoli, memberikan subsidi bahan alternatif ramah lingkungan, atau membantu UMKM melalui insentif produksi.
Melalui konsep konsumsi Islami, Islam mengajarkan prinsip tidak berlebihan israf dan tidak boros tabzir. Kenaikan harga plastik sebenarnya dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai dan beralih pada kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Dampak Kenaikan Harga Plastik
Dikutip dari ibs.id, bahwa terdapat 3 dampak adanya kenaikan harga plastik, diantaranya sebagai berikut :
1. Dampak bagi UMKM
Dalam UMKM dampaknya paling berpengaruh dimana usaha makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan plastik harus menghadapi kenaikan biaya operasional. Margin keuntungan pun ikut tertekan, sehingga sebagian pelaku usaha terpaksa menaikkan harga atau mengurangi kualitas kemasan.
2. Dampak bagi Industri
Tekanan datang dari biaya untuk produksi yang meningkat. Plastik yang digunakan sebagai bahan baku maupun unsur pendukung membuat perusahaan harus lebih efisien. Beberapa memilih menekan penggunaan bahan, mencari alternatif material, atau menyesuaikan kapasitas produksi agar tetap stabil.
3. Dampak bagi konsumen
Sementara bagi konsumen, dampaknya secara perlahan mulai terasa. Harga produk di pasaran mulai ikut naik karena biaya kemasan meningkat. Jika kondisi ini terus berlanjut, daya beli masyarakat bisa jadi ikut turun sehingga ekonomi mikro tidak berjalan dengan lancar.
Penerapan Terhadap Pelaku Konsumsi
Bagi pelaku usaha kecil ataupun pelaku konsumsi, Islam mendorong sikap ta’awun (tolong-menolong) dan solidaritas ekonomi. Misalnya melalui pembelian bahan baku secara kolektif, koperasi syariah, atau kerja sama distribusi agar biaya dapat ditekan. Pedagang juga dianjurkan tetap menjaga kejujuran dalam kualitas dan timbangan meskipun biaya produksi meningkat. Jangan sampai kenaikan harga plastik dijadikan alasan untuk mengurangi kualitas secara tersembunyi atau mengambil keuntungan berlebihan.
Dalam perspektif Ekonomi Mikro Islam, kenaikan harga plastik tidak hanya dipahami sebagai masalah biaya produksi, tetapi juga menyangkut moralitas pasar, perlindungan terhadap pelaku usaha kecil, peran negara dalam menjaga keadilan ekonomi, serta dorongan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan sesuai nilai-nilai syariah.
Stand Point
Persoalan kenaikan harga plastik harus dipandang secara menyeluruh, bukan hanya sebagai masalah ekonomi, tetapi juga sebagai isu moral, sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama menjaga stabilitas pasar, melindungi UMKM, serta membangun sistem konsumsi yang adil dan sesuai dengan nilai-nilai syariah.
Adanya hal tersebut, dari pandangan pribadi dalam menghadapi permasalahan kenaikan harga plastik jika dari kita bisa mengendalikannya dengan baik seperti tidak menimbun, monopoli, dan manipulasi harga karena bertentangan dengan prinsip keadilan al-adl dan kemaslahatan maslahah. Perilaku tabzir (pemborosan) dan israf (berlebihan) menjadi tantangan yang dihadapkan tengah tingginya penggunaan plastik sekali pakai.
Kenaikan harga plastik dapat dijadikan momentum untuk mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan sekaligus membangun pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Pengalihan penggunaan kemasan dengan bahan organik seperti daun pisang atau kertas minyak, bisa menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan plastik. Dengan didasarkan pada prinsip-prinsip konsumsi islam, harapannya kegiatan konsumsi bisa menghasilkan kemaslahatan dan kesejahteraan.
